Kamis, 08 Oktober 2015

Explore Kandangan Part 1: General Introduction


Sabtu, 12 September 2015, aku berkesempatan buat meet up dengan teman SMA-ku. Tepatnya di daerah Otto Iskandardinata, Jakarta Timur. Kebetulan saat itu Galih, temanku yang kuliah di Jepang, sedang dalam masa libur dan sedang berada di Jakarta. Dia pun ikut serta dalam temu kangen kecil-kecilan itu.

Reuni yang hanya terdiri atas aku, Galih, Zeini, dan Kak Sita ini sebagian besar diisi dengan obrolan. Baik nostalgia tentang masa SMA maupun kegiatan kami saat ini. Kemudian iseng Kak Sita bertanya pada Galih, “Gal, kamu di Bandung udah pergi ke mana aja?”

“Ke rumah, hehehehehehehe.”

“Serius? Ga ada ketemuan sama siapa gitu di ITB atau jalan ke mana?”

“Bentar doang. Aku anak rumahan hehehe.”

“Wah, jangan-jangan aku lebih tau Bandung daripada Galih.” gumamku.

Sepertinya fenomena ini juga terjadi padaku: orang yang rajin jalan-jalan di kampung orang tapi diam di rumah kalau berada di kampung sendiri. Akibatnya, aku lebih kenal kampung orang daripada kampung sendiri. Tapi aku akui memang iya.



Tetap saja jika aku ditanya dari mana asalku, aku akan menjawab, “Kalimantan Selatan” dan jika itu terlalu umum, aku akan menjawab “Banjarmasin” karena itu ibokota dari provinsi ini. Aku jadi ingat pertanyaan si Adien, “Kok kamu kalo ditanya dari mana jawabnya Banjarmasin, sih? Padahal, kan, aslinya Kandangan?”

Jawabku, “Ada dua kemungkinan respon orang jika aku menjawab dengan jawaban itu. Pertama, orang akan bertanya ‘Kandangan itu di mana?”. Kedua, orang akan ketawa karena namanya lucu dan rawan diplesetkan....”

Kota ini memang asing di telinga orang-orang yang aku temui. Ada beberapa sebab kenapa kota Kandangan tidak terlalu dikenal luas:

  1. Kandangan bukan kota besar.
  2. Kandangan jarang masuk TV nasional.
  3. Tidak ada perguruan tinggi berskala nasional di Kandangan.
  4. Anak-anak muda di sini, sepengetahuanku, jarang mengenyam pendidikan di luar provinsi. Kalaupun harus jauh dari kampung halaman, paling jauh di Banjarmasin. 

Aku pernah membayangkan, kapan ya orang-orang bakal bisa langsung nangkep ketika aku bilang bahwa aku berasal dari Kandangan? Mungkin melalui tulisan ini kalian bakal perlahan-lahan kenal dengan kota kelahiranku ini.

Sebenarnya kota ini sudah mulai dikenal oleh teman-teman kampusku, sih. Ini merupakan dampak dari mata kuliah Pengantar Geofisika karena sang dosen berasal dari provinsi yang sama denganku. Jadi, kalau bertemu denganku, si dosen langsung nanya, “Kamu yang dari Kandangan itu, kan?” atau saat menjelaskan pelajaran Geofisika, tau-tau kota Kandangan langsung eksis. Misalkan, penjelasan tentang jalur lempeng tektonik. Beliau bilang, “Ada tiga jenis lempeng besar yang melalui Indonesia, akan tetapi tidak melalui Pulau Kalimantan. Jadi, kota-kota seperti Samarinda, Sampit, Pangkalan Bun, Kandangan, itu nggak bakal ada gempa...”

Oke, kita mulai dari perkenalan secara umum.

Kandangan merupakan salah satu kota di Kalimantan Selatan yang merupakan ibukota dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Daerah ini berbatasan dengan Kabupaten Tapin di bagian selatan dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah di bagian utara. Karena berbentuk kabupaten, HSS dipimpin oleh seorang bupati.

