Selasa, 22 Desember 2015

Mencari Makna dalam Perjalanan bersama Agustinus Wibowo dan Fitri Mayang Sari




Travelling adalah sebuah hobi kekinian. Iya, nggak? Apalagi setelah sosial media menyerang. Orang berbondong-bondong untuk mengatakan bahwa dirinya travelling untuk memiliki bahan—entah status atau foto—untuk dikabarkan ke masyarakat dunia maya. Yang lagi kekinian adalah melakukan travelling entah ke mana, kemudian menulis sesuatu di kertas kayak “I love you from Mount Everest” dan sejenisnya, trus difoto dan dikirim ke orang tercinta. Kalau yang lebih kekinian lagi adalah foto-foto di taman bunga seakan dia adalah bagian dari bunga tersebut sampai bunganya terinjak nggak karuan. Hehehe. Yang ngikutin viral sosmed pasti tau, lah, ya.

Travelling jenis ini nggak aku temui pada sosok Agustinus Wibowo. Oke, dia travelling dan dia juga foto-foto. Tapi, kalo kalian baca bukunya, kalian pasti bakalan menemukan travelling sebagai sebuah pengembaraan batin yang begitu emosional. Well, actually I haven’t read his books yet. Tapi aku pernah datang ke acara bedah bukunya, dua kali lagi. Selain itu, aku senang banget baca-baca cerita perjalanan dan opini randomnya di www.agustinuswibowo.com.  

Pada hari Selasa, 24 November 2015, aku datang ke sebuah acara yang menurutku sangat berkesan. Di acara ini, Mas Agus juga hadir sebagai pembicara. Padahal aku baru aja menghadiri peluncuran buku barunya Mas Agus, Ground Zero, yang merupakan versi Bahasa Inggris dari buku Titik Nol, di Kinokuniya Plaza Senayan pada hari Jumat, 20 November 2015.

Acara ini merupakan acara yang diselenggarakan oleh Mezzanine Club (MC) dengan tema “The Adventure of A Lifetime”. Selain Mas Agus, ada juga Mbak Fitri Mayang Sari, founder dari Orang Jakarta yang telah melakukan travelling ke beberapa negara di Eropa.

Mengapa acara ini berkesan?

Pertama, venue acaranya di gedung pemerintah, bro! Tepatnya di Gedung A. A. Maramis II milik Departemen Keuangan RI. Wih, datang-datang ke sana berasa orang penting, lah. Usut punya usut, ternyata MC ini adalah sebuah klub yang dibentuk oleh alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang dalam pertemuannya ngebahas banyak hal sesuai tema. Acaranya MC yang aku hadiri ini merupakan yang kali ke-8.


Kedua, suasana akrabnya itu, lho! Karena yang hadir di sana banyak alumni STAN yang kerja di Depkeu, entah kenapa aku ngerasa suasananya udah akrab dari awal. Well, mungkin karena kesamaan nasib, ya. Nasib PNS-nya. Mungkin juga karena venue-nya ngebentuk huruf U (gara-gara acaranya di tempat rapat buat beasiswa LPDP. Cieh) dan itu psychologically (halah) membuat pembicara seakan berbaur dengan peserta.

Ketiga, isi dari acara itu sendiri! Serius, bikin nggak mau ngelirik gadget, dah! Padahal panitia juga nyediain hadiah menarik bagi peserta yang live tweet serta update Instagram. Berhubung isi materinya worth banget, aku lebih senang fokus sama yang diomongin daripada ngejar hadiah.

Keempat, aku gagal nambah koleksi kartu pos L Agak nyesel, sih, kenapa nggak sungguh-sungguh buat ikut kuis. Hadiahnya souvenir menarik dari Mbak Fitri dan salah satunya adalah kartu pos. Better luck next time, ya, Audi. Atau kalau bisa travelling sendiri, dah, berburu kartu pos luar negeri. Aamiiin!

Dan kesan terakhir, aku nggak pulang sendiri! Tepatnya sama dua orang mas-mas yang ngisi acara, yaitu Mas Reza dan Mas Benni, serta satu supir Grabcar. Karena mereka kebetulan—sekali lagi, KEBETULAN—arah pulangnya juga ke Bintaro. Tepatnya ke STAN. Well, aku merasa jadi lucky bastard banget, habis dateng ke acara keren trus pulang dapat tumpangan wkwk. Dari cerita mas-mas ini, aku lebih tau tentang Mezzanine Club. Trus juga tentang Mbak Fitri yang punya banyak koneksi serta senang menjelajahi kota Jakarta sehingga membuatnya terinspirasi untuk mendirikan orangjakarta.com.

