Rabu, 30 Desember 2015

Throwback 2015: “Kepalaku Kini Ada Dua!”

Tak terasa kini kita sudah berada di penghujung tahun 2015. Rasanya baru aja kemaren aku berdiri bengong ngejagain wall of fame di acara tahun baruan kampusku. Ahsudahlah.

Seperti perkiraanku di awal tahun kemaren, up and down pasti ada. Ada saat aku stress banget, tapi tekanan itu kemudian digantikan dengan having fun di kemudian hari. Kronologis hari-hari yang aku jalani sepanjang tahun ini ada di diary. Lengkap dengan baper-bapernya. Tapi nggak bakalan aku tumpahin semua di sini, lah. Gila aja -___-

Yang paling perlu digarisbawahi di tahun ini adalah umurku sudah genap 20 tahun. Biarpun aku bilang bahwa I’m forever 17 deep inside my heart. Tetapi, tentu saja aku nggak bisa melawan umur biologis yang semakin bertambah setiap harinya. Jujur, perpindahan umur ini sebenarnya agak ngebikin aku sedih juga. Apalagi kalau aku pikir-pikir lagi, kok di umur belasan aku kayak nggak ngapa-ngapain, sih? Ini sumber baper paling utama. Karena itulah aku bertekad pengen mewujudkan berbagai impian masa kecilku di umur segini.

Selain berkepala dua, ada beberapa hal lagi yang aku alami di sepanjang 2015:

Selasa, 29 Desember 2015

Mencicipi PAHIT-nya Ketupat Kandangan

Tugu Ketupat di Kandangan. Lapar, nggak? (Dok pribadi)


Pernahkah kamu merasa lapar ketika melihat tugu suatu kota?

Jika belum pernah, kamu harus mencoba untuk berkunjung ke kota Kandangan. Ketika kamu memasuki kota ini, kamu akan disambut oleh dua buah ketupat raksasa berwarna hijau yang berdiri tegak di atas bundaran berwarna biru. Bisa jadi setelah melihat tugu tersebut kamu akan langsung mengimajinasikan sepiring ketupat tersaji dengan cantik di hadapanmu. Kemudian, timbul rasa lapar, hehehe.

Btw, Kandangan itu di mana, sih?

Selasa, 22 Desember 2015

Mencari Makna dalam Perjalanan bersama Agustinus Wibowo dan Fitri Mayang Sari




Travelling adalah sebuah hobi kekinian. Iya, nggak? Apalagi setelah sosial media menyerang. Orang berbondong-bondong untuk mengatakan bahwa dirinya travelling untuk memiliki bahan—entah status atau foto—untuk dikabarkan ke masyarakat dunia maya. Yang lagi kekinian adalah melakukan travelling entah ke mana, kemudian menulis sesuatu di kertas kayak “I love you from Mount Everest” dan sejenisnya, trus difoto dan dikirim ke orang tercinta. Kalau yang lebih kekinian lagi adalah foto-foto di taman bunga seakan dia adalah bagian dari bunga tersebut sampai bunganya terinjak nggak karuan. Hehehe. Yang ngikutin viral sosmed pasti tau, lah, ya.

Travelling jenis ini nggak aku temui pada sosok Agustinus Wibowo. Oke, dia travelling dan dia juga foto-foto. Tapi, kalo kalian baca bukunya, kalian pasti bakalan menemukan travelling sebagai sebuah pengembaraan batin yang begitu emosional. Well, actually I haven’t read his books yet. Tapi aku pernah datang ke acara bedah bukunya, dua kali lagi. Selain itu, aku senang banget baca-baca cerita perjalanan dan opini randomnya di www.agustinuswibowo.com.  

Pada hari Selasa, 24 November 2015, aku datang ke sebuah acara yang menurutku sangat berkesan. Di acara ini, Mas Agus juga hadir sebagai pembicara. Padahal aku baru aja menghadiri peluncuran buku barunya Mas Agus, Ground Zero, yang merupakan versi Bahasa Inggris dari buku Titik Nol, di Kinokuniya Plaza Senayan pada hari Jumat, 20 November 2015.

