Jumat, 01 April 2016

5 Fakta Unik Tentang Angkot di Bitung



Angkutan umum adalah sahabatnya para perantau. Terutama bagi mereka yang nggak punya motor sendiri di tempat perantauannya. Jika diperhatikan, transportasi umum yang paling umum banget ditemukan di setiap kota adalah angkot. Tak terkecuali Bitung, tempat perantauanku saat ini. Sebutannya emang nggak mesti angkot. Transportasi ini juga memiliki nama lain seperti bemo, mikrolet, atau lin. Tergantung daerah yang memilikinya.

Lalu, bagaimana dengan angkot di Bitung? Jika kamu terbiasa naik angkot di pulau Jawa, besiap-siaplah untuk takjub! Angkutan umum yang biasa aku naiki untuk pulang-pergi kerja ini memiliki beberapa keunikan yang nggak aku temui di angkot-angkot yang pernah aku tumpangi sebelumnya! Apa sajakah keunikan itu?


Pertama, nggak bisa tatap-tatapan dengan penumpang lain.

Suasana di dalam angkot

Jika aku naik angkot di Bintaro, biasanya aku duduk menyamping sehingga otomatis menghadap penumpang lain. Kecuali kalau duduknya samping Pak Supir. Pasti hadapnya ke depan. Nah, kalau angkot di Bitung lain lagi. Semua penumpang diperlakukan adil. Maksudnya menghadapnya ke depan semua, hehehe. Jadi, di belakang tempat duduk Pak Supir terdapat tiga baris tempat duduk lagi. Kapasitasnya pas antara 7-8 orang. Jadi nggak perlu takut buat dipaksa desak-desakan sama penumpang lain. Soalnya kalo tempat duduknya hadap-hadapan, biasanya Pak Supir suka maksain penumpang buat masuk. Padahal udah jelas sesak banget heuheu. Dan tempat duduk seperti ini juga berlaku di seluruh Sulawesi Utara. 


Dua, Pak Supir nggak tau "Kiri"

Pada suatu siang di Bitung, temanku naik angkot menuju kantor. Kemudian, salah satu penumpang ingin berhenti. Penumpang itu bilang, "Kiri!" dengan suara lantang, tetapi Pak Supir tetap tidak mau berhenti. Akhirnya, temanku membantu penumpang tersebut dengan bilang, "Muka!" barulah angkot berhenti. 

Yap, jika mau menghentikan angkot di Bitung, bilangnya "Muka!", mungkin maksudnya akan berhenti di depan gitu kali, ya. Kalo mau terdengar lebih lokal lagi, bisa bilang, "Muka, Om!" atau "Muka jo!"


Tiga, angkot menyesuaikan penumpang.

Jika ada penumpang yang ingin naik dan menanyakan tujuan pada si supir angkot, biasanya ada dua kemungkinan. Pertama, penumpang tersebut adalah seorang pendatang. Kedua, penumpang tersebut warga lokal yang belum pernah naik angkot. Tetapi, ternyata kedua kemungkinan tersebut hangus ketika aku naik angkot di Bitung. Hampir semua penumpang yang ingin naik angkot menanyakan tujuan si angkot. Barulah aku bisa menyimpulkan bahwa ternyata Pak Supir biasa menyesuaikan angkotnya dengan penumpang, bukan penumpang yang menyesuaikan dengan angkot. Jadi berasa taksi aja. 

Sebenarnya, di setiap angkot sudah dipasang kode dalam bentuk abjad. Setahuku juga jalur angkot sudah ditentukan dalam perda. Namun memang masih terlihat nggak terlalu diterapkan di sini. CMIIW.


Empat, hampir nggak pernah sepi.

Sampai menyediakan pemutar musik

Angkot di Bitung memang hampir selalu penuh. Apalagi kalau pagi hari ketika anak-anak pergi sekolah, buruh-buruh pergi ke pabrik, dan bapak atau ibu pergi bekerja. Dan kalaupun angkotnya nggak penuh, masih ada musik yang bikin angkot jadi nggak sepi-sepi amat. 

Hampir setiap angkot yang aku naiki memutar musik. Musik yang diputar pun beragam. Dari musik lokal Manado, lagu pop Indonesia, lagu remix, sampai lagu internasional. Kalau boleh ngasih peringkat, sepanjang pengalamanku naik angkot, lagu Poco Poco dan lagunya Geisha yang paling sering diputar. Baru-baru ini juga aku diberitahu seorang warga lokal bahwa angkot yang memutar lagu di angkotnya lebih besar memiliki probabilitas untuk ditumpangi oleh ABG dibandingkan dengan yang tidak memutar lagu. Makanya, sebagian besar angkot di Bitung menyediakan mp3 di angkotnya. Dan jangan heran juga, ya, kalau lihat angkot lewat di Bitung dengan volume musik yang keras. Udah biasaaaa. 


Lima, jauh dekat (saat ini) 4000 rupiah.

Untuk biaya naik angkot, nggak perlu khawatir bakal dimahalin. Di sini, jauh dekat hanya bayar 4000 rupiah. Yang aku salut dari beberapa supir di sini, jika ada penumpang yang uangnya lebih, selalu dikasih kembalian yang sesuai dengan tarif itu. Bahkan, pernah ada penumpang yang punya 50000 dikasih kembalian 46000. Pas segitu. Pas. Jadi, tingkat kejujuran Pak Supir di sini masih lebih tinggi daripada di kota besar. Maaf, nih, ngebandingin. Tetapi, kadang-kadang kalau aku naik angkot di Bintaro ataupun di Bandung, Pak Supir suka menaikan tarif seenaknya. Atau kalau punya uang lebih yang perlu kembalian, pasti kembaliannya dikurangin. Makanya, kalau naik angkot di kota besar perlu bawa uang pas. Beda dengan di Bitung. Punya uang lebih pun insya Allah aman. 


Jadi, bagi yang ingin berkeliling Bitung dengan angkot, lima keunikan tadi yang akan kalian temui. Siap-siap buat menyesuaikan, ya! ^^


7 komentar:

  1. gak bisa curi pandang di angkot, hahaa

    BalasHapus
  2. Wahh unik banget. Mukaaa.. mukee luu wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaaak hehe. awalnya lucu, trus lama-lama kebiasa deh wkwk

      Hapus
  3. Di balikpapan juga gitu tuh. Gak bisa tatap tatapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah baru tau juga kalo balikpapan model angkotnya sama. okesip thanks infonya (y)

      Hapus
  4. enak juga ya di blitung jauh dekat bayarnya 4000 dan kalau kasih uangnya lebih kembaliannya tetap sama, gak di kurangi..

    BalasHapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...