Kemudian, apa saja yang aku dapat dari acara ini?

Yang pertama kali sharing adalah Mbak Fitri. Bagi mbak ini, a journey is a lesson. Yang dilakukan Mbak Fitri ternyata nekad banget. Kan, Mbak Fitri itu masih jadi mahasiswa PKN-STAN. Kebetulan kemaren PKN-STAN ngadain libur panjang selama lima minggu. Jadi, Mbak Fitri berpikiran bahwa itu adalah waktu yang tepat buat travelling ke Eropa dan itu dia lakukan sendirian! Kota di Eropa yang dikunjungi Mbak Fitri di antaranya Amsterdam, Granada, Paris, dan Jenewa.

Sesi sharing pun langsung dilanjutkan oleh Mas Agustinus. Dia melakukan presentasi dengan menampilkan foto-foto hasil jepretannya selama di negara favorit mas ini, Afganistan. Kisah perjalanannya kurang lebih sama dengan yang dia ceritakan sebelum-sebelumnya. Akan tetapi, rasanya lebih lengkap kalau diceritakan langsung dari orangnya. Apalagi mas ini kalau bicara tak lepas dari mendalami makna filosofis. Banyak banget quotes bijak yang keluar dari mulut mas ini.   

·         Di awal presentasinya, Mas Agus bilang, “Hidup itu ibarat buku. Siapa yang tidak melakukan perjalanan maka ia hanya berhenti pada halaman pertama.”
·         Ketika ditanya mengenai sebuah tempat yang ingin dia tinggali untuk selamanya, mas ini menjawab, “Tidak ada, soalnya saya masih ingin melakukan perjalanan lagi dan masih ingin terus mencari.”
·         Ketika ditanya tentang makna Titik Nol, Mas Agus menjawab, “Titik nol bermakna sebuah kepulangan. Pulang adalah bagian terpenting dalam suatu perjalanan. Dan kepulangan itu bukan hanya kembali ke Indonesia, bukan hanya sebuah titik geografis. Akan tetapi, pulang itu kembali ke dalam hati, memaknai hidup, dan banyak lagi artinya.”

Karena peserta banyak yang berasal dari PNS, Mas Agus udah bikin envy dengan cerita, “Waktu saya bangun pagi, tiba-tiba saya kepikiran, ‘Jalan-jalan ke Myanmar enak, nih.’” Yap, di saat orang lain memikirkan persiapan ke kantor di pagi hari, mas ini malah berpikir buat jalan-jalan. Duh, kayaknya hidup kayak Mas Agus enak, ya...

Tapi, seperti kata peribahasa: no pain, no gain. Perjalanan Mas Agus juga nggak seenak yang dikira. Di Afganistan, dia musti berhari-hari berjalan menelusuri bebatuan terjal sampai kulitnya terbakar semua. Dirampok, kecopetan, udah biasa. Karena kecopetan pulalah dia akhirnya kepepet jadi jurnalis. Dan itulah yang membuat kisah perjalanannya tertuang dalam bentuk buku.

Mas Agus juga berencana ingin membuat sebuah buku berisi perjalanannya mengelilingi kota di Indonesia. Karena ini adalah project yang besar, maka masih belum akan diterbitkan di waktu dekat. Perjalanan mas ini di Indonesia sebenarnya sudah dimulai dari dia menjelajahi perbatasan Papua dengan Papua Nugini. Ceritanya tentang Papua Nugini juga udah bisa dibaca di website-nya. Untuk perjalanan lengkapnya dalam bentuk buku, masih harus ditunggu, ya.  

Kesimpulan yang aku dapat dari acara ini adalah mengenai makna lain dari sebuah perjalanan. Dari Mas Agus dan Mbak Fitri, aku mendapat inspirasi untuk lebih memaknai perjalanan yang akan aku lalui. Perjalanan itu nggak diukur dari seberapa banyak orang yang tau kita pergi ke mana atau seberapa banyak like yang didapat di sosmed kita, tetapi dari seberapa besar pemahaman kita dalam memaknai setiap langkah kita dalam perjalanan itu. Hedeuh.

Yang pastinya, aku setuju banget sama Mbak Fitri bahwa perjalanan adalah me time terbaik. Karena perjalanan itu dapat menambah pengalaman kita. Dari pengalaman tersebut, banyak yang dapat kita pelajari dan dapat mendewasakan kita. What a priceless lesson!

Jadi, kapan mau travelling?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.