Acara ini merupakan acara yang diselenggarakan oleh Mezzanine Club (MC) dengan tema “The Adventure of A Lifetime”. Selain Mas Agus, ada juga Mbak Fitri Mayang Sari, founder dari Orang Jakarta yang telah melakukan travelling ke beberapa negara di Eropa.

Mengapa acara ini berkesan?

Minggu, 20 Desember 2015

Introducing My New Hobby: Event Hunting



Menghadiri sebuah acara di Komunitas Salihara
Sepertinya aku harus berterima kasih kepada kampus yang udah ngasih banyak banget waktu nganggur. Berkat waktu luang itu, aku jadi memiliki hobi baru: berburu acara.

Kenapa aku sampai berburu acara?

Well, aku adalah orang yang nggak betah buat berlama-lama di satu tempat. Dan aku sering banget merasa hampa jika dalam satu hari aku cuman diam doang di kosan doing nothing at all. Untungnya kosan punya wifi, hehehe. Yap, meskipun ada wifi juga, jika ngenet udah nggak tau mau ngapain ya udah skak mat. Trus di sela-sela kebosanan itu tiba-tiba terlintas sebuah ide iseng, “Duh, nggak betah banget di kosan. Pengen jalan. Nyari acara, ah...”

Pada awalnya, aku cari pakai Google. Keyword-nya: event jakarta tanggal ini ini ini. Daaaan, jegejeng, dipertemukanlah aku dengan sebuah event kece. Deket lagi dengan tempatku. Langsung, deh, besoknya caw ke tempat.

Sabtu, 19 Desember 2015

"Wonder If I Gave An Oreo...."



Kesel, nggak, sih, kalo nonton TV nasional kita? Dikit-dikit iklan, dikit-dikit iklan. Trus pas programnya berlangsung pun kadang-kadang diselipin iklan juga. Anaknya guru fisikaku waktu SMA sampai ikutan ngomen, lho (FYI, dia orang Turki). Dia bilang, “Abla (kakak perempuan–red), kok di TV Indonesia banyak sekali iklannya, ya? Di Turki iklannya nggak sebanyak ini...” dan aku cuman bisa nyengir.

Bahkan, iklan di Indonesia sampai dilucu-lucuin sama Mbak Sacha Stevenson dalam video berikut ini....



Tapi, di sela-sela kekesalan kalian, pernah nggak kalian merhatiin iklan-iklan yang ada di TV kita? Siapa sangka, di balik iklan yang cuman berdurasi beberapa detik itu, yang kadang isinya itu apaan banget, terdapat otak-otak yang terperas habis buat mikir. Sepengetahuanku, nih, iklan itu terbentuk atas banyak pertimbangan. Seperti:
  • Gimana caranya agar dalam durasi yang sebegitu singkatnya pesan dari iklan bisa sampai pada penonton?
  • Gimana caranya agar iklannya ngebekas dalam pikiran penonton?
  • Gimana caranya agar penonton langsung ngiler sama produk yang ditampilkan dalam iklan?
  • Slogan atau jargon apa yang cocok untuk iklan ini agar dapat merepresentasikan si brand?
  • Iklan ini perlu jingle, nggak? Kalo perlu, jingle seperti apa yang bakal terngiang-ngiang di telinga penonton?
  • Siapa yang sekiranya bisa membintangi iklan ini agar penonton yakin dengan kualitas brand tersebut?

Sampai sini, masih menganggap iklan itu sepele?

Rabu, 09 Desember 2015

5 Keuntungan Menggunakan Twitter Versi Saya


Tren sosial media mengalami perubahan seiring dengan berubahnya zaman. Di saat tulisan ini diketik, sosmed yang saat ini sangat digandrungi muda-mudi adalah Instagram dan Path.  Kalo aku ngambil sampel dari kampusku aja, hampir semua anak kampusku punya Instagram dan sebagian besar selalu diupdate. Begitupula dengan Path. Kalo aku sendiri, sih, sebenarnya punya akun Path. Cuman, karena udah nggak tau mau diapain lagi, akhirnya sosmed ini aku tinggalin deh. Hehehe. Penting ya? Nggak sih. 

Btw, Twitter masih idup nggak, nih?

