Sabtu, 30 Januari 2016

An Open Letter For Abang Persie


Dear Abang Persie, 

Do you know why I called you "abang"? 

"Abang" is "older brother" in--actually I'm not really sure--Betawi language. I'm the first daughter in my family. I really wish I could have an elder brother someday but it's impossible. So, I called you "abang" and imagine if you were really my older brother, LOL. Sorry for this. 

Oh, and do you remember yourself in that picture? Or maybe he was just someone else? 

It's been three years since you decided to leave the club that has made your name to be this famous. You were the captain. You were number 10. But those "trophyless" jokes might be the reason why you chose that hateful decision. For us, the fans who laid our arms to you. However, I tried to accept whatever you choose, because it could be the best for you. 

Kamis, 28 Januari 2016

Menjadi Kutu Buku Yang Kekinian!


Pernah kepikiran, nggak? Kok orang yang kecanduan buku mendapat julukan 'kutu buku'?

Ketika aku search di Google, orang punya pendapat yang berbeda-beda soal arti dari julukan ini. Ada yang bilang bahwa orang yang suka baca buku itu kerjaannya nempeeel terus sama buku layaknya kutu di kepala. Ada pula yang berprasangka bahwa istilah 'kutu' itu disematkan oleh para penjajah untuk pribumi karena negatifnya istilah tersebut agar orang pribumi tidak senang membaca.

Kalau boleh berpendapat, kutu itu memiliki filosofinya sendiri. Selain suka nempel, kutu juga senang mengisap darah dari kepala. Jika dikaitkan dengan buku, orang yang senang membaca itu bisa 'mengisap' isi dari buku tersebut sebagai nutrisi untuk otaknya. Karena itulah sebagian besar kutu buku dianggap 'pinter' oleh teman-temannya.

Tak hanya mengisap darah saja. Kutu pun penyebarannya cepat. Dalam satu rumah, satu anggota keluarga saja yang kena kutu, anggota keluarga lain bisa tertular (based on true story, hihihi). Nah, begitu pula seharusnya dengan orang yang senang membaca buku. Jika dalam satu lingkungan ada yang suka baca buku, orang lain pun bisa mengikuti dia untuk membaca.

Oke, ada yang berminat buat menjadikan buku sebagai hobinya. Lantas, relakah mereka-mereka ini dikasih julukan 'kutu buku'?

Minggu, 24 Januari 2016

Ternyata Sukses Itu Sederhana...


Kata "sukses" memiliki banyak definisi. Tolak ukur kesuksesan pun tergantung pada masing-masing individu. Tetapi, kata "sukses" secara umum itu lebih banyak diukur dengan materi, seperti kekayaan, jabatan, serta prestasi.

Well, aku juga nggak menyangkal bahwa salah satu indikator sukses memang bisa dilihat dari materi. Aku pun ngebayangin bahwa aku sudah sukses jika bisa dapat gaji bulanan, bisa membiayai keuangan keluargaku, mendapat beasiswa kuliah di luar negeri, serta meniti puncak karier. Pokoknya sukses itu muluk banget buatku. Aku merasa bahwa perlu waktu yang panjang untuk mencapai kesuksesan itu.

Kemudian, sebuah tulisan blog menyadarkanku.

Jumat, 22 Januari 2016

Mengikuti Kelas Melukis Bersama Bipolar Care Indonesia


Banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal gangguan Bipolar (Bipolar Disorder). Penyakit ini merupakan salah satu penyakit mental yang ditandai dengan adanya mood-swing atau perubahan mood secara tiba-tiba. Perubahan ini umumnya terdiri atas dua fase, yaitu fase manic dan fase depresi.  Jika penderitanya berada pada fase manic, dia akan merasa senang secara berlebihan. Namun jika dia berada pada fase depresi, maka dia akan mengalami depresi berlebihan. Bahkan memiliki keinginan untuk bunuh diri. Karena itulah perlu adanya perhatian khusus kepada para penderita penyakit ini.

Komunitas Bipolar Care Indonesia (BCI) menjadi komunitas yang peduli pada para penderita Bipolar. Kepedulian tersebut salah satunya dilakukan dengan mengadakan kegiatan art therapy, yaitu Kelas Melukis dan Kelas Biola. Sabtu (9/1) kemarin, aku dan temanku, Asti, berkesempatan untuk berpartisipasi dalam Kelas Melukis. Kegiatan ini diadakan di Gedung A Kemendikbud Senayan, Jakarta.

