Sabtu, 26 Maret 2016

Introvert Problem #4: Tangan Lebih Cerewet dari Mulut


Masih agak berhubungan dengan Introvert Problem #3: Hemat Ngomong, sebagian besar introvert memang nggak terlalu banyak ngomong, meskipun tak menutup kemungkinan kalau introvert itu cerewet. Jika introvert sudah cerewet, cerewetnya bisa melebihi cerewet orang kebanyakan.

Tak hanya mulut saja yang cerewet. Tangan juga bisa cerewet, lho! Bahkan, beberapa introvert lebih cerewet lewat tangannya daripada lewat mulutnya. Melalui tangannya, introvert bisa menulis apa yang sedang dia pikirkan. 

Contohnya aku. 

Kamis, 24 Maret 2016

Ingin Postcrossing? Bisa Dengan 3 Cara Ini, Lho!


Postcrossing telah menjadi sebuah hobi yang unik. Ketika orang-orang dengan mudahnya bisa bertukar pesan dengan bantuan teknologi, masih ada juga segelintir orang yang rajin berkirim kartu pos sebagai sarana komunikasinya, entah kepada kerabat ataupun sahabat pena. Tak hanya untuk komunikasi, kartu pos juga bisa dijadikan sebagai koleksi. Untuk kepuasan pribadi tentunya.

Lantas, apa, sih, manfaat berkirim kartu pos ini? Hal ini sudah aku uraikan dalam 5 Reasons Why You Have To Start Postcrossing. Postingan ini juga bikin seorang temanku pengen postcrossing, lho! Sedangkan untuk kartu pos yang ingin dikirim, kita bisa memilih antara pakai kartu pos yang sudah jadi atau mengkreasikan sendiri. Salah satu contoh kartu pos kreasi sendiri sudah aku pos di Tutorial: Bikin Handmade Postcard.

Nah, setelah memiliki kartu pos yang siap untuk dikirim, langkah selanjutnya tentu saja mengirimkannya. Caranya: tulis alamat tujuan, antar ke kantor pos, tunggu sampai kartu posnya diterima, dan tinggal tunggu balasan kartu posnya! Simple, kan?

Jumat, 18 Maret 2016

Unforgettable Nasi Kuning Masak Habang



Sebelumnya, aku tidak pernah membayangkan bahwa Bitung, sebuah kota yang berada di ujung utara Pulau Sulawesi, akan menjadi kota domisiliku. Saat aku menulis tulisan ini, sudah dua minggu lamanya aku menjalani kehidupan di tempat ini. Budaya, adat istiadat, serta kebiasaan yang dijalani oleh masyarakat lokal masih sangat baru buatku sehingga aku perlu menyesuaikan diri agar bisa berbaur. Yang aku syukuri, lingkungan tempat tinggalku serta lingkungan kantorku diisi oleh orang-orang yang ramah. Mereka tak sungkan-sungkan memberiku penjelasan mengenai cara bertahan hidup di Bitung, tak terkecuali tips untuk mencari makanan halal.

Yap, jadi ini juga pertama kalinya aku menjadi minoritas di tempat perantauanku. Jika biasanya aku bisa bebas berkeliaran buat wisata kuliner sendirian with no hesitation, kali ini aku memerlukan petunjuk dari guide jika ingin membeli makan di sebuah tempat. Karena itulah baik teman kompleks maupun teman kantor sudah memberi beberapa rekomendasi tempat makan yang makanannya insya Allah halal. Salah satu makanan yang sudah aku coba adalah nasi kuning yang dijual dekat kantor. Satu bungkus nasi kuning bisa didapatkan dengan harga 5000 rupiah saja. Nasi kuning ini biasanya terdiri atas nasi, abon ikan, telur, kacang, dan sambal. Tak lupa pemilik warung juga menambahkan kerupuk sebagai pelengkap. Lumayan, lah, bisa mengisi perut.

Menyantap nasi kuning di banua orang selalu membuatku teringat dengan nasi kuning yang biasa jadi santap pagiku di kampung halaman, Kandangan. Sebelum aku tinggal di Bandung, aku pikir semua nasi kuning di Indonesia itu penyajiannya sama dengan nasi kuning di Kandangan. Ternyata, setiap daerah memiliki nasi kuningnya sendiri!