Minggu, 06 Desember 2015

How To Be A Changemaker Versi Andri Rizki Putra



Kejujuran telah menjadi barang yang sangat mahal saat ini. Rasanya, susah banget menerapkan kejujuran dalam hidup kita. Susah banget juga membuat sistem yang jujur dalam masyarakat kita. Dan, minimal, jujur pada diri sendiri pun kadang tak bisa sepenuhnya. Pokoknya, barang bernama jujur ini sudah sangat langka, layaknya margasatwa yang musti dilindungi banget.

Namun, ketika jujur itu bersuara, entah kenapa kebaikan itu ditentang oleh banyak orang. Begitulah yang pernah dialami oleh Andri Rizki Putra, kakak cakep pendiri Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) ini. Pada hari Senin, 23 November 2015, aku berkesempatan buat ketemu kakak ini dalam acara #KUTalk yang diadakan oleh Kampus Update dengan tema “Be The Young Changemakers”. Demi ketemu dapat ilmu dari kakak ini, aku pergi jauh-jauh dari Bintaro ke kantor Godrej yang terletak di daerah dekat Bandara Halim Perdanakusuma.


Selasa, 17 November 2015

Rahasia Menulis Produktif ala Dua Penulis

Kurniawan Gunadi dan Ahmad Rifai Rifan
Sebagai penulis pemula, banyak banget masalah yang aku hadapi dalam membuat sebuah karya. Salah satunya adalah produktivitas. Sering banget aku memiliki banyak ide, tetapi untuk menuangkannya dalam tulisan, buntunya minta ampun. Kadang-kadang kalo aku melakukan eksplorasi ke toko-toko buku, aku langsung iri berat sama mereka yang namanya udah tercantum di cover. Kok aku nggak bisa sekonsisten mereka, sih?

Selama dua puluh tahun lebih perjalananku mengarungi dunia ini, aku bertemu dengan banyak penulis. Di antara para penulis tersebut, ada dua orang yang lekat dalam pikiranku. 

Selasa, 10 November 2015

Travelling, A Mood Neutralizer

sumber: en.wikipedia.org
Tulisan ini berawal dari artikel ini.

Seperti yang aku jelaskan dalam tulisan Perantauan 4: Gue Tinggal di Tangerang Apa Jakarta, Sih?, kendaraan umum favoritku saat ini adalah KRL. Karena KRL, aku jarang banget nyasar di Jakarta. Dari kendaraan umum ini pula aku bisa menjelajahi berbagai tempat di Jabodetabek. Baik bersama rombongan maupun sendirian. Karena itulah kabar adanya kenaikan tarif KRL cukup bikin aku hopeless. Mungkin ada yang fine-fine aja dengan kenaikan ini. Ya, cuman naik 50% doang kok. Mungkin, ya, mungkin. Tapi bagi anak kos kayak aku nih, yang perlu apa-apa serba murah demi bertahan hidup di kampung orang, kenaikan itu bisa berakibat pada pengeluaran ekstra juga. Duh.

Anyway, setelah berada di Jakarta--maaf, Bintaro--hobi favoritku, yaitu jalan-jalan-menyasarkan-diri-dalam-hiruk-pikuk-kota-sembari-pikiran-menerawang-ke-antah-berantah pun berlanjut. Setelah aku telusuri, ternyata hobi ini bermanfaat buat mengatur mood-ku. Jika aku sedang badmood atau kenapa, travelling dapat jadi penetralisir mood yang tercemar gara-gara apapun.

Well, sebenarnya apa istimewanya hobi ini, sih, sehingga dapat menjadi mood-neutralizer?

Senin, 12 Oktober 2015

Explore Kandangan Part 2: Balajar Bahasa Banjar

Ketika ada temanku yang tahu kalau aku berasal dari Pulau Kalimantan, pertanyaan yang sering diajukan oleh temanku adalah, “Wah, berarti bisa bahasa Dayak, dong!”

Well, Borneo is not only the matter of Dayak. FYI, ada bahasa lain yang lebih sering dipakai oleh orang Kalimantan Selatan. Bahasa ini juga menyebar ke daerah Kalimantan Tengah, Timur, sampai Utara. Bahasa ini adalah Bahasa Banjar. Ini aku buktikan sendiri ketika aku mengadakan kumpul kontingen Kalimantan di kampusku. Mayoritas orang-orang Kalimantan bagian Selatan-Tengah-Timur-Utara rada nyambung saat ngobrol pakai bahasa Banjar sedangkan yang dari Barat cuman bisa jadi pendengar.

