Minggu, 06 September 2015

Perantauan 3: Kota Pecinta Jangkrik


Jangan terlalu polos mengartikan judul di atas. Jangan ngebayangin kalo kamu bakalan ngeliat jangkrik beneran di segala sudut kota ini. Bukan gitu. Definisi "jangkrik" di sini adalah sebuah kata umpatan yang kamu ucapin kalo kamu lagi kesel atau dongkol atau perasaan sejenis itu, jika kamu bener-bener udah nggak bisa lagi nahan emosimu. Kalo emosimu makin nggak ketahan juga, kamu bakal ngucapin kata lain yang lebih nusuk; janc*k.

Haha, you should have known which city that I will tell to you. Yap, Surabaya. Tempatnya para jangkrik keluar dari mulut orang-orang. Maaf kalo tersinggung, tapi kalo kenyataannya emang gitu ya gimana lagi?

Makasih banget buat hasil SBMPTN-ku tahun 2013 yang bikin aku sempat merasakan "sumuk"-nya kota yang merupakan ibukota dari provinsi Jawa Timur ini. Padahal sebelum mendapatkan tempat kuliah, aku membayangkan sosokku berada di kota pelajar dengan makanan dan kos yang serba murah. Apa daya, nasib bilang aku harus ke tempat ini.



Ada beberapa hal yang membuatku nggak terlalu betah di kota ini:

  1. Masalah transisi yang terlalu ngebikin shock. Bayangin, dari Bandung ke Surabaya. Dari tempat yang sejuk banget ke tempat yang panas banget. Dari tempat dengan penduduk yang ngomong alus ke penduduk yang ngomong alus aja masih terdengar kasar di telingaku. 
  2. Most of the foods are spicy and I don't like spicy food. Dan kalo aku lagi nggak mood nerima makanan pedas yaa langsung aku misuh-misuh depan makanan itu. 
  3. Aku sendirian. Dalam artian: aku sendirian ketika aku perlu seseorang yang ngebimbing aku atau seseorang yang senasib denganku. Seandainya aku sendirian dalam keadaan punya ilmu yang cukup dalam berbahasa Jawa, memahami orang Jawa, dsb, mungkin sendiri ini nggak terlalu bermasalah. Aku jarang bertemu orang Kalimantan. Anak Pribadi juga nggak ada yang kuliah di sekitar situ. Ada anak Pasiad, tapi pada ngumpul di Kampus A dan Kampus C. 
  4. Kendala bahasa. Aku sama sekali nggak bisa bahasa Jawa! Anak Ilkom sebagian besar adalah orang Jawa Timur. Ada orang Kalimantan juga, itu pun berdarah Jawa dan punya keluarga di Surabaya. Dan kalo pada ngumpul, pasti aku loading dulu gara-gara nggak tau apa yang mereka omongin. Bahkan, dengerin dosen pun aku perlu translator di sebelahku. 
  5. Unfriendly public transportation. Aku nggak bisa naik motor dan aku hobi jalan. Aku tahu kalo teman-temanku juga pastinya punya kesibukan sendiri dan nggak mungkin tiap aku tebengin terus. Maka, aku perlu banget transportasi publik yang mudah dijangkau dan murah. Tapi apa mau dikata, bemo di Surabaya mengecewakan. Pertama, lama ditungguin. Entah karena armadanya dikit atau pak supirnya ngetem di tempat lain. Kedua, bemonya sering lewat jalan tikus sehingga susah banget menuju pusat keramaian dengan naik bemo. Kalaupun harus naik bemo, ya musti jalan kaki lagi. Jadi, aku kalo kemana-mana musti naik taksi dan itu pun harus merongoh duit yang nggak sedikit. -___- Ketiga, kalaupun ada tempat yang bisa dijangkau dengan bemo, pulangnya biasanya bingung. Soalnya banyak jalan di Surabaya yang satu arah dan susah cari bemo di arah lainnya. Capek deh. 
  6. Sugesti dari ortu juga, tentang Surabaya yang begini begitu.
  7. Sesuatu. Yang nggak bisa aku ceritakan di sini. 
Well, aku menulis ini secara subjektif. Aku nggak maksud buat bikin kalian ilfil sama kota ini. Salahkan aku yang terlalu ngebanding-bandingin Surabaya dengan Bandung. Salahkan aku juga yang nggak pintar beradaptasi. Meskipun banyak hal-hal ngebetein yang aku dapat dari sini, aku juga nggak bisa memungkiri bahwa tempat ini juga punya kesan tersendiri. Salah satunya adalah kesempatan untuk belajar di jurusan impianku sejak SMA: Ilmu Komunikasi.

