Jumat, 29 Juli 2016

Aku Diajarin Terorisme Katanya


Jarang banget aku bangun pagi langsung bisa melek. Tapi kabar yang aku baca di sosmed pagi ini bikin mataku langsung segar. Bukan karena liat yang segar-segar. Justru gara-gara baca kabar yang nggak ada segar-segarnya sama sekali.

Sumbernya dari press release Kedutaan Turki untuk Indonesia. Penggalan surat edarannya itu kayak gini:

Selasa, 26 Juli 2016

Unboxing Seventeen First Album Love Version (Signed by JOSHUA!) + GIVEAWAY!


Meskipun saat ini komunikasi sudah mulai dimudahkan dengan teknologi, aku masih belum bisa move on dari surat-suratan. Alasannya sudah aku jelaskan dalam 5 Reasons Why You Have to Start Postcrossing. Salah satunya karena aku merasa benar-benar "bersentuhan" dengan orang yang mengirimkan surat itu. Bayangin aja, surat itu, kan, musti bener-bener ditulis dan disentuh oleh dia. Ketika menyentuh surat itu, rasanya aku benar-benar bersentuhan dengan orang tadi walaupun terhalang jarak. Yang kayak gini menurutku tidak bisa diganti dengan telepon, sms, chat, bahkan video call.

Begitupula dengan tanda tangan. Apalagi dari yang diidolakan. Mungkin beberapa berpendapat kalo tanda tangan itu hanya sekadar goresan pena biasa yang tidak layak untuk dibaperin. Tapi bagiku tanda tangan itu juga media bersentuhan secara tidak langsung dengan si pemberi tanda tangan. Makanya aku super duper excited ketika akhirnya kiriman paket album pertamanya Seventeen yang versi Love nyampe ke tanganku karena dibubuhi tanda tangan Joshua!

Selasa, 19 Juli 2016

Buku yang Difilmkan vs Film yang Dibukukan


Antara baca buku dengan nonton film, kalian lebih suka yang mana?

Kalau aku pribadi, sih, senang dua-duanya. Tergantung mood juga, sih. Tetapi kalau dibandingkan, aku lebih banyak baca buku daripada nonton film. Menurutku, baca buku itu imajinasinya tanpa batas. Kita bisa membayangkan ini-itu sesuka kita. Yaah, meski terkadang sempat beberapa kali kesulitan membayangkan setting cerita karena beberapa penulis ada yang tidak mendeskripsikannya secara jelas.

Karena kepopuleran buku, banyak produser film yang tertarik untuk mengadaptasi cerita tersebut ke dalam sebuah film. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak buku yang dijadikan bentuk audio visual. Lebaran kemaren aja menu film bioskop dipenuhi oleh film-film Indonesia yang diadaptasi dari novel. I have read all of it! Dan aku kasih rating lima untuk versi novelnya.

Lalu, bagaimana dengan filmnya?

Jumat, 15 Juli 2016

Tentang Buku yang Tak Pernah Terbit


Mengabadikan sebuah tulisan menjadi sebuah buku itu seperti membuat patung gunung Rushmore dengan wajah punya kita sendiri. Yaa... maksudnya kita seperti memiliki sejarah yang bisa dikenang. Sampai kita meninggal pun kita seperti bisa hidup dalam sejarah. Jasad mati, namun tulisan akan abadi.

Yes, itulah yang membuatku termotivasi untuk membuat sebuah buku. Sampai umur dua satu ini masih belum punya buku sendiri, sih. Tapi beberapa udah ada yang masuk antologi. Belum puas, kan, kalau cuman antologi doang? *ngumpulin kekuatan buat produktif dulu*

Ngomong-ngomong tentang menerbitkan buku, aku jadi ingat pengalaman mengecewakan yang pernah aku alami dari salah satu penerbit. Mayor, lho, padahal. Buku-buku penerbit itu pun bahkan ada yang masuk best seller. Berarti harusnya redaksinya oke, kan? Tetapi yang aku dapatkan malah sebaliknya.

Selasa, 12 Juli 2016

Review MV Seventeen - Very Nice


CAUTION: DITULIS SAMBIL BAPER

Pernah nggak kamu mengenal seseorang yang kamu pikir udah kamu kenal banget tapi ternyata dia tiba-tiba berubah? Nggak. Kita nggak ngomongin Power Rangers, kok. Perubahan yang terjadi itu bentuknya seperti perilaku atau kebiasaan. Misalkan, orang yang kita kenal pendiam tiba-tiba jadi cerewet. Atau orang yang dulunya peduli tiba-tiba jadi cuek.  Dan semacam itulah.

Yap, aku pernah mengalaminya. Dan itu rasanya insecure banget. Kita tiba-tiba jadi ngerasa asing dengan orang itu. Ngerasa kalau seluruh rangkaian interaksi yang sudah terjalin dari zaman baheula itu cuman ilusi. Ngerasa siapa-elu-siapa-gue. Pokoknya nggak nyaman, lah.

Dan itulah yang aku rasakan ke Seventeen setelah menonton MV terbaru mereka yang berjudul Very Nice.

Kamis, 07 Juli 2016

Intip Ospek di Negara Lain, Yuk!


Halo kamu para mahasiswa baru! Selamat atas keberhasilannya dalam mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, ya! Kini, silakan say goodbye pada atribut ke-siswa-an kamu. Saatnya melangkah ke tahap kehidupan yang baru.

Eit, sebelum memulai perkuliahan, biasanya di universitas ada tradisi, nih. Apa lagi kalau bukan OSPEK alias Orientasi Studi Pengenalan Kampus. Mungkin beda-beda namanya di tiap kampus. Di ITB dikenal dengan OSKM. Di UI namanya OKK. Di UGM namanya PPSMB. Tapi intinya, ya, sama aja dengan pengenalan kampus. Biasanya, pengenalan kampus ini berlangsung beberapa hari. Tahapannya pun macam-macam, dari ospek universitas, fakultas, sampai jurusan.

Tujuan ospek intinya untuk mengenalkan mahasiswa baru dengan kampusnya. Intinya, sih. Kalau 'bumbu-bumbu'-nya, ya, wallahu a'lam. Sampai ada pro-kontranya segala. Aku sendiri udah pernah menjalani beberapa ospek. Masing-masing punya kesannya tersendiri.

Kemudian aku teringat teman-temanku yang nggak menjalani perkuliahannya di Indonesia. Mereka tersebar dari benua Amerika hingga Australia. Apakah mereka mengalami hari-hari ospek yang sama sepertiku? Atau mereka punya cerita ospeknya sendiri?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...