Sebenarnya, bahasa Banjar yang aku gunakan juga bukan Banjar yang sempurna. Faktornya karena lama berada di kampung orang tentunya. Tapi di sini aku bakal coba buat ngejelasin sebisaku general term yang biasa dipakai orang ketika berbahasa Banjar. Dan mungkin agak khusus ke daerah hulu sungai karena Kandangan adalah salah satu kota di daerah hulu sungai.

Oh, ya, tetap saja postingan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, bagi agan-agan yang merasa urang Banjar nang bahasa banjarnya tabagus pada unda, CMIIW...

Aula Simfonia Jakarta, Feel Your Classical Soul!

Gambaran Aula Simfonia Jakarta dari Google (sumber: kompasiana.com)
Musik klasik masih kurang diminati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kesimpulan ini aku dapatkan setelah aku mengajak teman-teman di kampusku untuk menyaksikan orkestra. Dari info yang aku dapatkan di internet, akan ada event konser musik klasik pada hari Sabtu, 10 Oktober 2015, di Aula Simfonia Jakarta (ASJ). Aku meneruskan info itu ke grup chatting  kelas serta organisasi. Dan pada akhirnya hanya ada satu orang yang bersedia ikut. Okesip.

To be honest, aku hanyalah manusia biasa yang awam soal musik. Aku nggak bisa baca partitur. Aku juga buta nada. Tapi aku senang mendengarkan musik. Berbagai macam musik, dari yang bikin kalem sampai jingkrak-jingkrak, dari Mozart sampai Linkin Park, pokoknya telingaku fleksibel. Untuk menonton konser baru pilih-pilih. Salah satu syarat menariknya suatu konser bagi Audi adalah harga tiket masuknya nol rupiah alias gratis! Makanya, aku minat banget ketika ada acara Enjoy Jakarta Jazz Festival 2015 bulan September lalu. Karena free entry tentunya.

Nah, bagaimana dengan konser musik klasik yang satu ini? Selain bakal jadi pengalaman pertama nonton konser musik klasik, kegiatan ini juga sebagai pengisi waktu luangku yang luang banget selama di kampus. Kemudian, tempat terselenggaranya konser itu, yaitu ASJ, juga menarik perhatianku. Dari penelusuranku di Google Images, tempat tersebut terlihat megah dan mewah dengan gaya arsitektur khas Eropa.

Kamis, 08 Oktober 2015

Explore Kandangan Part 1: General Introduction


Sabtu, 12 September 2015, aku berkesempatan buat meet up dengan teman SMA-ku. Tepatnya di daerah Otto Iskandardinata, Jakarta Timur. Kebetulan saat itu Galih, temanku yang kuliah di Jepang, sedang dalam masa libur dan sedang berada di Jakarta. Dia pun ikut serta dalam temu kangen kecil-kecilan itu.

Reuni yang hanya terdiri atas aku, Galih, Zeini, dan Kak Sita ini sebagian besar diisi dengan obrolan. Baik nostalgia tentang masa SMA maupun kegiatan kami saat ini. Kemudian iseng Kak Sita bertanya pada Galih, “Gal, kamu di Bandung udah pergi ke mana aja?”

“Ke rumah, hehehehehehehe.”

“Serius? Ga ada ketemuan sama siapa gitu di ITB atau jalan ke mana?”

“Bentar doang. Aku anak rumahan hehehe.”

“Wah, jangan-jangan aku lebih tau Bandung daripada Galih.” gumamku.

Sepertinya fenomena ini juga terjadi padaku: orang yang rajin jalan-jalan di kampung orang tapi diam di rumah kalau berada di kampung sendiri. Akibatnya, aku lebih kenal kampung orang daripada kampung sendiri. Tapi aku akui memang iya.

Senin, 05 Oktober 2015

Perantauan 4: Gue Tinggal di Tangerang Apa Jakarta, Sih?


“UI itu di mana, sih?”

“Di Jakarta!”

