Minggu, 09 Maret 2014

What I’ve Got from English Conversation Club

Menguasai bahasa Inggris zaman sekarang ini udah kudu banget. Apalagi dunia manusia sudah banyak yang beralih ke dunia maya. Kalau tidak bisa berbahasa Inggris, kamu bakalan nggak update. Bukan bermaksud buat mendewakan bahasa Inggris, ya. Tapi memang begitulah yang terjadi. Bayangin aja, seandainya kamu nggak bisa bahasa Inggris, gimana bisa kamu ngakak kalau nonton Running Man yang subtitle-nya bahasa Inggris? Atau gimana bisa kamu menghayati ocehannya komentator EPL yang ngomongnya British banget? Apapun kepentingannya, pokoknya zaman sekarang kita memang dituntut untuk bisa bahasa Inggris.

Atas dasar inilah aku mengikuti English Conversation Club yang diadakan di American Corner Perpustakaan Kampus B Unair pada hari Jumat, 17 Januari 2014. Aku sadar kalau kemampuan bahasa Inggris aku menurun banget sejak setelah UN. Bahkan, menurutku kemampuan bahasa Inggrisku yang sekarang lebih jelek daripada waktu aku mengikuti Summer School pas kelas 10 atau pas lagi zaman-zaman ikut Story Telling. Selain karena alasan itu, aku mengikuti kegiatan ini karena gratis dan menyediakan snack (anak kos banget). Lagian waktu itu aku lagi senggang banget. Aku juga pengen ngebuang kesal gara-gara ada UAS yang ditunda. Jadi, terpilihlah kegiatan ini untuk dihadiri.


Kegiatan ini cukup sederhana. Para peserta disuruh duduk melingkar dengan dua orang native di tengah. Mereka adalah Mr. Jeremy Bill dan Ms. Jennifer Kim. Selama melakukan conversation, kami diperbolehkan untuk menanyakan apa aja. Apa aja! Yang penting kami bicara. Namaya aja Conversation Club~

Ada beberapa pertanyaan yang berkonten serius. Misalnya mengenai perbedaan pendidikan yang ada di Indonesia dengan Amerika. Ms. Jennifer berkomentar bahwa pelajaran di Indonesia terlalu banyak. Dia bahkan mengaku cukup kaget waktu melihat subjek serta jam belajar anak Indonesia yang cukup padat.

Ada pula yang menanyakan soal pelajaran agama. Kalau di tempat kita, kan, agama itu spesifik. Yang beragama Islam belajar agama Islam, yang beragama Kristen belajar agama Kristen, dan seterusnya. Namun, di US, kata Mr. Jeremy, agama itu dipelajari secara keseluruhan. Jadi, kamu bisa tahu hal-hal mengenai agama lain. Nah, kalau penafsiran aku, ya, mungkin pelajaran agama di sini hanya sekadar pengetahuan umum, bukan ajarannya. Gerry juga pernah cerita begitu.

Kemudian, Ms. Jennifer menambahkan kalau dia kagum dengan kehidupan beragama orang Indonesia. Kebiasaan kita yang biasa memulai dan mengakhiri sesuatu dengan berdoa ternyata sangat menarik baginya. Begitupula dengan umat beragama yang bisa saling hidup berdampingan di negara ini. “Indonesia is so plural!” tegasnya.
  
Mereka berdua juga ditanya mengenai alasan ke Indonesia. Intinya, mereka ingin menjelajahi belahan dunia lain. Terlepas dari isu terorisme, mereka tidak ingin hanya menelan isu. Mereka ingin merasakan langsung bagaimana hidup di Indonesia.

“And finally I’m so happy to be here.” kata Mr. Jeremy.

Ada pula sebuah pertanyaan menarik dari seorang cewek, “Before coming to Indonesia, did you already know what Indonesia is? Because most of US people only know Bali without knowing Indonesia and they also think that Bali is a country…”   

Secara refleks, Mr. Jeremy dan Ms. Jennifer langsung menunjuk-nunjuk cewek itu sambil bilang, “Yes, yes, yes, that’s absolutely right!”

Cewek itu juga agak nyindir soal rendahnya pengetahuan geografi orang Amerika sampai nggak tahu Indonesia. Mendengar pernyataan itu, Mr. Jeremy senyum-senyum dan bilang, “I don’t know… but, maybe… you’re right. When I studied geography, the teacher mostly introduce us the countries in America, South America, and also Europe. If Asian country, most of us know China, Japan, Korea, and India.”

