Rabu, 12 Agustus 2015

Perantauan 1: Kemilau Intan Sejati

Audi, 12 tahun, masih belum percaya dengan hidup baru yang akan dia jalani. 

Beberapa menit yang lalu, dia masih berada di pelukan nenek yang menangis. Sembari tubuhnya terfokus pada masa kini, dia pun mengingat hal-hal yang pernah dia lalui bersama neneknya di masa lalu. Neneklah yang menjadi teman terbaiknya saat dia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Pun sekolah dasar. Dan kini, Nenek harus melepas pengawasannya.

"Baik-baik di pondok, Cu." kata Nenek dengan mata masih berair. 

Audi juga ingin menangis. Tapi dia masih bisa menahannya. Sampai kemudian Mama, Abah, dan adik-adiknya bergantian memeluknya, menciumnya, dan mengucapkan banyak pesan padanya. Menyalurkan doa, semoga jadi anak sholehah dan mandiri. Lalu, semua orang yang dia kasihi meninggalkannya seorang diri, di sebuah pondok pesantren bernama Darul Hijrah...


Jika kau berkunjung ke provinsi asalku, Kalimantan Selatan, kau akan menemukan sebuah kota yang memiliki tugu dengan puncak berbentuk intan. Martapura namanya, tempat perantauanku yang pertama.

Sekitar bulan Juli tahun 2007, aku memulai perantauan pertamaku. Bersekolah di pondok pesantren membuatku harus tinggal di asrama. Otomatis, keluarga pun harus ditinggalkan. Apalagi jarak rumah dengan kota tempat ponpes ini lumayan jauh, ditempuh selama 3 jam naik mobil.

Well, karena ini pakai sistem pondok pesantren, jadi aku hampir tidak pernah berkeliaran di kota ini. Pernah berkeliaran, alhamdulillah, bonus ikut lomba atau diizinin sama pengasuhan, hehehe. Oh, ya, namanya juga masih SMP. Memori-memori labilku tergores di sini.

Banyaaaak sekali yang bisa aku ceritakan dari tempat ini. Mungkin ini juga bisa jadi referensi kalian-kalian yang pengen masuk ponpes, hehehe. Okedeh, mulai dari sini yak.

Pondok Pesantren Darul Hijrah Puteri. Orang tuaku tertarik untuk menyekolahkanku di sini karena pengaruh media. Serius. Ponpes ini dikenal sebagai ponpes bilingual. Maksudnya, dalam kesehariannya, siang dan malam, wajib memakai dua bahasa: Inggris dan Arab. Sistemnya gini: seminggu berbahasa Inggris dan seminggu berbahasa Arab. No Bahasa, No Banjarnese. Kalau melanggar masuk Qismul Lughah (Bagian Bahasa). Selain itu, santri-santriwati ponpes ini juga sering masuk koran karena menang lomba-lomba. Yaa, jadilah aku santriwati ponpes itu.

Karena ponpes, maka santri-santrinya harus di tinggal di asrama. Yap, kita bisa bertemu dengan teman kita selama 24 jam. Bener-bener kayak masuk keluarga baru. Makan bareng. Tidur bareng (jangan negatif ya). Ke sekolah bareng. Ke mesjid bareng. Mandi bareng (wkwk). Pokoknya apa-apa bisa barengan lah. Oh, ya, perlu diingatkan lagi kalau ini ponpes khusus CEWEK. Jadi kalo sekolah ketemunya sama temen-temen cewek juga. Cowok-cowok yang ada palingan Pak Ustadz, Pak Tukang, Pak CS, Pak Satpam, dan pak-pak lainnya. Kalau mau cari yang kece biasanya pas banyak tamu berkunjung. Kali aja si ini punya kakak cowok trus bisa dikecengin rame-rame wkwk. Husss.

Dan karena ini pondok pesantren, maka sekolahku ini pun tak lepas dari yang namanya ATURAN. Oh, plis, di mana-mana aturan juga ada keleus. Tapi aturan ini benar-benar berlaku 24 jam! Dan hukumannya juga macem-macem. Bisa dihukum di tempat, dihukum kemudian, wah pokoknya ada lah ya. Contohnya: nggak boleh bawa alat elektronik, nggak boleh bolos sholat di mesjid kalo nggak ada halangan, nggak boleh ngomong bahasa lain selain Arab-Inggris, nggak boleh nyimpan foto cowok, dan banyak lagi.

Namun, di samping banyaknya aturan yang agaknya mengekang itu, justru dari sanalah biasanya ide-ide kreatif bermunculan!

Karena nggak dibolehin bawa alat elektronik, jadi kami bener-bener nggak tahu apa-apa soal dunia luar. Olimpiade Beijing aja aku nggak bisa update loh hiks. Kalau jadi anak zaman aku SMP dulu (2007-2010), yang namanya gadget udah mulai nempel sama anak muda. Definisi hiburan bagi kita dulu adalah TV. Jadi, kalau pulang ke rumah, yang dipuas-puasin adalah nonton TV. Internet baru booming sejak Facebook mulai booming. Nggak tau sih kalo dunia luar. Tapi kalo pas zamanku, sih, tahun 2009, pas aku baru kelas 9.