Bagi kalian yang menganggap jawaban dari pertanyaan itu nggak ada yang salah, mungkin kalian belum pernah ke UI secara langsung. Atau mungkin pernah ke UI tapi benar-benar nggak tahu kalian menginjak wilayah apa. Well, guys, sebenarnya UI itu di Depok. Dan Depok masih masuk wilayah Provinsi Jawa Barat, bukan DKI Jakarta.

Maaf kalau tiba-tiba ngomongin geografi. Tapi emang wilayah Jabodetabek itu saking deketnya (baik secara wilayah maupun kultur) sering banget disalahartikan sebagai Jakarta. Hal itu terkadang membuat aku bingung sendiri, sebenarnya aku lagi di mana, sih?

Nah, hal ini aku alami sendiri di kota perantauanku yang ini. Secara geografis, aku tinggal di Bintaro. Bintaro itu masuk Jakarta apa Jawa Barat? Neither. Bintaro itu Tangerang Selatan. Tangsel masuk Provinsi Banten. Jadi, kesimpulannya aku berdomisili di Provinsi Banten. Tapi, jika siapapun di kampung halaman bertanya aku kuliah di mana, jawaban simple-nya adalah: Jakarta.

Oke.Ga ada yang peduli juga sama masalah geografi ya?

Selasa, 08 September 2015

7 Tempat Paling Berkesan Buat Saya di Surabaya


Seperti yang udah aku paparkan di Perantauan 3: Kota Pecinta Jangkrik, aku nggak terlalu sering nongkrong gara-gara kendala transportasi. Tetapi, aku tetap memiliki beberapa tempat yang pernah aku kunjungi dan pengen banget aku datengin lagi seandainya nanti aku balik lagi ke Surabaya. Mungkin ini juga bisa jadi referensi buat yang pengen jalan ke Surabaya. Cekidot!

Minggu, 06 September 2015

Perantauan 3: Kota Pecinta Jangkrik


Jangan terlalu polos mengartikan judul di atas. Jangan ngebayangin kalo kamu bakalan ngeliat jangkrik beneran di segala sudut kota ini. Bukan gitu. Definisi "jangkrik" di sini adalah sebuah kata umpatan yang kamu ucapin kalo kamu lagi kesel atau dongkol atau perasaan sejenis itu, jika kamu bener-bener udah nggak bisa lagi nahan emosimu. Kalo emosimu makin nggak ketahan juga, kamu bakal ngucapin kata lain yang lebih nusuk; janc*k.

Haha, you should have known which city that I will tell to you. Yap, Surabaya. Tempatnya para jangkrik keluar dari mulut orang-orang. Maaf kalo tersinggung, tapi kalo kenyataannya emang gitu ya gimana lagi?

Makasih banget buat hasil SBMPTN-ku tahun 2013 yang bikin aku sempat merasakan "sumuk"-nya kota yang merupakan ibukota dari provinsi Jawa Timur ini. Padahal sebelum mendapatkan tempat kuliah, aku membayangkan sosokku berada di kota pelajar dengan makanan dan kos yang serba murah. Apa daya, nasib bilang aku harus ke tempat ini.

Kamis, 03 September 2015

7 Tempat Nongkrong Favorit Saya di Bandung

Lapangan Cinta, 18 Agustus 2015
Ketika SMA, mood-ku masih nggak sestabil sekarang. Sekali aku badmood, aku pasti ngerepotin orang-orang sekitarku. Mungkin sering juga mereka capek buat menghadapi aku yang kayak gini. Maka dari itu, aku berusaha mencari waktu buat sendiri dan menghindar dari orang-orang yang mengenalku. Dari sinilah hobi jalan-jalanku muncul.

Yap, aku suka banget jalan-jalan sendiri di Bandung. Orang banyak bilang bahwa kota besar itu rawan kriminalitas sehingga kegiatanku ini sebenarnya cenderung mengkhawatirkan. Toh sampai sekarang aku baik-baik aja kok. Alhamdulillah dijagain sama Yang Di Atas. Dari hobi jalan inilah aku mendapatkan beberapa tempat nongkrong favorit. Cekidot~

7 Tempat Makan Favorit Saya di Bandung


Di tulisan mengenai perantauan di Bandung (cek Perantauan 2: Kumaha Damang? :)), aku sudah paparkan bahwa Bandung adalah surganya kuliner. Berat badanku bertambah gara-gara tinggal di Bandung. Selera makanku juga bertambah. Mungkin juga karena akumulasi efek jamu beras kencur yang sering aku minum sewaktu kecil, hehehe.

