Rabu, 30 Desember 2015

Throwback 2015: “Kepalaku Kini Ada Dua!”

Tak terasa kini kita sudah berada di penghujung tahun 2015. Rasanya baru aja kemaren aku berdiri bengong ngejagain wall of fame di acara tahun baruan kampusku. Ahsudahlah.

Seperti perkiraanku di awal tahun kemaren, up and down pasti ada. Ada saat aku stress banget, tapi tekanan itu kemudian digantikan dengan having fun di kemudian hari. Kronologis hari-hari yang aku jalani sepanjang tahun ini ada di diary. Lengkap dengan baper-bapernya. Tapi nggak bakalan aku tumpahin semua di sini, lah. Gila aja -___-

Yang paling perlu digarisbawahi di tahun ini adalah umurku sudah genap 20 tahun. Biarpun aku bilang bahwa I’m forever 17 deep inside my heart. Tetapi, tentu saja aku nggak bisa melawan umur biologis yang semakin bertambah setiap harinya. Jujur, perpindahan umur ini sebenarnya agak ngebikin aku sedih juga. Apalagi kalau aku pikir-pikir lagi, kok di umur belasan aku kayak nggak ngapa-ngapain, sih? Ini sumber baper paling utama. Karena itulah aku bertekad pengen mewujudkan berbagai impian masa kecilku di umur segini.

Selain berkepala dua, ada beberapa hal lagi yang aku alami di sepanjang 2015:

Selasa, 29 Desember 2015

Mencicipi PAHIT-nya Ketupat Kandangan

Tugu Ketupat di Kandangan. Lapar, nggak? (Dok pribadi)


Pernahkah kamu merasa lapar ketika melihat tugu suatu kota?

Jika belum pernah, kamu harus mencoba untuk berkunjung ke kota Kandangan. Ketika kamu memasuki kota ini, kamu akan disambut oleh dua buah ketupat raksasa berwarna hijau yang berdiri tegak di atas bundaran berwarna biru. Bisa jadi setelah melihat tugu tersebut kamu akan langsung mengimajinasikan sepiring ketupat tersaji dengan cantik di hadapanmu. Kemudian, timbul rasa lapar, hehehe.

Btw, Kandangan itu di mana, sih?

Selasa, 22 Desember 2015

Mencari Makna dalam Perjalanan bersama Agustinus Wibowo dan Fitri Mayang Sari




Travelling adalah sebuah hobi kekinian. Iya, nggak? Apalagi setelah sosial media menyerang. Orang berbondong-bondong untuk mengatakan bahwa dirinya travelling untuk memiliki bahan—entah status atau foto—untuk dikabarkan ke masyarakat dunia maya. Yang lagi kekinian adalah melakukan travelling entah ke mana, kemudian menulis sesuatu di kertas kayak “I love you from Mount Everest” dan sejenisnya, trus difoto dan dikirim ke orang tercinta. Kalau yang lebih kekinian lagi adalah foto-foto di taman bunga seakan dia adalah bagian dari bunga tersebut sampai bunganya terinjak nggak karuan. Hehehe. Yang ngikutin viral sosmed pasti tau, lah, ya.

Travelling jenis ini nggak aku temui pada sosok Agustinus Wibowo. Oke, dia travelling dan dia juga foto-foto. Tapi, kalo kalian baca bukunya, kalian pasti bakalan menemukan travelling sebagai sebuah pengembaraan batin yang begitu emosional. Well, actually I haven’t read his books yet. Tapi aku pernah datang ke acara bedah bukunya, dua kali lagi. Selain itu, aku senang banget baca-baca cerita perjalanan dan opini randomnya di www.agustinuswibowo.com.  

Pada hari Selasa, 24 November 2015, aku datang ke sebuah acara yang menurutku sangat berkesan. Di acara ini, Mas Agus juga hadir sebagai pembicara. Padahal aku baru aja menghadiri peluncuran buku barunya Mas Agus, Ground Zero, yang merupakan versi Bahasa Inggris dari buku Titik Nol, di Kinokuniya Plaza Senayan pada hari Jumat, 20 November 2015.

Acara ini merupakan acara yang diselenggarakan oleh Mezzanine Club (MC) dengan tema “The Adventure of A Lifetime”. Selain Mas Agus, ada juga Mbak Fitri Mayang Sari, founder dari Orang Jakarta yang telah melakukan travelling ke beberapa negara di Eropa.

Mengapa acara ini berkesan?

Minggu, 20 Desember 2015

Introducing My New Hobby: Event Hunting



Menghadiri sebuah acara di Komunitas Salihara
Sepertinya aku harus berterima kasih kepada kampus yang udah ngasih banyak banget waktu nganggur. Berkat waktu luang itu, aku jadi memiliki hobi baru: berburu acara.