Tidak hanya penderita bipolar yang mengikuti kelas ini, yang bukan penderita juga bisa ikut ambil bagian. Hitung-hitung buat menghilangkan stress, lah. Kegiatan melukis ini dipandu oleh seorang seniman sekaligus art therapist, Pak Joko Kisworo, 

Rabu, 20 Januari 2016

21 Hal yang Aku Lalui Sampai Menjadi Fangirl Akut!

Akhirnya Audi ngomongin korea-koreaan lagi!!

Jun #aegyo

Coba, deh, kamu liat-liat postinganku tahun 2012. Pasti kamu bakal nemu beberapa tulisanku soal Kpop. Kalau membaca tulisan itu lagi, aku jadi nge-flashback ingatanku lagi soal bagaimana gilanya aku dengan segala hal berbau Korea. Perjalanan menuju kegilaan ini pernah aku tulis di Persimpangan Jalan Penyuka Kpop. Serius, aku ketawa pas baca tulisanku lagi.

Fangirling, bagi beberapa orang bukan lagi sebagai hobi atau kegiatan yang dilakukan di waktu luang. Tetapi sudah ada yang menjadikan itu sebagai gaya hidup. Bahkan sebuah dedikasi hidup. Ada fangirl yang mendedikasikan hidupnya demi sang idola. Ketika dia memiliki penghasilan, dia menghabiskannya untuk menonton konser, membeli album original yang ada tanda tangan si bias, membeli suvenir artis (kayak poster, lightstick, gantungan kunci, postcard, dll), membeli kuota internet buat download MV atau streaming konser, dan segala kegiatan fangirling lainnya. Serius, ada yang kayak gini.

Bagi yang awam mungkin udah berpendapat, "Ih, apaan duit dihabisin buat gitu doang? Yang diidolain nggak bakal jadi suami loe juga kali!" Boleh, lah, kalian memiliki pendapat seperti itu. Tapi serius, sekali lagi SERIUS, jangan sampai kalimat yang aku merahin itu kalian ucapkan tepat di hadapan si fangirl! You could be the one who initiate The World War III! Oke kalau maksud kalian buat ngelurusin ketika fangirling-nya udah keterlaluan sampai ngeinstall CCTV diam-diam di dorm-nya si artis biar bisa liat kegiatan sehari-harinya, misalnya. Tapi, kan, masih ada bahasa yang lebih persuasif dan membangun buat ngelurusin, kan? :)

Aku pernah memasuki dunia fangirling sehingga aku tau rasanya gimana.

Senin, 18 Januari 2016

Menguji Kemampuan Trivia dengan QuizUp


Banyak yang nggak tau kalau Audi itu adalah seorang gamer. Yap, salah satu hal yang bisa aku lakukan ketika mengisi waktu luangku adalah bermain game. Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan kalo aku itu pemain Dota, PB, atau sejenisnya. Jenis game yang biasanya aku mainkan adalah trivia game, yaitu permainan yang menguji kemampuan pengetahuan umum kita. Biasanya trivia game itu formatnya dengan menjawab soal-soal dengan kategori tertentu.

Trus kalo lo cuman main game gituan lo masih ngaku-ngaku gamer?

Bodo amat.  

Salah satu trivia game favoritku adalah QuizUp. Keberadaan permainan ini aku ketahui dari salah satu akun Twitter fanbase Arsenal. Akun itu bilang kalo kita bisa menguji pengetahuan mengenai Arsenal di QuizUp! Soalnya, di aplikasi tersebut ada kategori khusus Arsenal. 

Karena penasaran, akhirnya aku download aplikasi ini di Android.

Sabtu, 16 Januari 2016

5 Reasons Why You Have To Start Postcrossing!

Kartu pos favoritku di 2015

Sebagai orang yang terlahir di tahun 90an, perbedaan cara komunikasi jarak jauh antara dulu dan sekarang udah beda banget. Dulu, aku punya sahabat pena di beberapa wilayah Indonesia. Komunikasinya dilakukan dengan surat-suratan atau berkirim kartu pos. No hape. No sosmed. Kalau sekarang, karena komunikasi sudah sangat mudah dan praktis, kegiatan surat menyurat pun mulai ditinggalkan. Bahkan, tampaknya anak kecil zaman ini sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya berkirim surat.


Meskipun begitu, masih ada, kok, orang-orang yang masih hobi melakukan kegiatan yang berhubungan dengan surat-suratan. Postcrossing misalnya. Kamu masih bisa menemukan komunitas pecinta kartu pos ini di cardtopost.com (Indonesia) atau postcrossing.com (Worldwide). Kalo mau gabung tinggal masuk ke situsnya aja. 

Bagi yang ketertarikan soal postcrossing masih 50% atau kurang, mungkin kamu belum menemukan alasan tepat buat mulai berkirim kartu pos. Mungkin 5 alasan ini bisa mengilhami kamu.... 