Dari kota ini pun aku banyak belajar. Seperti belajar untuk bersyukur dengan apa yang sudah aku dapatkan, meskipun dalam penerapannya pun aku masih harus belajar ke tahap berikutnya. Sebenarnya dari awal aku berpikir: apa sih yang kurang dari aku di sini? 

Aku sudah mencapai keinginanku untuk kuliah di jurusan impian. Di jurusan ini udah nggak ada Matematika-Fisika-Kimia-Biologi yang sering banget bikin puyeng. Kuliahnya main-main dan santai. Dosen-dosennya gaul dan bersahabat. Aku juga bisa akrab dengan kakak tingkat tanpa harus menerapkan senioritas. Dari sini pun aku bisa nambah wawasan dengan latar belakang serta cara pandang teman-temanku yang beragam. Serius, sejujurnya aku senang banget dengan jurusan ini.
Dari sini juga aku mendapatkan teman akrab. Teman yang bisa diajak cs-an. Teman yang sering bisa diajak pulang-pergi kuliah bareng. Teman yang mau memaklumiku ketika bad mood. Teman yang mau TA-in aku ketika aku bolos kuliah (uppsss hahaha). Tetapi juga teman yang mendorong aku buat nggak malas kuliah di saat aku pengen bolos. Teman yang bilang kalau aku unik. Teman yang bilang kalau mereka nggak mau kehilangan aku. Sedih kalo mikirin lagi. 

Nggak cuman temen kuliah aja. Beberapa orang di luar kuliahku juga ngerasa kehilangan. Si ibu kos sampe nangis pas aku ngasih tau kalo aku pindah dari Unair. Ada pula beberapa orang yang bakalan aku kangenin: Si ibu nasi telur kremes langgananku di kantin FIB, si bapak penjual bebek, si bapak penjual tahu crispy, si ibu warteg samping Indomaret Gubeng Airlangga 2, mas-mas warnet yang ngizinin aku buat nonton Piala Dunia di warnetnya, ibu Loundry yang setia antar jemput loundry tiap seminggu sekali, mas-mas printer yang jadi nominasi Cak Surabaya, dan terutama mas-mas kopi Kahfi :(

Padahal, lama kelamaan beberapa alasan ketidakbetahanku di atas bisa aku maklumi. Tetapi tidak, untuk nomor 6 dan 7. 

Sejak awal, orang tuaku tidak mendukungku untuk menjadi jurnalis, seperti impianku selama ini. Aku dibiarkan belajar di jurusan ini. Ketidakbetahanku didukung. Ketika aku ragu, aku dibiarkan mengambang. Nggak pernah ortuku bilang, "Udah, bertahan aja di sini. Kami yakin kamu pasti bisa. Itu cuman cobaan. Nanti kamu akan merasakan manisnya perjuangan." Jadi, memang faktor ortu yang paling berpengaruh. Aku memang memiliki potensi untuk membangkang, tetapi tidak pada orangtuaku. Bagaimanapun, sebagai seorang anak, aku ingin membahagiakan mereka. Biarlah aku sampingkan dulu egoku. Tujuan awalku, aku pengen ngasih mereka yang terbaik. Aku ingin mewujudkan keinginan mereka terhadapku. 

Kemudian, faktor ke-7, itu hanya aku yang menyimpan. Sebenarnya hal ini sempat tercium oleh salah satu senior di tempatku sekarang. Namun urung aku ceritakan. 

Oke, kita tinggalkan dulu curhat di atas. Jika dilihat lebih dekat, Surabaya sebenarnya adalah kota yang indah. Sebelum aku ke Surabaya, aku pernah bilang, "Surabaya bersih katanya. Ntar pengen ke sana, ah." dan Allah mewujudkannya dengan membuatku menjadi mahasiswa di sana.  Dari sinilah akhirnya aku memulai pengalamanku tinggal di salah satu kota besar di Indonesia ini. 

Bahasa Jawa

Sudah aku bilang, ketika di Surabaya, pengetahuan bahasa Jawaku itu NOL! Yang paling aku bisa sebatas "Ojok lali yo rek!" dan kalo aku pengen sok-sokan pake bahasa Jawa, semua kata dalam bahasa Jawa yang huruf akhirnya A aku ganti dengan O. Lu kira bahasa Minang apa.