Selama di Bandung, aku udah menjelajah beberapa tempat makan. Tujuh yang aku paparkan ini merupakan tempat atau makanan paling berkesan, paling ngangenin, dan paling pengen dikunjungi lagi tiap kali balik ke Bandung. Berikut Top 7 tempat makan favoritku di Bandung:


Rabu, 02 September 2015

Perantauan 2: Kumaha Damang? :)


Dan Bandung, bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.
Mungkin, Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, mungkin
(“Tuhan menciptakan tanah Priangan tatkala sedang tersenyum” - MAW Brouwer)
Mungkin saja ada tempat yang lainnya, ketika ku berada di sana, akan tetapi perasaanku sepenuhnya ada di Bandung, yang bersamaku ketika rindu. Yang bersamaku ketika rindu. 
Kutipan Pak Pidi Baiq di atas emang sukses bikin baper. Bikin ingatanku melayang pada masa-masa puber terbaik. Masa SMA. Masa SMA memang penuh cinta. Bukan cuman cinta-cintaan jenis simpanse gitu. Aku juga dikenalkan dengan cinta lain.

Bandung membuatku jatuh cinta. Bahkan sebelum Kang Ridwan Kamil menjadi walikotanya.

Minggu, 16 Agustus 2015

Another Dream Came True: Pengalaman Menonton Langsung Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2015

Sudah sedari kecil aku gemar menonton pertandingan olahraga, terutama sepak bola dan bulutangkis. Kalo bulutangkis mah aku rasa wajib banget buat disukai oleh seluruh penggemar olahraga di Indonesia, bahkan yang nggak gemar olahraga juga. Soalnya, olahraga ini satu-satunya olahraga yang berhasil meraih medali emas untuk Indonesia di ajang olimpiade! Bahkan, sempat ada tradisi emas olimpiade turun temurun dari sejak masa Alan-Susi di Barcelona 1992 sampai Kido/Hendra di Beijing 2008, dan sayang banget terputus di London 2012. Nggak hoki itu mah. Semoga tradisinya lanjut lagi di Rio de Janiero 2016. Aamiiin. 

Bulutangkis bahkan juga dikenal sebagai olahraga nasional di Indonesia! Buktinya di video ini:


Video tersebut adalah video Arsenal Asia Tour 2013 berformat kuis yang diikuti oleh Lukas Podolski, Theo Walcott, dan Alex-Oxlade Chamberlain. Coba cermati soal-soalnya.

Last question: what is the number one sport in Indonesia?
And the correct answer is........ BADMINTON!!

Tuh, kan, dari sana kita bisa melihat pandangan dunia internasional mengenai bagaimana melekatnya bulutangkis dengan Indonesia. 

Karena aku juga penggemar bulutangkis, menonton para pemain kelas dunia bertanding secara langsung merupakan salah satu impian masa kecil yang ingin aku wujudkan. Keinginan ini sudah pernah aku publikasikan di catatan Facebook: Mimpi Itu Bisa Disaksikan, Tetapi Tidak Bisa Diwujudkan. Dan akhirnya perwujudan mimpi itu berawal dari ajakan Yoshua buat nonton bulutangkis di Istora Senayan. Yap, brace yourself, Badminton World Championship 2015 in Jakarta!!!

Rabu, 12 Agustus 2015

Perantauan 1: Kemilau Intan Sejati

Audi, 12 tahun, masih belum percaya dengan hidup baru yang akan dia jalani. 

Beberapa menit yang lalu, dia masih berada di pelukan nenek yang menangis. Sembari tubuhnya terfokus pada masa kini, dia pun mengingat hal-hal yang pernah dia lalui bersama neneknya di masa lalu. Neneklah yang menjadi teman terbaiknya saat dia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Pun sekolah dasar. Dan kini, Nenek harus melepas pengawasannya.

"Baik-baik di pondok, Cu." kata Nenek dengan mata masih berair. 

