Jumat, 22 April 2016

Maafkan Kartini yang Nggak Bisa Masak Ini...

Apa kabar perempuan Indonesia? Sebelumnya aku ucapkan Selamat Hari Kartini dulu, ya. Hari Kartini mungkin nggak dirayakan seheboh hari raya. Namun pemaknaan adanya Hari Kartini ini cukup dalam. Yaitu tentang perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki, khususnya dalam pendidikan dan profesi. Yaaa, terlepas dari pro-kontra di belakangnya tentunya.

Mumpung masih anget-angetnya suasana Hari Kartini, aku pengen ngebahas salah satu stuff yang sangat berkaitan dengan cewek tetapi nggak berkaitan banget sama aku yang cewek. You can call it cooking.


Pernah aku terlibat dalam diskusi kecil di meja makan salah satu restoran cepat saji daerah Tangerang. Saat itu aku bersama tiga orang yang semuanya berjenis kelamin cowok. Sebut saja A, B, dan C. Mereka bertiga emang rada-rada cerewet. Banyak hal yang bisa kami perbincangkan di meja makan sampai entah karena apa tiba-tiba perbincangan beralih pada kriteria pasangan idaman.

A: "Aku kalau milih cewek yang akan dijadikan istri, aku pengen yang bisa masak. Soalnya aku pengen anakku nanti bisa merasakan kasih sayang ibunya lewat masakan dia."

B: "Istri itu sebenarnya nggak harus bisa masak. Istri itu tugasnya melayani suami. Kalau soal masak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga bisa pakai pembantu."

A: "Eh, tapi biarpun begitu, aku pokoknya nyari perempuan yang bisa masak!"

C: "Emm... kalau aku, sih, setuju sama kalian berdua. Meski nggak setuju-setuju banget..."

Dan aku yang cewek satu-satunya cuman bisa dengerin dan mencerna. Aku sebenarnya sempat nanya to the point, "Jadi, cowok itu selalu nyari cewek yang pintar masak, ya?" Si C langsung jawab "nggak" mungkin buat bikin aku agak lebih baik. Namun, melihat perkara masak-memasak ini dibicarakan dengan serius di forum, aku langsung sampai pada kesimpulan bahwa memasak memang memiliki nilai tersendiri bagi seorang perempuan di mata laki-laki.

Aku ucapkan selamat dulu, deh, bagi kalian para cewek yang mampu memenuhi standar cowok kebanyakan itu. Aku bukan salah satunya. I'm really bad at cooking, tbh. Meskipun aku sudah hidup jauh dari ortu selama 9 tahun, masalah masak-memasak selalu aku serahkan kepada pihak ketiga. Entah koki asrama ataupun ibu warteg. Aku senang makan (walaupun pilih-pilihnya kebangetan), tapi aku nggak tertarik dengan cooking and anything related to it. Bahkan cenderung antipati. Alasannya sudah aku beberkan di Akhirnya Audi Masak Juga! : Puding Oreo. Dan ketika ada yang menemukan ketidakberbakatanku dalam memasak, semerta-merta orang langsung berkomentar begini:

Kamu itu cewek, lho!

Kalau urusannya udah sampai sana, aku yang terlahir jadi cewek ini pun ngerasa gagal jadi cewek. Ntar kalo urusan rumah tangga si cewek nggak bisa masak, suaminya mau makan apa? Gitu ya. Trus apa, sih, yang bakalan didapat oleh cowok kalo ketemu sama calon istri yang kerjaannya seharian mantengin laptop buat ngeblog sambil fangirling? Emang makanan bisa dibikin dari ngeblog gitu, ya?

Mungkin tidak hanya aku saja yang mengalami ini. Cewek-cewek yang kemampuan memasaknya masih kurang juga mungkin mendapat kritikan yang sama. Aku juga sering banget dengar bagaimana para lelaki mengeluhkan tentang perempuan zaman sekarang yang udah nggak banyak berurusan dengan dapur. Perempuan yang keibuan itu susah dicari, katanya.

Well, kalau memang generasi harus dilahirkan dari perempuan yang pintar memasak, aku minta maaf. Terutama kepada keluarga sendiri dan future husband beserta keluarga (kalo emang ketemu). Dan juga kepada cowok-cowok yang pengen istrinya pintar memasak. Banyak hal yang ingin aku pelajari di luar dari kuliahku saat ini. Salah satunya memasak. Namun aku memiliki prioritas sendiri dalam menempatkan hal-hal yang ingin aku pelajari. Dan, maaf, memasak itu ada di nomor sekian. Dibanding memasak, aku lebih senang belajar bahasa baru, ngeblog, ataupun desain.

Anggap saja semua cewek yang nggak pintar memasak memiliki alasan seperti aku. Maka, cowok-cowok bisa menyalahkan Ibu Kartini. Sebagai perempuan simbol emansipasi, Ibu Kartini membuat cewek-cewek yang tadinya cuman bisa diam di rumah jadi bebas berkeliaran mengejar impiannya masing-masing sehingga terkadang melupakan dapur.