Trus, kalo temanku ngomongin sesuatu yang kayaknya luar-biasa-banget (semacam "waw expression") biasanya kata tersebut dibubuhin huruf U setelah huruf pertama. Contoh: cuuuantik, guuuanteng, buuuingung, buuuuanyak. 

Berikut beberapa kosakata bahasa Jawa yang sering aku gunakan. Dan semoga bermanfaat bagi kamu yang belum bisa bahasa Jawa. CMIIW:
  • Ojok = jangan
  • Lali = lupa
  • Sinau = belajar
  • Durung = belum
  • Turu = tidur 
  • Podo = sama
  • Sing = yang 
  • Wes = sudah
  • Loro = sakit 
  • Nggilani = jijik
  • Sek = sebentar
  • Ndi? = mana?
  • Pisan = lagi
  • Ora = tidak 
  • Duwe = punya
  • Iki = ini

Kuliner

Sori ya kalo ngebandingin sama Bandung lagi. Kuliner Surabaya emang lumayan oke, tapi masih nggak se-variatif di Bandung. Kalo di Bandung, misalkan kamu di suatu daerah kosan, kuliner anak kosan bukan hanya warteg, tetapi ada juga Western, Japanese, Chinese, dan berbagai macam jenis makanan lainnya yang bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki. Sedangkan di Surabaya, dalam daerah kosan, kamu cuman bakal nemu warteg, warteg, dan warteg lagi sampai bosen. Sedangkan kalo mau nemu yang bervariasi, kamu harus pergi ke daerah lain yang agak jauh buat mewujudkan keinginanmu. 

Tapi, ada yang bakal bikin kamu senang banget dengan kuliner Surabaya: harganya murah meriah brooh!! Kamu tahu makanan apa yang paling aku banggakan di Surabaya? Nasi Telur Kremes 6000-annya Kantin FIB! Pokoknya tiap kali aku cerita soal Surabaya ke teman-temanku, aku selalu cerita soal menu kebanggaanku ini. Bayangin aja, nasi + telur + kremes + minuman all variant bisa didapat hanya dengan 6000 rupiah! Kalo dikonversikan ke warteg Citra Idola, harganya bisa sampai 9000. Hemat 3000 lah kalo di Surabaya mah. 

Kemudian, makanan Surabaya yang paling aku senengin adalah Tahu Telor. Biasanya mas-mas tahu telor ini suka nongkrong depan Fakultas Hukum. Harganya hanya 8000 rupiah aja. Kemudian, bebek Surabaya juga lumayan enak. Tbh, aku kangen banget sama dua makanan ini. Alhamdulillah udah nemu di Bintaro, meskipun harganya lebih mahal. Yang aku kangenin juga adalah Roti Canai + teh tarik di Karamenjangan. Si Huda dan Isnaini yang sering banget ngajakin aku ke tempat ini. Biasanya sehabis kuliah sore.

Yang nggak bisa aku temuin di tempat lain mungkin adalah Molas, warteg favoritnya Huda, hehehe. Harganya luar biasa murah. Pesen nasi + ayam + tempe + sayur bening + es teh kayaknya nggak sampe 10000 harganya. Wuiih.

Tempat-tempat Menarik

Sejujurnya, tempat nongkrong favoritku di Surabaya adalah kamarku sendiri. Tapi, ya, kalo suntuk banget aku bakal jalan juga. Seperti yang udah aku bilang kalo aku jarang banget jalan sendirian di Surabaya karena faktor kendaraan umum. Maka dari itu, aku nggak punya tempat nongkrong khusus di luar dari area kampus-gubeng-dan-sekitarnya. Banyak tempat-tempat di Surabaya yang cuman aku kunjungi nggak lebih dari dua kali. 

Yang nyari mall, di Surabaya banyak banget. Yang paling dekat adalah Delta atau Plaza Surabaya. Yang gede itu Tunjungan Plaza. Selain itu, ada pula Royal Plaza, Galaxy Mall, Surabaya Town Square, Pakuwon, dan lain-lain. Tempat wisata pun macem-macem. Ada Kebun Binatang Surabaya (KBS), Museum Kapal Selam, Surabaya Carnival Night Market, House of Sampoerna, dan juga Taman Bungkul. Oh, ya, perpustakaan juga lumayan, lho! Yang pernah aku datengin adalah Perpustakaan Balai Pemuda dan Perpustakaan Bank Indonesia. Ada C2O, tapi nggak jadi-jadi. 