Rabu, 16 Maret 2016

7 Lagu Viral Boyband/Girlband Indonesia Pada Masa Demam Kpop

Kini aku pengen ngebawa kalian nostalgia!

Nostalgianya nggak jauh-jauh amat, kok. Nggak sampai lebih 10 tahun yang lalu. Fenomena ini tepatnya terjadi waktu aku baru kelas 10, sekitar tahun 2010. Waktu itu, Kpop berada di puncak popularitasnya sehingga banyak kemudian bermunculan boyband dan girlband Indonesia yang mengadaptasi Kpop. Sayang banget, kemunculan mereka mendapat respon negatif. Banyak yang bilang plagiat, nggak berkualitas, bisanya niru-niru, modal tampang, suara jelek, kalo tampil lipsync mulu, dance nggak sinkron, banyak dah pokoknya. Duh, kalo aku jadi mereka, kayaknya tidurku nggak nyenyak, deh. Di-judge mulu.

Kalo dipikir lagi, ada nggak, sih, orang yang baru mulai langsung bagus banget? Kenyataannya, banyak orang yang harus melalui berbagai proses dulu sebelum dikatakan bagus. Kpop yang kita lihat saat ini juga merupakan hasil dari proses yang panjang, dari adaptasi kemudian menemukan warna musiknya sendiri. Menurutku, kalau saja boyband dan girlband tadi bisa bertahan dan memiliki kualitas yang khas, mungkin saja dunia musik Indonesia akan menemukan style-nya sendiri dan bisa mendunia. Menurutku, sih, yaaa. Apa aku yang terlalu banyak bermimpi?

Senin, 14 Maret 2016

IndonesiaX, Solusi Waktu Gabut Saya



Saya pernah membagikan sebuah gambar di akun Instagram saya. Gambar tersebut merupakan screenshot dari tampilan kursus online gratis yang saya ikuti di IndonesiaX. Di bawah gambar itu, saya menjabarkan keterangan sebagai berikut:
Walaupun aku bukan mahasiswi Ilmu Komunikasi lagi, aku masih bisa kursus broadcasting, lho. Gratis pula! Tinggal login jadi member di indonesiax.co.id dan pilih kursus yang pengen diikuti. Nggak cuman broadcasting doang, dari economy sampai engineering pun ada! Direkomendasikan banget nih terutama buat yang lagi nganggur (gara2 belum dapet pengumuman pkl huhuhu). Mumpung hari libur dan banyak waktu luang, yuk habiskan waktunya buat produktif!
Seruan ini saya tujukan terutama untuk teman-teman seperjuangan saya yang juga masih menunggu pengumuman pemberangkatan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Selama masa penungguan itu, kami sudah dinonaktifkan dari kegiatan kampus. Jadi, bisa dibilang kami memiliki banyak waktu luang (Bahasa kasarnya, sih, pengangguran, hehe).

Sabtu, 12 Maret 2016

Introvert Problem #3: Hemat Ngomong


Introvert itu pendiam.

Ah, nggak juga.

Di beberapa artikel yang aku baca, ternyata orang introvert itu belum tentu pendiam, lho. Dia juga bisa, kok, ngomong banyak. Bahkan, bisa lebih cerewet dari ekstrovert.

Kamis, 10 Maret 2016

5 Jenis Kegiatan Tanpa Listrik Yang Perlu Dicoba Ketika Mati Listrik

Ketika aku menulis ini, di kotaku sekarang sedang ada pemadaman bergilir. Pemadamannya pun cukup lama, dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore. Yang nggak terbiasa hidup tanpa listrik pasti udah serem banget dengar kabar itu, termasuk aku, hehe. Masih untung, sih, pemadaman listriknya itu bilang-bilang dulu. Jadi, sebelum mati listrik kitanya sudah siap nge-charge beberapa barang berharga macam HP dan laptop biar bisa dipakai buat mengisi waktu sembari nunggu listrik nyala. Coba kalau dadakan. Beuuuh.