Kamu bisa anggap alasanku tadi cuman sekadar ngeles atau alesan doang. Terserah yang membaca mau menganggap seperti apa. Yang pastinya aku sudah minta maaf atas kegagalanku menjadi seorang cewek yang cewek banget. Aku emang keasyikan buat melakukan hal lain sampai-sampai memasak nggak masuk prioritas. Meskipun begitu, aku juga mengakui, kok, kalau kemampuan memasak buat cewek itu memang perlu. Setidaknya buat mengenyangkan dirinya sendiri atau orang-orang terdekat.

Selamat Hari Kartini!


Ucapan terima kasih:

Buat kamu yang pernah bilang pengen banget mencicipi masakanku meski cuman Indomie goreng telur setengah matang. :)

17 komentar:

  1. hehe you're not alone. Aku juga udah 10 taunan tinggal jauh dari ortu tapi kemampuan di dapur cuma sebatas nasi goreng asal-asalan yang penting bisa dimakan :p kadang kepikiran juga sih, syarat cowok milih cewek buat jadi istri itu memang harus bisa masak gitu? haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah ditanyakan sama ketiga cowok di atas tadi mbak, katanya sih nggak. tau deh aslinya gimana :)))

      Hapus
  2. Santai aja sist. Ga perlu bisa masak enak yang penting bisa dimakan. Kalo soal enak ga enak mah urusan lain.. klo semua cewek bisa masak ENAK lah nanti masakan Chef jadi biasa aja dong... hihii pisss

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya juga ya mbak. makasih ya mbaaaak :')

      Hapus
  3. Tak apa belum bisa masak siapa tau nanti dapet pasangan yang jago masak :D

    Gak bisa masak atau blm bisa masak itu masalah yang banyak wanita hadapi di luar sana kok :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin deeeh. iyaa, ternyata nggak cuman aku aja yg punya kasus kayak gini. makasih ya mbaaak :'D

      Hapus
  4. Aku dulu nggak jago masak. Tapi suami jago. Eeh akhirnya lama kelamaan aku belajar masak juga. Walau libur biasanya suami yang masakin. Hiihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, berarti emang harus nyari cowok yang pinter masak nih biar ketularan. Hehe. Makasih udah sharing mbak (y)

      Hapus
  5. Buat saya pinter masak atau nggak nomer sekian, yang penting kasih sayang... Hihihi... (mungkin bisa membuat dirimu lebih lega) :P

    BalasHapus
  6. hana juga ngga (belum) bisa masak :D
    sempet berniat belajar setelah lulus kuliah tapi berakhir cuma jadi wacana...
    Hahahaha
    mungkin belajar nanti pas udah nikah? (semoga ngga jadi wacana)
    hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. belajar dari sekarang yuk mbak! #tekad

      Hapus
  7. buat saya, masak gak masak yang penting kumpul... hehehe...

    BalasHapus
  8. jleb banget kak, aku juga 'belum' bisa masak hehe

    BalasHapus
  9. Hi Audi

    Menjadi perempuan tidak melulu urusan masak, setuju. Repot juga kalau di jaman sekarang keberhasilan dan kegagalan perempuan indikatornya cuma jago masak atau enggak. (Dan saya pasti termasuk yang gagal total jadi perempuan...hehehe). Kalau saking sibuknya memasak jadi lupa main sama anak atau ngobrol sama suami, atau melalaikan urusan kantor dan kewajiban lainnya, nah..perlu refleksi kembali tuh kayaknya.

    Tapi bisa memasak, satu keuntungan tersendiri loh. Itu life skill. Bukan cuma buat perempuan, tapi juga buat anak laki-laki (that's why I teach my sons to cook ;-). Dan itu akan memperluas peluang kemanfaatan seseorang (tidak peduli dia perempuan atau laki-laki). Misalnya saat ada tetangga hajatan, atau sedang berduka cita, atau teman sekost yang sakit dan mendadak harus ada yang membuatkan bubur.. You are in a sudden, will be their angel...hehehe.

    Saat belum menikah, saya sendiri lebih dikenal sebagai "ahli cuci piring" kalau ada acara keluarga (pangkatnya tentu lebih rendah ketimbang adik saya yang jago masak...hehehe). Sekarang, memasak adalah cara jitu untuk variasi kegiatan (terutama saat saya stress mikirin tesis 3 tahun yl..hihihi), plus media buat berkegiatan bersama dua anak laki-laki saya (bikin kue atau pop corn bareng).

    Saran saya, mulai dari yang instan :-) Even bikin nasi kuning dan nasi liwet yang biasanya ribet, now you can do that by the help of a simple rice cooker (oh yesss...). Bikin sushi dan bibimbap, pasti bisa...karena itu masakan anti gagal. Believe me :-)

    Jadi, teruslah menjadi forecaster dan penulis yang pelan-pelan mulai belajar masak. (who knows someday you continue your study in Europe or US, you HAVE to cook, kalo enggak...bisa bangkrut jajan melulu...karena makanan matang itu mehong...hehehe).

    salam dari Makassar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Bu Roro,
      iya ya kalau dipikir-pikir ternyata masak itu banyak gunanya juga. cuman saya kadang suka terintimidasi sama orang yang langsung ngejudge cewek yg ga bisa masak :( boleh deh dicoba pelan-pelan dari yg instan dulu.

      widiih saya aminin deh yg continue study in Europe or US-nya ^^

      Hapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.