Minggu, 18 Agustus 2013

Hidup Sehat dengan Memanfaatkan Enzim


Judul Buku       : The Miracle of Enzyme: Self-Healing Program
Penulis             : Hiromi Shinya, MD
Penerbit            : Council Oak Books, Tulsa, Oklahoma
Tahun terbit      : 2007
Tebal buku        : 310 halaman
Bagi para gastroenterologist dan ahli bedah di seluruh dunia, Hiromi Shinya, MD tidak perlu dikenalkan lagi. Sebagai pelopor pembedahan menggunakan kolonoskop, Dr. Shinya dikenal luas sebagai salah seorang dokter terkemuka di dunia. Dia adalah orang pertama di dunia yang berhasil menyingkirkan polip dengan menggunakan kolonoskop tanpa harus melakukan irisan pada dinding perut.

Dia tumbuh dewasa di Jepang tepat setelah perang usai. Pada tahun 1963, dia pindah ke Amerika Serikat untuk memulai program pelatihan khusus bedah di Beth Israel Medical Center, New York. Karena saat itu dia menjadi satu-satunya dokter yang memiliki keahlian menggunakan kolonoskop, dia tiba-tiba banyak dibutuhkan. Ketika itu, lebih dari 10 juta orang di Amerika Serikat memerlukan pemeriksaan usus besar dan banyak di antaranya yang memiliki polip yang harus disingkirkan. Dari pengalamannya dalam memeriksa sistem pencernaan itulah dia mempelajari bahwa jika sistem pencernaan seseorang bersih, tubuh orang itu dapat melawan penyakit jenis apapun dengan mudah.

Dr. Shinya pun melakukan penelitian dengan meminta pasien-pasiennya untuk menjawab kuesioner mengenai sejarah kebiasaan makan dan aspek-aspek lain dalam gaya hidup mereka. Berkat hasil kuesioner tersebut, dia menemukan adanya keterkaitan yang erat antara kesehatan dan cara-cara tertentu untuk makan dan hidup. Data tersebut menunjukkan bahwa seluruh tubuh dan fungsinya dapat dipahami dengan menggunakan sebuah kunci. Kunci tersebut adalah kunci menuju hidup panjang dan sehat, yaitu enzim.   

Karakteristik enzim dijelaskan secara garis besar dalam buku ini. Pada intinya, dia mengemukakan teori mengenai keyakinannya akan adanya enzim pangkal, yaitu sejenis enzim prototipe yang belum terspesialisasi. Selama belum diubah menjadi suatu enzim spesifik sebagai reaksi terhadap suatu kebutuhan tertentu, enzim pangkal ini memiliki potensi untuk berubah menjadi enzim jenis apapun. Kesehatan kita bergantung pada sebaik apa kita menghemat enzim pangkal dalam tubuh kita.  

Selama ini, kita seringkali dihadapkan pada banyak mitos tentang makanan seperti: 
  1. Konsumsilah yogurt setiap hari untuk meningkatkan fungsi pencernaan.
  2. Minumlah susu setiap hari untuk menghindari kekurangan kalsium.
  3. Berusahalah untuk mempertahankan asupan tinggi protein.
  4. Dapatkan cairan dengan meminum teh hijau jepang yang kaya antioksidan.
  5. dan banyak lagi.

Melalui buku ini, Dr. Shinya banyak memaparkan fakta mengejutkan mengenai makanan-makanan yang sering kita konsumsi. Susu—yang dipercaya dapat mencegah osteoporosis karena mengandung kalsium—justru malah menjadi penyebab osteoporosis itu sendiri. Sementara orang yang sering mengonsumsi teh hijau justru mempunyai karakteristik lambung yang buruk dan rentan terkena penyakit yang disebut gastritis antropi, yang merupakan awal kanker lambung. Selain itu, masih banyak lagi hal mengejutkan yang bisa kita temui tentang makanan di buku ini, bahwa yang sebenarnya kita anggap sehat ternyata malah berbahaya bagi tubuh kita.

Oleh karena itu, Dr. Shinya tak lupa menuliskan kebiasaan-kebiasaannya dalam makan serta beraktivitas. Kebiasaan ini dia percaya dapat menghemat enzim pangkal dan menormakan sistem pencernaan. Karena kebiasaan ini, dia tidak pernah lagi tidak masuk kerja karena alasan sakit. Kebiasaan ini dia sarankan pula kepada pasiennya. Sebanyak 0% dari pasiennya tersebut tidak kembali kepadanya dengan keluhan yang sama.

