Jumat, 01 Januari 2016

Akhirnya Audi Masak Juga! : Puding Oreo



Sebelum baca resep, Audi boleh curhat dulu nggak?

(Kalo males baca curhatan, langsung skip ke resep aja, yaaa)

Memasak itu bukan Audi banget. Sedari kecil, tepatnya waktu SD, aku ilfil banget sama yang namanya memasak. Pertama, aku sering dibandingin sama anak tetangga. Kebetulan si tetangga punya warung makan. Trus anaknya yang seumuran denganku bisa masak, dari nasi goreng sampai kue-kue kering. Umur kami waktu itu masih 9 tahun. Trus ada yang bilang, “Tuh, si itu aja udah bisa masak, lho. Masak ini masak itu. Kamu kapan bisa masak?” Dan bagi anak-anak seusia gitu, dibanding-bandingin adalah isu yang sensitif. Eh, semua orang juga nggak suka kali dibandingin. Itu malah bikin aku antipati sama memasak. Aku berpikir, “Ih, kalo aku bisa masak ntar disamain sama anak itu. Gengsi, ah.”


Kedua, aku diejek ketika aku memasak. Tepatnya ketika ujian praktik muatan lokal waktu SD. Kami disuruh untuk memasak masakan Banjar. Ketika aku lagi memotong tempe, aku diketawain oleh temanku. Dibilang, “Audi nggak bisa masak!” trus jadi pusat perhatian. Malu, nggak? Well, karena aku juga susah ngehandle baper, kejadian itu cukup membekas dan bikin aku tambah anti sama memasak. Bahkan, aku juga punya tekad, “Ntar kalo udah gede harus jadi kaya pokoknya biar bisa punya pembantu!”

Ketika aku sudah masuk SMA, aku udah mulai aware sama pentingnya punya kemampuan dasar untuk memasak. Apalagi aku masuk sekolah berasrama. Minimal masak mie instan telur. Antisipasi kalau-kalau nggak doyan sama makanan asrama. Trus, di asrama biasanya abla-abla seneng banget bikin acara masak makanan Turki. Biasanya aku bantuin. Biar cuman sekadar beli bahan, motong sayur, plus tester, hehehe.

Biasanya, aku masak kalau aku pengen makan aja. Itu pun aku pasti pilih makanan yang nggak ribet buat dimasak. Mie instan misalnya. Pernah punya niat masak di luar alasan kelaparan tadi, tapi cuman sekadar niat doang.

Pada akhirnya niat masak-masak for fun pun terwujud. Puding Oreo inilah perwujudannya. And actually, this lovely dessert was dedicated for the one who loves spending his whole day dating his so-called bustle until he had no time to say even only a single “Hi” for me. Duh. Tapi pada akhirnya dibagi-bagiin ke mana-mana. Sebagian pun ada yang masuk perut sendiri, hehe.

Oke, ini resepnya juga hasil penelusuran Google with a little modification:

Result
Bahan:
1 bungkus puding coklat
50 gr gula pasir
1 sendok makan cokelat bubuk
800 ml susu coklat
50 gr dark chocolate
Biskuit oreo sesuai selera, diremukan.

Cara membuat:

  1. Campur puding coklat, gula pasir, cokelat bubuk, susu coklat, dan dark chocolate.
  2. Masak hingga mendidih.
  3. Tuangkan campuran tadi ke dalam cetakan.
  4. Taburkan oreo di atas cetakan tersebut dan diamkan.

Selamat mencoba~ ^^

Kalau punya modifikasi lain untuk resep ini, boleh banget share idenya di kolom komentar.


2 komentar:

  1. oreonya ngga keliatan Audy...heheh. makin mantap pakai fla ituh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya mbak. Aslinya oreonya ada sih yg paling bawah, cuman faktor antara kamera hp yg ga mendukung atau kemampuan fotografernya wkwk. Iya mbak flanya lupa dimasukin wkwk. Makasih atas masukannya ya mbak ^^

      Hapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...