Audi juga ingin menangis. Tapi dia masih bisa menahannya. Sampai kemudian Mama, Abah, dan adik-adiknya bergantian memeluknya, menciumnya, dan mengucapkan banyak pesan padanya. Menyalurkan doa, semoga jadi anak sholehah dan mandiri. Lalu, semua orang yang dia kasihi meninggalkannya seorang diri, di sebuah pondok pesantren bernama Darul Hijrah...


Jumat, 07 Agustus 2015

Perantauan: Prolog

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam. Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. 
-Imam Syafi'i-

Kamis, 06 Agustus 2015

Studying is Bored, Learning is Fun!

Baru-baru ini, kalimat yang saya jadikan judul dari tulisan ini sering saya gunakan. Mungkin ini bisa jadi motto hidup saya yang baru. Saya kurang tahu apakah ada orang lain yang pernah mempopulerkannya. Kalimat tersebut begitu saja keluar dari pikiran saya. Bisa jadi sebagai jawaban atas pertanyaan: mengapa saya tidak suka belajar di sekolah/kampus, tetapi sangat bersemangat ketika mempelajari hal lain di luar dari yang diajarkan di sekolah?

Study dan learn jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya akan sama, yaitu belajar. Mari kita lihat definisi dari kedua kata ini menurut Oxford Dictionary.

Minggu, 19 Juli 2015

Here I Am, An Introvert

Pernah pada suatu waktu aku merasa bahwa aku adalah orang yang aneh. Aku tidak menyenangi acara kumpul-kumpul, aku tidak bisa berbaur cepat dengan orang-orang, dan aku susah mengutarakan isi pikiranku secara lisan. Aku kira aku mengidap penyakit tertentu dan harus segera diobati. Kemudian, seiring bertambahnya usia dan wawasan, baru aku tahu bahwa aku memiliki sifat khusus.

Aku adalah seorang introvert. Setidaknya itu yang aku tangkap.
source: www.evisuals.co.za

Mengapa aku bilang introvert itu khusus? 

Sabtu, 11 Juli 2015

7 Boyband Barat 90-an yang Lagu-Lagunya Masih Layak Masuk Playlist!

Zaman sekarang kalau dengar kata "boyband" pikiran kita pasti sudah melayang ke Korea sana. Padahal, sebelum boyband eksis banget di Korea, boyband juga sebelumnya sangat eksis di barat sana. Bahkan, lagu-lagunya boyband saat itu sering masuk jajaran top musik dunia.

Saat ini, boyband barat emang nggak se-wah tahun 90-an. Yang paling ngetop, ya, One Direction. Tapi, bagi kalian yang pengen banget nostalgia ke masa-masa 90-an, mungkin boyband-boyband yang direkomendasikan ini dapat menjadi pengobat rindu. Sebagian ada yang sudah bubar. Tapi ada pula yang masih eksis sampai sekarang, meskipun nggak seeksis dulu. 

Berikut Top 7 Boyband Barat 90-an versi saya!

Rabu, 08 Juli 2015

Standar Cantik versi Umum

Cantik. Cewek mana, sih, yang nggak mau dibilang seperti itu? Apalagi kalau pujian itu datang dari the special one :)

Cantik itu relatif. Itu sudah diakui secara universal. Tetapi tetap saja ada standar "cantik" yang beredar di masyarakat. Itu cukup mengusik kehidupan cewek-cewek yang jauh dari standar tersebut. Mengusiknya itu sejenis terlintasnya pikiran yang bilang, "Duh, kalo pengen disukain sama cowok, berarti gue musti kayak gitu. Aduh, gue diciptain kayak gini gimana dong?"

source: kapanlagi.com
Mungkin, seandainya praktek operasi plastik di Indonesia ini se-wah di Korea sana, pasti udah banyak yang nyerbu. Tapi untung aja operasi kayak gitu masih standar tersier di sini. Kalo nggak, waduh, pasti muka kita udah pasaran banget. Cewek-cewek bakalan berlomba mirip Luna Maya, Julie Estelle, dan selebriti macam itu.

Berdasarkan observasi Audi di lapangan maupun di media (iklan, sinetron, dsb), berikut ini standar cantik yang dimiliki oleh masyarakat kita. CMIIW~

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...