Kenapa aku sampai berburu acara?

Well, aku adalah orang yang nggak betah buat berlama-lama di satu tempat. Dan aku sering banget merasa hampa jika dalam satu hari aku cuman diam doang di kosan doing nothing at all. Untungnya kosan punya wifi, hehehe. Yap, meskipun ada wifi juga, jika ngenet udah nggak tau mau ngapain ya udah skak mat. Trus di sela-sela kebosanan itu tiba-tiba terlintas sebuah ide iseng, “Duh, nggak betah banget di kosan. Pengen jalan. Nyari acara, ah...”

Pada awalnya, aku cari pakai Google. Keyword-nya: event jakarta tanggal ini ini ini. Daaaan, jegejeng, dipertemukanlah aku dengan sebuah event kece. Deket lagi dengan tempatku. Langsung, deh, besoknya caw ke tempat.

Sabtu, 19 Desember 2015

"Wonder If I Gave An Oreo...."



Kesel, nggak, sih, kalo nonton TV nasional kita? Dikit-dikit iklan, dikit-dikit iklan. Trus pas programnya berlangsung pun kadang-kadang diselipin iklan juga. Anaknya guru fisikaku waktu SMA sampai ikutan ngomen, lho (FYI, dia orang Turki). Dia bilang, “Abla (kakak perempuan–red), kok di TV Indonesia banyak sekali iklannya, ya? Di Turki iklannya nggak sebanyak ini...” dan aku cuman bisa nyengir.

Bahkan, iklan di Indonesia sampai dilucu-lucuin sama Mbak Sacha Stevenson dalam video berikut ini....



Tapi, di sela-sela kekesalan kalian, pernah nggak kalian merhatiin iklan-iklan yang ada di TV kita? Siapa sangka, di balik iklan yang cuman berdurasi beberapa detik itu, yang kadang isinya itu apaan banget, terdapat otak-otak yang terperas habis buat mikir. Sepengetahuanku, nih, iklan itu terbentuk atas banyak pertimbangan. Seperti:
  • Gimana caranya agar dalam durasi yang sebegitu singkatnya pesan dari iklan bisa sampai pada penonton?
  • Gimana caranya agar iklannya ngebekas dalam pikiran penonton?
  • Gimana caranya agar penonton langsung ngiler sama produk yang ditampilkan dalam iklan?
  • Slogan atau jargon apa yang cocok untuk iklan ini agar dapat merepresentasikan si brand?
  • Iklan ini perlu jingle, nggak? Kalo perlu, jingle seperti apa yang bakal terngiang-ngiang di telinga penonton?
  • Siapa yang sekiranya bisa membintangi iklan ini agar penonton yakin dengan kualitas brand tersebut?

Sampai sini, masih menganggap iklan itu sepele?

Rabu, 09 Desember 2015

5 Keuntungan Menggunakan Twitter Versi Saya


Tren sosial media mengalami perubahan seiring dengan berubahnya zaman. Di saat tulisan ini diketik, sosmed yang saat ini sangat digandrungi muda-mudi adalah Instagram dan Path.  Kalo aku ngambil sampel dari kampusku aja, hampir semua anak kampusku punya Instagram dan sebagian besar selalu diupdate. Begitupula dengan Path. Kalo aku sendiri, sih, sebenarnya punya akun Path. Cuman, karena udah nggak tau mau diapain lagi, akhirnya sosmed ini aku tinggalin deh. Hehehe. Penting ya? Nggak sih. 

Btw, Twitter masih idup nggak, nih?

Minggu, 06 Desember 2015

How To Be A Changemaker Versi Andri Rizki Putra



Kejujuran telah menjadi barang yang sangat mahal saat ini. Rasanya, susah banget menerapkan kejujuran dalam hidup kita. Susah banget juga membuat sistem yang jujur dalam masyarakat kita. Dan, minimal, jujur pada diri sendiri pun kadang tak bisa sepenuhnya. Pokoknya, barang bernama jujur ini sudah sangat langka, layaknya margasatwa yang musti dilindungi banget.

Namun, ketika jujur itu bersuara, entah kenapa kebaikan itu ditentang oleh banyak orang. Begitulah yang pernah dialami oleh Andri Rizki Putra, kakak cakep pendiri Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) ini. Pada hari Senin, 23 November 2015, aku berkesempatan buat ketemu kakak ini dalam acara #KUTalk yang diadakan oleh Kampus Update dengan tema “Be The Young Changemakers”. Demi ketemu dapat ilmu dari kakak ini, aku pergi jauh-jauh dari Bintaro ke kantor Godrej yang terletak di daerah dekat Bandara Halim Perdanakusuma.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...