Asal Mula Nama Kandangan

Penyebutan nama kota Kandangan sudah ada sejak zaman Kerajaan Banjar. Dari legendanya nama Kandangan terdapat dua versi yaitu: 
  • Versi pertama mengatakan bahwa konon pada zaman dahulu kala , pada masa Kerajaan Banjar (sebelum Sultan Surianyah) , terdapat suatu wilayah (Nagaradaha) yang dijadikan sebagai tempat pemeliharaan kerbau. Kerbau di Hulu Sungai disebut juga Hadangan. Di wilayah tersebut banyak terdapat Kandang Kerbau atau Kandang Hadangan. Kemudian lama – kelamaan daerah tersebut berubah nama menjadi Kandangan.
  • Versi kedua menceritakan bahwa pada zaman dahulu, masa Kerajaan Banjar (masa Sultan Suriansyah) terdapat suatu komunitas penduduk yang memaklumatkan ketidaksetujuan mereka atas kekuasan Patih Lambung Mangkurat, lalu mereka membuat benteng/ kandang (kandang diartikan pagar dari kayu/papan yang menunjukkan batas wilayah mereka). Sebutan bagi orang – orang yang berada di dalam Kandang/ Benteng itu disebut orang – orang Kandangan. Cerita tersebut merupakan satu legenda pada masa Kerajaan Banjar.
Sumber:amounk027.blogspot.co.id 

Sejarah Kandangan

Kabupaten Daerah Tingkat II Hulu Sungai Selatan yang ada sekarang merupakan cikal bakal Kabupaten – Kabupaten yang ada di Hulu Sungai atau Banua Anam. Kabupaten Daerah Tingkat II Hulu Sungai Selatan sebagai Daerah Otonom secara nyata terbentuk pada tanggal 2 Desember 1950, yakni pada saat dilantiknya Pejabat Bupati Kepala Daerah Pertama dan dibentuknya anggota DPRDS.
Tanggal 2 Desember 1950 inilah yang menjadi pancangan tonggak sejarah Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Hulu Sungai Selatan yang kemudian dikukuhkan dengan Ketetapan DPRD Tingkat II Hulu Sungai Selatan tanggal 26 Maret 1987 Nomor 06 KPTS / DPRD-HSS / 1987 tentang Persetujuan Ketetapan Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Hulu Sungai Selatan. Sejak diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, maka sebutan menjadi Kabupaten daerah Tingkat II Hulu Sungai Selatan juga disesuaikan menjadi Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Sumber: fanpage Facebook Kandangan, Kal-Sel

Tempat wisata di Kandangan

Tanuhi, salah satu objek wisata di Loksado. (sumber tercantum)
Tempat wisata unggulan di Kandangan adalah wisata alam. Hal ini bisa kamu dapatkan di Loksado, yaitu sekitar 37,5 km dari kota Kandangan. Kamu bisa menikmati pemandian air panas Tanuhi, arung jeram, air terjun Haratai, dan tentunya pemandangan alam. Selain wisata alam, terdapat juga wisata budaya seperti Balai Adat, Benteng Madang, Masjid Baangkat, Makan Datu, dan masih banyak lagi. Informasi lengkap bisa diakses di blog ini

Kuliner Kandangan

Salah satu warung ketupat di Kandangan
Kandangan dikenal dengan kuliner khasnya, yaitu ketupat. Maka dari itu, jika kamu datang ke Kandangan, kamu bakal disambut oleh tugu ketupat. Ketupat di sini sering juga disebut “katupat balamak”. Beda banget sama ketupat sayur yang biasa dijual abang-abang di Jakarte. Selain ketupat, Kandangan juga terkenal dengan dodolnya. Kalau dibandingkan dengan dodol Garut, ukuran dodol Kandangan lebih gede. Dan lebih lengket juga. Tapi rasanya enak, kok!

Lain-lain

Di Kandangan nggak ada mall. Kalo mau belanja keperluan sehari-hari cukup ke Pasar Kandangan aja. Kemudian, di Kandangan juga nggak ada Alfamart atau Indomaret. Tapi ada kok beberapa minimarket sejenis. Bedanya, mereka nggak bakal nawarin kamu buat bikin kartu member. Dan kalo nggak punya kembalian, mereka mungkin bakalan ngasih kamu permen dan nggak bakal nawarin kembalian kamu itu buat disumbangkan.

Karena Kandangan bukan tempat penampung para pendatang, orang-orang di sini jarang memakai transportasi umum. Kalaupun ada, pilihannya cuman becak atau bentor (becak motor). Ada kendaraan yang bentuknya kayak angkot. Itupun kendaraan umum untuk ke luar kota.

Jika kamu berkunjung ke Kandangan, kamu bisa menginap di hotel yang tersedia. Tapi jangan ngebayangin hotelnya bakalan kayak JW Marriott atau Ritz Carton atau sejenisnya. Hotenya sederhana, mirip wisma atau losmen.


Nah, sudah cukup kenal dengan Kandangan? Pengenalan lebih dalam akan dijelaskan di postingan selanjutnya. Stay tune!  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...