Nah, karena nggak ada hiburan itulah kami biasa cari hiburan lain. Biasanya nyanyi-nyanyi gaje. Sampai beberapa dari kami punya buku tulis yang berisi kumpulan lirik lagu. Kalo nyari hiburan yaa tinggal buka buku trus nyanyi bareng. Nyanyi sendiri juga bisaa. Berbagai macam lagu ada. Terutama lagu-lagu pop yang lagi booming saat itu, kayak ST12, Letto, atau Kangen Band. Kalau Audi mah sukanya ngumpulin lagu boyband 90-an. Dan yang klop sama Audi biasanya Nunuy, si Westlifer, yang nggak suka kalo aku ultah karena ultahku bertepatan dengan tanggal bubarnya Westlife wkwk.

Selain ngumpulin lirik lagu, kami pun gemar banget bikin cerita. Cerita fiksi yang kayak novel cerpen gitu. Biasanya ditulis di buku tulis juga. Dan sering banget pinjem-pinjeman. Trus baca-baca punya teman juga. Biasanya sih kisah cewek-cowok tabrakan marah-marah trus jadian, sih. Mainstream emang. Tapi bodo amat, yang penting cerita.

Hal-hal yang berkesan dari ponpes juga adalah jaros-nya. Apa itu jaros? Jaros adalah bahasa Arab dari kata "bel". Yap, bel ini merupakan bel pengingat macem-macem. Bisa buat bel sekolah, bel ke mesjid, bel belajar, ataupun bel jam malam. Sistemnya gini, satu kali bunyi itu peringatan awal. Masih bisa leha-leha. Dua kali bunyi itu peringatan kedua, udah mulai siap. Tiga kali? Ya lari! Bel ketiga ini kita sudah harus berada di tempat yang ditentukan. Kalo nggak dapet hukuman. (Kalo nggak salah sih sistemnya gini ya. CMIIW).

Belajar pun anggaplah seimbang. Dunia ada, akhirat juga ada. Cieh. Kami masih belajar pelajaran umum kayak Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dsb. Kami juga belajar pelajaran-pelajaran khas pondok kayak Hadist, Tafsir, Nahwu, Shorof, dll. Kalo ibarat kuliah mah SKS-nya lebih banyak. Dapat banyak ilmu yaa apa salahnya sih? Keuntungannya malah banyak. Misalkan dulu aku kalo baca Al-Quran atau baca doa yang bahasa Arab mah yang penting itu bahasa Arab. Udah. Sekarang setidaknya bisa ngerti, lah, aku lagi doa apa. Atau pas baca Al-Quran juga tahu yang lagi aku baca itu (secara tersurat) ngomongin tentang apa. Yaa, nggak ada ruginya, deh, masuk pesantren!

Hmm... tapi ada juga, sih, masa kesalnya. Karena orangnya yang banyak banget, jadi kalo barang hilang atau barang ketukar itu udah hal biasa. Yang paling langganan hilang itu sendal sama jemuran. Nggak jarang kami abis dari mesjid langsung nyeker, atau kalo nggak bawa sandal orang, entah punya siapa itu. Hehe.

Masa kesal lainnya itu pas ada periksa lemari dadakan. Waduh. Terutama banget buat yang nyimpan barang-barang terlarang (ya bukan narkoba jugaaa). Aku juga kelabakan. Soalnya aku gemar ngoleksi foto-foto cowok. Yup. Pemain bola. Aku juga pernah nempel poster di pintu lemari dan langsung tercabik-cabik setelah ada pemeriksaan. Huhuhuhu. Terutama juga buat teman-temanku yang ngoleksi foto artis Korea. Waktu itu juga lagi booming Super Junior dan Boys Before Flower. Otomatis Korean Lover ngelepas kangen kokoreaannya dengan ngoleksi foto-foto si Kibum, Siwon, dan macem-macemnya. Setelah pemeriksaan, fotonya lenyap entah ke mana....

Oh, ya, dan menjelang keluar dari ponpes, kami bikin nama angkatan. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya pada sepakat kalo nama angkatan kami "Dj_X FranQue". Atuhlah alay wkwkwk.Bahkan buat nyambung kata "Dj" sama "X" didebatin dulu pake tanda strip apa underskor wkwkwkwkwkwkwk. Trus "Q"-nya gede apa kecil. Trus juga pada debat huruf X-nya disambungin ke kata "Dj" apa "FranQue". Adudududuh. Nggak papa ah. Trus itu kepanjangan dari "Darul Hijrah Great Generation and Extra Performance with Firmness and Uniqueness" tuh kan apa coba artinya. Hahaha. Nggak apa-apa dah. Masa-masa seru buat dikenang.

Sekarang, kami udah tersebar ke mana-mana. Ada yang masih di pondok sebagai ustadzah, kebayakan, sih, kuliah. Pengen tahu kabar mereka semua, tapi aku nggak pernah datang reuni, heuheu. Bukannya nggak mau. Tapi reuni akbar ponpes sering banget ada pas aku lagi di kampung orang. Yagimanalagi.... -____-

Banyak kenangan yang aku dapat di tempat perantauanku waktu SMP. Mungkin yang aku tulis ini cuman 30% aja. Nggak ada fotonya lagi. Heuheu. Sampai jumpa di kisah perantauan selanjutnyaaaa!

Ohya, terutama buat para alumni PDHP dan anak pondok lainnya, jika di tulisan ini ada yang kurang berkenan mohon kasih tau penulis yak. Dan yang punya foto dokumentasi masa-masa SMP dulu juga nihhh. Hubungi Audi kalo punya, biar jadi pelengkap blog ini~



Pondok Betung, 12 Agustus 2015


Catatan: 
Judul blog ini diambil dari judul cerpen bikinanku yang berhasil bawa aku ke Yogyakarta. Ini masuk kenangan SMP juga~ ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...