Nah, bagaimana jika dalam keadaan itu semua barang kelistrikan kita low batt dan nggak bisa dipakai buat ngapa-ngapain lagi? Masa bengong aja? Nah, daripada bengong, berikut ada lima jenis kegiatan tanpa listrik yang perlu dicoba saat mengalami mati listrik:

Jumat, 04 Maret 2016

National Girls' Ideal Type


Sebagai peringatan, tulisan ini bukan scientific, ya. Bukan. Ini hanyalah tulisan dari sudut pandang cewek, yang dilengkapi dengan fakta-fakta di lapangan tentunya. Halah.

Oke, ideku dalam menulis postingan ini terinspirasi dari giveaway yang diadakan oleh akun @NovelAddict_ di Twitter. Untuk memenangkan buku My Boyfriend Wedding Dress Penerbit Haru dari giveaway tersebut, peserta harus menjawab pertanyaan ini:

Kalau diibaratkan artis, siapa calon pendamping hidup idealmu? Alasannya?

Karena aku juga ikutan giveaway ini, iseng-iseng aku telusuri jawaban peserta lain dengan ngeklik hashtag #MyBFWeddingDressGA. Jawabannya macam-macam. Dari artis Indonesia, artis Korea, atlet, bahkan penghafal Alquran. Akan tetapi, dari sekian banyak jawaban, aku menemukan dua orang artis yang lebih banyak disebut dari yang lain.

Mereka adalah..... 

Rabu, 02 Maret 2016

My Current Life



Terus terang, beberapa hari yang lalu aku sudah dibikin speechless oleh kampus akibat pengumuman yang serba dadakan. Rabu masih bisa bobo cantik di kampung halaman. Kamis kaget karena harus segera balik ke Tangsel. Jumat otewe. Sabtu packing. Dan hari Minggu aku langsung berangkat ke tempat perantauan baru di ujung Pulau Sulawesi untuk melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama beberapa bulan ke depan.

Kota perantauan baru itu namanya Bitung, yang bisa ditempuh satu jam naik mobil jika berangkat dari Manado.

Ketika aku menulis ini, aku masih ngeblank. Aku hanya diberi sedikiiiit banget waktu untuk "mendalami" kota yang akan aku tinggali itu. Hanya bermodalkan Google dan cerita dari senior. Materi tersebut kalau ibarat makanan yang masuk ke mulut langsung diteguk ke kerongkongan, nggak dikunyah dulu. Ya, maksudnya nggak ada waktu buat menikmati makanan tersebut serta merasakan bahan apa saja yang terdapat di makanan yang aku kunyah, sebelum pada akhirnya makanan tersebut masuk ke dalam lambung. Kaget. Keselek. Gitu lah pokoknya perasaanku akhir-akhir ini.

Namun, di samping keluhanku mengenai keselek moment yang satu ini, Bitung adalah kota yang unik. Inilah pertama kakinya aku berada di kota yang diapit oleh gunung dan laut. Di sini juga pertama kalinya aku menjadi seorang minoritas dan menyaksikan pemandangan jalan yang benar-benar berbeda dengan ketika aku berada di kota perantauan terdahulu. Aku juga belajar bahasa baru, Bahasa Manado. Tetangga kompleks juga sedang berusaha membuatku suka makanan pedas. Dan banyak lagi hal unik yang aku alami hanya dalam waktu sekitar tiga hari.

Mungkin juga karena masih keselek, beberapa draft tulisan di blog masih belum bisa aku lanjutkan. Aku sedang dalam tahap beradaptasi dengan budaya baru dan dunia kerja sehingga masih belum terlalu nyaman untuk melanjutkan tulisan. Beberapa tulisan yang muncul beberapa hari ini merupakan tulisan blog yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari.

Nanti ada saatnya aku bakalan balik ngeblog dengan tulisan baru. Yang pastinya, aku nggak bakalan ngelewatkan momen-momenku selama di Bitung. Jadi, tunggu aja cerita Audi soal Bitung, ya!

Semoga tetap betah nongkrong cantik di blog ini, ya! ^^


Tulisan pertama di Bitung
ditulis Rabu, 2 Maret 2016
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...