Buku ini dikemas dengan cukup runtut. Dimulai dari pengalamannya, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan enzim, penjelasan lebih dalam mengenai makanan, serta diakhiri dengan tips-tips bagaimana cara kita dalam mengonsumsi makanan serta jenis makanan yang baik untuk kita konsumsi. Namun, bagi Anda yang tidak terbiasa dengan istilah sains, buku ini akan sedikit lebih rumit untuk Anda baca karena ada beberapa bagian buku ini yang membicarakan Biologi dan Kimia.

Secara keseluruhan, buku ini baik untuk dibaca oleh berbagai kalangan, terutama bagi yang ingin menerapkan kebiasaan yang sehat. Tapi, perlu diperhatikan pula kalau buku ini hanya ditujukan sebagai referensi, bukan sebagai pedoman medis.


Makan dan minum dengan bijaksana, dan hidup gembira hari ini dan esok hari.
– Hiromi Shinya, MD

Komentar Audi


Aku termasuk orang yang jarang ngomongin masalah kesehatan. Bagi aku, topik mengenai kesehatan itu nantinya akan merambat ke persoalan-persoalan sains yang menurutku rumit. Karena ketidaksukaan aku dalam bidang ini, nggak pernah terbersit dalam pikiranku untuk jadi seseorang yang bekerja pada bidang kesehatan seperti dokter, bidan, maupun apoteker.

Pada suatu hari, Abah mengajukan buku The Miracle of Enzyme ini padaku. Aku melihat bukunya tanpa minat. Buku itu didominasi warna putih, tulisan-tulisan, serta gambar seorang kakek-kakek berkacamata yang tersenyum berseri-seri layaknya seorang resepsionis yang menyambut kedatangan para tamu.

Wassap bro??

Dari cover buku aja aku sudah nggak minat. Melihat koleksi bukuku, jarang banget aku nemuin ada buku yang dominan warna putih. Buku koleksiku didominasi warna coklat kemerahan serta warna-warna gelap. Soalnya sebagian besar buku yang aku beli adalah novel yang ada embel-embel Illuminati, Freemasons, Novus Ordo Seclorum, The New World Order, konspirasi, kode, dan hal-hal intimidatif lainnya, yang mengakibatkan bukuku agak sepi peminjam selama di asrama.

Ngeliat tema bukunya apalagi. Aku udah ngebayangin istilah-istilah rumit yang bakalan dijelaskan dalam buku itu. Makanya, buku itu nganggur dua hari di atas meja belajar.

Nah, karena World Badminton Championship udah selesai, pulsa modem lagi nggak ada, masih belum punya inspirasi buat menulis, serta didesak oleh Abah buat baca buku itu, akhirnya mau nggak mau buku itu pun beranjak dari meja belajar dan terpampang nyata di hadapanku. Aku baca buku itu pelan-pelan dan hasilnya….

Yap. Bagi aku yang senang fakta-fakta menarik, buku ini cukup lumayan. Sebenarnya aku nggak terlalu tertarik pada bagian makan-harus-gimana atau sebaiknya-makan-apa. Tapi aku lebih ke fakta mengenai makanan-makanan yang selama ini kita anggap sehat ternyata membahagiakan bagi tubuh kita. Mendadak aku langsung khusyu mendalami penjelasan soal reaksi oksidasi, zat-zat kimia, maupun sistem pencernaan yang dijelaskan di sana. Fakta ini langsung mengingatkan aku pada novel Rizki Ridyasmara yang berjudul “Codex” yang merupakan novel mengenai konspirasi masalah makanan dan vaksin penyakit. Aku langsung berpendapat, “Wah, berarti memutarbalikkan fakta mengenai makanan ini menjadi bagian dari rencana depopulasi!”

Lupakan soal konspirasi dan antek-anteknya. Aku langsung fokus lagi pada kelanjutan isi buku. Apa yang disarankan oleh Dr. Shinya sedikit-sedikit pengen aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari, mengingat penyakit yang biasanya menyerang orang tua (seperti stroke atau kanker) sekarang sudah tidak kenal umur lagi.

Dari buku ini pulalah aku langsung disadarkan untuk membuka wawasanku lebih jauh lagi. Apalagi sekarang aku sudah harus menjalani hidup yang sebenarnya. Jadi, sebaiknya pengetahuan kita tidak terbatas pada apa yang kita sukai, tetapi kita juga harus banyak mengetahui hal-hal yang bisa kita manfaatkan. Oke?


Salam sehat buat semua~!  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...