Kamis, 21 November 2013

Kabar dari Cambridge

Siapa, sih, manusia di dunia ini yang nggak kenal dengan Amerika Serikat atau kerennya disebut USA? Negara adidaya ini selain terkenal dengan dolar dan Hollywood-nya juga menjadi salah satu tempat yang paling diimpi-impikan para lulusan SMA di seluruh dunia untuk menimba ilmu. Nama-nama seperti Harvard University, MIT, maupun Colombia University sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita, terutama bagi para pemburu beasiswa.

Kali ini, aku pengen ngajak kalian untuk bersilaturahmi dengan salah satu temanku yang sukses ngebikin envy satu sekolah gara-gara keberhasilannya masuk salah satu universitas top dunia. Namanya kayaknya udah sering banget aku sebutin di sini sampai-sampai si empunya nama aja pas nge-googling nama dia sendiri malah dipertemukan dengan blog aku. Yup, Rhogerry Deshycka, si Anak Baliho!

Btw, kenapa aku bisa nyebutin bocah asli Padang ini sebagai Anak Baliho?

Soalnya wajahnya eksis banget di baliho depan sekolah. Jadi, setiap kalian lewat depan sekolahku, kalian nggak bakalan nggak ngeliat mukanya.

Jegejeng~~

Kok dia bisa eksis di baliho?

Ini nih penyebabnya….

Setelah berita ini tersebar, timeline Twitter langsung heboh dengan ucapan “Selamat”, “Congrats”, retweet-an berita soal anak ini, serta tak lupa pula pernyataan “Aku bangga jadi alumni Pribadi Bandung”. Ya wajarlah. Siapa sih yang ngga bangga punya teman yang bisa ngebanggain Indonesia? Tahun sebelumnya, dia juga meraih medali perak di ajang yang sama.  

Gerry sama Galih. Pas baru pulang dari Swiss. Medalinya masih seger. 

Adek-adek kelas yang ngejemput Gerry di bandara

Dengan prestasi yang keren seperti itu, maka cocok aja kalo Gerry bisa keterima di Massachusetts Institute of Technology atau biasa disingkat jadi MIT yang terletak di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Berdasarkan ranking QS, MIT ini universitas terbaik di dunia, lho!

Sumber: www.topuniversities.com

Beruntungnya lagi, nih, dia bisa melanglangbuana ke Amrik berkat keberhasilannya meraih beasiswa dari MIT dan Dikti. Beasiswa full. Asrama tersedia, uang saku tersedia juga. Jadi, dia tinggal kuliah doang di sana.

Lantas, bagaimanakah kehidupan sehari-harinya di negara Obama ini?

Pada suatu hari, Gerry lagi pusing-pusingnya dengan PR Kalkulus. Untuk mengalihkan rasa pusingnya, dia ngechat random anak-anak yang lagi OL di Facebook. Naaah, kebetulan aku lagi OL saat itu juga dan aku pun jadi salah seorang yang ketiban curhatannya.  Kesempatan ini aku manfaatkan buat tanya-tanya.  

Di balik rasa pusingnya akan kalkulus, ternyata dia menjalani hari-hari yang lumayan rame di sana. Rame party, rame ngegame, rame di kelas, pokoknya serba rame, lah! Dia bertemu dengan bermacam-macam suku bangsa di dunia. Tak hanya orang asli US saja, tetapi juga orang Tunisia, Pakistan, Mesir, Amerika Latin, Inggris, Swiss, China, Korsel, Filipina, Jepang, dan lain-lain, meskipun jumlah mahasiswa asing ini tidak lebih dari 200 orang. Sedangkan orang Indonesia sendiri hanya sedikit yang ada di sana. Gerry aja satu-satunya orang Indonesia yang di MIT tahun ini. Di atasnya lagi ada sekitar 8 orang yang tercatat sebagai mahasiswa aktif. Waah, dikit yaaa.

Yang aku salut, nih, meski rumahnya dengan tempatnya menuntut ilmu berjarak luar biasa, tetapi dia mengaku (ngakunya loh ya) nggak pernah homesick. Soalnya sering nge-skype. Yang dia keluhkan malah capek dan pelajaran di MIT yang lebih susah. Di tahun pertama, dia masih belum memilih jurusan.  Pelajaran yang dia pelajari pun jenis-jenis kalkulus, kimia, fisika, dan teman-temannya. Tahun berikutnya  baru bisa milih jurusan. Rencananya, dia bakal ngambil Bioengineering.

Di tengah kesibukannya, dia tak lupa menyempatkan diri untuk beribadah. Apalagi di MIT ada disediakan mushola di tengah kampus. Ibadahnya pun lebih mudah. Aku juga sempat menanyakan soal kegiatannya ketika Idul Adha di Amerika. Katanya, “Rame, kok. Aku sholat iednya di Boston, tepatnya di sebuah GOR gitu. Trus pas Qurban kami barbeque-an di MIT. Soalnya di sini ada Muslim Student Association. Jadi Muslim di sini fine-fine aja, kok! Lifestyle-nya juga biasa aja, nggak selebay di film.”

Gerry sama temannya orang Kazakhstan

Pas jalan ke Harvard


Ini pas lagi di Swiss, sih. Tapi sumpah yang ini cakep, hehehehe

Ckckck, mendengar ceritanya yang seperti ini, rasanya enak banget, ya, di Amerika. Namun, kita selalu berharap agar sobat kita yang satu ini, serta sobat-sobat lain yang sejenis, tetep tidak melupakan tanah air dan akan kembali buat membangun Indonesia. Kita juga harus menghargai mereka, nih. Jangan sampai sumber daya manusia secemerlang ini disia-siakan. Doakan yang terbaik buat Indonesia!  

Yang mau kuliah di Amerika juga nggak usah ragu-ragu buat tanya ke Gerry, ya! 

Ucapan terima kasih:
Rhogerry Deshycka, serta teman-teman FB-nya yang udah ngetag foto Gerry
Pak Dzikri Rahmat Romadhon, atas foto-fotonya 

P.S. 
pasti habis ini aku langsung dibilang "stalker" lagi sama yang bersangkutan -___-                               

3 komentar:

  1. Subhanallah, ternyata ada juga (memang banyak sih) pelajar yang prestasinya menakjubkan gitu!

    BalasHapus
  2. Audia kada umpat kah ke amrik? hehe.. Mun km tulak ulun umpat lah ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. kada mon ae hehe, kaina ae nah amun baisi duit bajalanan ja

      Hapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.