Untuk kampus di Surabaya, orang-orang sering ngomongin Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dua kampus negeri yang jadi ikon Surabaya. Wisata ke kampus juga menarik. Seperti nongkrong cantik di tepi danau Kampus C Unair atau bersepeda keliling kampus ITS. Kalo aku sih ke kampus biasanya nongkrong di kantin FIB, karena harga makanannya yang murah-murah. Trus ada pula KBU, yang letaknya di teras lantai 1 Gedung A Fisip. Di situ biasanya tempat anak Ilkom ngumpul buat nunggu kuliah, ngobrol santai, atau ngelakuin hal yang nggak jelas tapi ujung-ujungnya bisa muncul ide kreatif.  

Oh, ya, sebenarnya ada sih tempat yang lumayan terkenal di Surabaya tapi highly not recommended banget, terutama buat kamu-kamu yang masih di bawah umur. If you know what I mean. Nggak usah disebutin ya, hehehehehehe.

Tempat yang lumayan berkesan buatku di Surabaya ada di sini

Kesan-kesan lain

Kurang lebih hanya satu tahun aku berada di Surabaya. Banyak hal-hal berkesan yang aku dapat di sini. Yaitu:
  1. Kotanya tertata. Rapiiiiiiih banget. Bener-bener deh Bu Risma ini! Kotanya pun berasa Kota Taman karena di mana-mana terlihat hijau. Kota ini juga bersahabat dengan pejalan kaki kalo dilihat dari segi keindahan trotoarnya. Tapi sayang banget udaranya panas. Jadi nggak betah lama-lama di luar. 
  2. Karena tata kotanya rapi, maka aku jarang menemui kemacetan di sini. Ada sih macet, tapi nggak se-wah di Bandung dan Jakarta. Nyeberang jalan lumayan mudah. Tapi sekali salah jalan, muternya lama banget. Huhuhu.
  3. Mungkin ini yang dirasakan oleh pengendara motor di Surabaya. Pokoknya jangan sampai kena tilang. Males berurusan sama Pak Polisi, wkwkwk. Jadi, tiap kali temanku mau ngebonceng aku, mereka udah mewanti-wanti aku buat nyediain helm. Jaraaaaang banget aku temuin pengendara motor yang nggak pake helm di Surabaya. Serius! 
  4. Ramai dengan acara dan festival! Terutama banget pas peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November. Nggak kayak kota lain, Surabaya ketika itu bener-bener berhias. Di depan kosan pun ada parade anak-anak SD. Meriah, lah, pokoknya!
  5. Misuh itu biasa. Karena aku bukan orang Jawa, aku biasa aja, sih, nanggepinnya. Tapi kalo orang Jawa yang omongannya Jawa alus, hal ini lumayan dipermasalahkan. Bahkan sempat jadi bahan perdebatan di mata kuliah Etika Sosial dan Politik. Dan kadang-kadang aku suka keceplosan misuh, hehehe.
  6. Dan dari sinilah aku pun mulai ngerasain kuatnya persaudaraan sesama lulusan sekolah Pasiad. Memang aku ngerasa bahwa aku satu-satunya anak Pribadi Bandung di sini. Ternyata, ada beberapa anak Semesta di Kampus A dan C. Padahal kami belum kenal banget, Tetapi ketika ketemu langsung nyambung. Berasa ketemu sama teman lama. 

Aku juga nggak lupa mengucapkan terima kasih buat orang-orang yang sudah menemaniku selama di Surabaya. Kalian luar biasa! :)






2 komentar:

  1. capcay nya pak bandung tuh chinese food deh. wkwkwk
    terus deket tasty ada sushi2an gitu>> japanese food. hahaha. maksa abis.

    btw molas tuh termasuk agak mahal lho sekarang.

    terus telur kremes FIB tu yg mana? di kantin yg setelah sekre bem nya ta? :p

    BalasHapus
  2. aduuh aku kok sampai luma sama mang bandung ya? wkwk. iya kak mei maksaaaa.

    what? molas mahal? :(

    eh lupa deng telur kremes di mana. pokoknya di kantin fib aja hehehe

    BalasHapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.