Lalu, Eva, penanya paling aktif di klub ini, nanya ke Ms. Jennifer, “Miss, do you have Chinese or Korean blood?”

Wajar dia nanya gitu, soalnya Ms. Jennifer wajahnya oriental banget. Ms. Jennifer pun menjawab kalau dia memiliki keturunan Korea. Dia hanya menikmati Korea sebentar saja pada masa kecilnya, kemudian dia pindah ke Amerika dan jadi warga negara Amerika. Si Eva pun nanya lagi, “How is Kpop there? Is it famous like in Indonesia?” (Kpopers detected!)

Ms. Jennifer menjawab kalau di Amerika ternyata Kpop nggak begitu dikenal. Kenalnya waktu pas booming Gangnam Style doang. Trus Mr. Jeremy menambahkan kalau terkenal tidaknya Kpop itu tergantung di mana kamu berada. Kalau kamu berada di tempat dengan ras yang beragam atau didominasi oleh kulit kuning, mungkin kamu bakal banyak ketemu teman sesama penyuka Kpop.

Pada akhirnya, Ms. Jennifer menunjuk seorang peserta. Mas Rian namanya. Jadi, ceritanya Mas Rian ini minta tanda tangan Ms. Jennifer di English Conversation Club sebelumnya. Katanya, tanda tangan tersebut dipakai buat dianalisis. “So, I want to know what you have got from my signature.” kata Ms. Jennifer.

Akhirnya, dengan kalem, mas ini bilang, “You are blablabla because your signature is blablabla. You’re also blablabla because your signature is blablabla.” pokoknya ngejelasinnya lancar banget sampai si Mr. Jeremy ikut-ikutan pengen minta dianalisis.

Cerita Lainnya

Karena kemampuan analisis Mas Rian yang memukau tadi, akhirnya mas ini kebanjiran job buat analisis tanda tangan. Mumpung analisis tanda tangan ini gratis, aku juga ikut-ikutan pengen dianalisis. Tapi dapatnya yang terakhir-terakhir, sih, soalnya antriannya cukup panjang.

Tanda tanganku kurang lebih seperti ini

Sambil mengunyah roti dengan santainya, tanda tangan yang sudah aku pakai sejak SMP ini pun  diperhatikan dulu. Kemudian dia nanya, “Ini tanda tangannya ditarik ke belakang, ya?”

Aku mengiyakan.

“Hmm… kamu susah move on…”

JENG JENG JENG JENG JENG! Apa yang diucapkan oleh Mas Rian memang ada benarnya. Ada. FYI, salah satunya saat Van Persie pindah ke MU. Sampai sekarang masih nggak terima. 

“Hmm…” masnya ngunyah roti dulu. “Trus ini tanda tangannya cukup gede. Turun naiknya sangat drastis. Ini biasanya menggambarkan suasana hati. Berarti, suasana hati kamu sering turun naik. Moody…”

JENG JENG JENG JENG JENG! Bener lagi!

“Trus ini juga banyak sudut yang dibentuk di tanda tangan kamu. Tuh, satu, dua, tiga, empat… semakin banyak sudut, semakin banyak pikiran…”

Lalu, Mas Rian langsung liat aku dan senyum serta mengucapkan kalimat bernada komersial banget, “Santai aja, lah~”

Aku ketawa, tapi ketawa agak ditahan gara-gara tebakannya yang cukup mengiris ulu hati. Udah, itu mah 98% persen bener. Kayaknya aku harus ganti tanda tangan, deh, biar lebih mudah move on, nggak terlalu moody, dan nggak banyak pikiran. Yeah!

O, ya, sekilas soal Mas Rian ini, dia udah semester 6 di jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Unair. Setelah lulus dari Biologi, dia ingin merambah dunia kepolisian dan forensik dengan minatnya yang cukup besar terhadap dunia analisis.

Lalu, kenapa nggak masuk Kriminologi aja?

“Soalnya… ntar gelar sarjananya S.Krim, hehehe.”

Yap, kesimpulannya, English Conversation Club memberi wawasan baru, baik mengenai US dan isinya serta ilmu analisis tanda tangan. Sampai jumpa di post berikutnya~

Suasana English Conversation Club (@dekyuuL)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...