Kamis, 14 Januari 2016

Pengalaman Pertama Menonton Indonesian Basketball League di Senayan!


sumber

Kalau soal tonton-menonton pertandingan olahraga, aku paling suka menonton sepak bola dan bulutangkis. Okelah menonton olahraga lain, selama itu pertandingan multievent yang ada kontingen Indonesia-nya. Nah, kok tiba-tiba Audi jadi nonton basket, sih?

Jujur, pengalamanku menonton basket ini benar-benar nggak pernah direncanakan sebelumnya. Bahkan aku nggak tau kalo hari itu bakal ada pertandingan Indonesian Basketball League (IBL). Semua ini bermula dari datang ke event Kelas Melukis yang diadakan oleh Bipolar Care Indonesia di Gedung Kemendikbud Senayan, Jakarta. Waktu itu aku pergi sama Asti. Selesai dari kelas melukis, rencananya kami pengen jalan-jalan, nih. Monas pun terpilih sebagai destinasi perjalanan. Tetapi, karena waktu itu udah hampir Magrib (dan kami juga masih keliling-keliling nyasar di GBK huhu), kami pun memutuskan buat langsung pulang aja.

Waktu otw ke Stasiun Palmerah, kami bakalan keluar dari kawasan GBK lewat Pintu 8. Kan, pintu 8 deket sama Basketball Hall. Di sana, kok, kayaknya rameeee banget. Karena penasaran, maka kami memutuskan untuk nimbrung. Ternyata ada penyelenggaraan IBL! Hari pertama pula!

Atmosfer nggak biasa di sekitar Hall A Senayan yang bikin kami tertarik buat gabung.
Awalnya, aku ngajuin syarat ke Asti, "Kalo tiketnya di bawah 25 ribu aku nonton!"

Harga tiket paling murah 60 ribu.

Dan aku tetep nonton. Heuheu.

Rabu, 06 Januari 2016

3 Lagu Rekomendasi Buat Ningkatin Pede!


Ahmad Rifai Rifan, penulisan buku best seller 'Tuhan Maaf Kami Sedang Sibuk", pernah mengutarakan resep produktifnya. Salah satunya adalah menghilangkan lagu-lagu "cengeng" dari pendengaran kita. Lagu tersebut memiliki potensi baper yang lumayan tinggi. Dan biasanya kalau udah terlanjur baper, air mata pun menitik, lalu kita akan memikirkan penyesalan, sakit hati, merendahkan diri, dan banyak pikiran negatif lainnya sehingga terkadang hal itu bisa merusak mood dan menghambat produktivitas. Well, tentunya itu bagi yang masih belum terlatih dalam menghandle bapernya. Termasuk aku, sih.

Jadi, ada baiknya lagu-lagu genre begituan dihilangkan dan diganti dengan lagu-lagu yang bikin semangat. Lagu-lagu tersebut bakal bikin kita mengalami efek sebaliknya dari lagu galau. Nggak percaya? Mas Rifai sempat ngasih challenge kayak gini, "Coba antum dengerin satu lagu galau dan setel berulang-ulang. Trus besoknya dengerin lagu yang lebih bersemangat dan setel berulang-ulang juga. Pasti efeknya bakalan beda."

Aku sendiri udah ngebuktiin kok. Dengerin lagu galau itu efeknya emang jelek. Sekali lagi, ini bagi yang masih belum professional buat ngehandle baper. Berbeda ketika aku dengerin lagu yang liriknya ceria. Suasana hatiku bakal ikut kebawa menjadi ceria. Suasana hati juga berdampak pada performa dalam kegiatan yang aku ikuti.

Jumat, 01 Januari 2016

Akhirnya Audi Masak Juga! : Puding Oreo



Sebelum baca resep, Audi boleh curhat dulu nggak?

(Kalo males baca curhatan, langsung skip ke resep aja, yaaa)

Memasak itu bukan Audi banget. Sedari kecil, tepatnya waktu SD, aku ilfil banget sama yang namanya memasak. Pertama, aku sering dibandingin sama anak tetangga. Kebetulan si tetangga punya warung makan. Trus anaknya yang seumuran denganku bisa masak, dari nasi goreng sampai kue-kue kering. Umur kami waktu itu masih 9 tahun. Trus ada yang bilang, “Tuh, si itu aja udah bisa masak, lho. Masak ini masak itu. Kamu kapan bisa masak?” Dan bagi anak-anak seusia gitu, dibanding-bandingin adalah isu yang sensitif. Eh, semua orang juga nggak suka kali dibandingin. Itu malah bikin aku antipati sama memasak. Aku berpikir, “Ih, kalo aku bisa masak ntar disamain sama anak itu. Gengsi, ah.”