Jumat, 07 Agustus 2015

Perantauan: Prolog

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam. Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. 
-Imam Syafi'i-

Guru fisika SMA-ku yang sangat aku kagumi, Bu Fitria Miftasani, pernah mengirimiku kutipan dari Imam Syafi'i ini ke inbox Facebook-ku. Saat itu aku menanyakan Bu Fitria tentang pengalamannya menuntut ilmu di Polandia. FYI, ketika aku kelas 3 SMA, Bu Fitria saat itu masih menjadi mahasiswi S2 Fisika di ITB dan berhasil mendapatkan beasiswa riset di Polandia. Keberhasilan Bu Fitria ternyata didorong oleh banyak motivasi, salah satunya adalah perkataan dari Imam Syafi'i di atas.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman....
Merantaulah...
Merantau.

Sebuah kalimat yang akan membawa pikiran kita terhadap perpisahan. Berpisah dengan rumah. Berpisah dengan keluarga. Berpisah dengan kemanjaan. Kemudian memulai kehidupan sebagai seorang manusia yang dewasa dan mandiri. Berjalan sendiri tanpa dituntun. Melakukan perkenalan dengan hidup yang sebenarnya.

Umumnya, anak Indonesia merantau sendiri setelah lulus SMA. Tepatnya ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dan ternyata, aku bukan salah satu dari "umumnya" tersebut.

Aku pernah memposting percakapanku dengan seorang senior di tumblr. Kurang lebih begini isinya:

Senior: Kamu asal mana?
Aku: Banjarmasin.
Senior: SMA-mu di mana?
Aku: di Bandung.
Senior: Ikut tes masuknya di mana?
Aku: Surabaya.
Senior: Gubrakkkk!!

Banyak yang mengira aku memulai perantauan sejak SMA. Bukan. Aku sudah merantau sejak SMP! Bayangkan aja, aku masih unyu-munyu baru lulus SD dan sudah dilepas orang tua ke perantauan.

Sepertinya sangat disayangkan jika kisah perantauan ini aku simpan sendiri. Mulai dari tulisan ini, aku ingin bercerita tentang kota-kota yang pernah menjadi domisiliku. Aku berharap list kota perantauan ini akan bertambah. Dunia ini masih sangat luas untuk dijelajahi, kan? :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.