Selasa, 19 Juli 2016

Buku yang Difilmkan vs Film yang Dibukukan


Antara baca buku dengan nonton film, kalian lebih suka yang mana?

Kalau aku pribadi, sih, senang dua-duanya. Tergantung mood juga, sih. Tetapi kalau dibandingkan, aku lebih banyak baca buku daripada nonton film. Menurutku, baca buku itu imajinasinya tanpa batas. Kita bisa membayangkan ini-itu sesuka kita. Yaah, meski terkadang sempat beberapa kali kesulitan membayangkan setting cerita karena beberapa penulis ada yang tidak mendeskripsikannya secara jelas.

Karena kepopuleran buku, banyak produser film yang tertarik untuk mengadaptasi cerita tersebut ke dalam sebuah film. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak buku yang dijadikan bentuk audio visual. Lebaran kemaren aja menu film bioskop dipenuhi oleh film-film Indonesia yang diadaptasi dari novel. I have read all of it! Dan aku kasih rating lima untuk versi novelnya.

Lalu, bagaimana dengan filmnya?

Penasaran, akhirnya aku dan temanku coba-coba untuk menonton salah satu dari film tersebut. Aku ngerasa antusias karena penulis, aktor, serta rumah produksinya lumayan gencar dalam melakukan promosi. Biarpun sebenarnya sudah berkali-kali kecewa karena biasanya hasil film dari buku itu mengecewakan, tapi yaa dicoba aja, lah.

And the result is..... A TOTAL DISAPPOINTMENT! 

Padahal banyak orang yang ngasih testimoni kalau filmnya bagus. Aku emang nggak ahli review film, sih. Ketika nonton film tersebut, aku nggak ngeliat film secara visual, akting, atau sound-nya. Tetapi aku lebih fokus pada jalan ceritanya. Aku suka ngebandingin cerita film dengan cerita dari buku. Ada beberapa adegan yang aku maklumi, namun beberapa kali ada pula yang bikin aku nggak habis pikir. Kok ceritanya gini sih. Kok maksa sih. Dan kok-kok lainnya.

Hal itu yang bikin aku kemudian nge-tweet tentang tanggapanku setelah menonton film tadi. Kemudian ada yang menanggapi seperti ini:

Berkat tweet itu, aku jadi kepikiran buat ngebandingin buku yang difilmkan dengan film yang dibukukan. Ini dari masing-masing sudut pandang. 

Buku yang difilmkan = baca buku dulu baru nonton film

Seperti yang aku bilang di awal kalau begini kebanyakan hasilnya mengecewakan. Beberapa penyebab kekecewaan ini di antaranya pemilihan aktor/aktris yang memerankan, setting tempat, sampai jalan ceritanya. Jadi, ketika ada kabar-kabar kalau sebuah buku akan difilmkan..... aku sebenarnya antusias, sih. Tapi takut dikecewakan. Halah.

Walaupun begitu, ada beberapa film yang menurutku sukses mengadaptasi bukunya. Memang ada beberapa adegan yang diubah, namun ceritanya masih cukup menarik untuk diikuti meskipun sudah baca bukunya. Contohnya adalah film Ketika Cinta Bertasbih yang diadaptasi dari buku karya Habiburrahman El-Shirazy. Menurutku ada feel yang berbeda saat baca buku dan nonton film. Waktu baca bukunya, aku cenderung lebih serius. Namun aku justru sering haha-hihi saat nonton filmnya.

Sementara film yang sedang aku tunggu-tunggu karena merupakan adaptasi dari novel favoritku adalah Inferno. Film ini diadaptasi dari novel karya Dan Brown, penulis dari The Da Vinci Code dan Angels and Demons yang dua-duanya juga sudah difilmkan. Biarpun sudah baca novelnya, sebisa mungkin aku mengosongkan pikiranku akan jalan cerita novel tersebut sehingga diharapkan aku nggak akan nyesel nonton versi filmnya.



Film yang dibukukan = nonton film dulu baru baca buku

Anggap aja aku telat update. Orang, mah, sudah banyak yang beli bukunya sampai ada yang tertarik buat ngejadiin mengangkat cerita buku itu menjadi film, eh aku malah belum pernah baca bukunya sama sekali. Hal ini yang terjadi pada Perahu Kertas. Aku lebih dulu nonton filmnya sebelum baca bukunya. Setelah baca bukunya, aku justru lebih fascinated karena akhirnya aku tau apa yang nggak divisualisasikan dalam layar lebar. Kelegaannya itu seperti kayak baru tau rahasia orang gitu, lah. 

Buku lain yang dibaca setelah nonton film adalah 99 Cahaya di Langit Eropa. Saat aku bandingkan lagi, aku baru tahu kalau ternyata versi filmnya banyak ditambahin drama. Hehehe. Tapi untuk kasus ini, aku justru malah lebih senang versi film dibandingkan dengan buku. 



Overall, aku lebih memilih film yang dibukukan. Menurutku, beradaptasi dari film ke buku itu membuatku berpindah dari dimensi yang terbatas ke dimensi yang tidak terbatas. Apalagi film itu menyajikan visualisasi yang bisa kebawa saat membaca bukunya. Hal ini juga bisa bikin buku yang memiliki setting rumit menjadi lebih sederhana. Sedangkan kalau baca bukunya terlebih dahulu, kita cenderung punya gambaran setting dan tokoh versi kita. Dan ketika kita menonton filmnya, pilihannya antara puas atau kecewa. 

Kalau kalian lebih suka yang mana?

12 komentar:

  1. Topiknya menarik nih. Kapan-kapan coba bikin list rekomendasi dari tiap poin. Menonton film yang bukunya sudah kita baca emang mostly mengecewakan. Tapi, kalau aku sih ya, menonton film dulu baru baca bukunya, malah disturbing banget dan ujung-ujungnya pasti nggak selesai. Aku selalu menonton film yang diadaptasi dari novel, apalagi novel-novel yang tren. Rencananya sih sebelum menonton ya baca bukunya dulu. Nyatanya, belum disentuh sama sekali :)) Kalau nunggu selesai baca, nanti filmnya keburu basi hehe (aku nggak punya waktu baca sebanyak dulu *hiks). Nah, sekalinya niat baca buku yang filmnya (lebih tepatnya serial TV) udah aku tonton, susah banget mau fokus. I tend to skip parts yang aku ingat persis seperti serial TV-nya. Aduh, kepanjangan ya komentarnya :P Maafkan, jadi curhat hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh tuh masukannya.
      nggak papa mbaak sok atuh curhat aja di sini :))

      Hapus
  2. Setuju, aku juga kalau nonton dulu baru baca bukunya, bisa jadi pas nonton biasa aja, pas baca jadi lebih suka. Beda sama baca dulu baru nonton, lebih banyak kecewanya. Kalau baca dulu baru nonton, biasanya aku suka ngurangin ekspektasi biar enggak kecewa-kecewa amat :)

    BalasHapus
  3. Kalo menurut saya pribadi, buku lebih 'powerful' dibanding film.

    Soalnya gini, kalo saya udah nonton film yang diangkat dari novel, PASTI saya langsung pengen baca novelnya. Beda halnya jika saya baca novel-nya terlebih dulu, belum tentu saya pengen nonton film-nya. Ya walaupun kadang ada juga suku sih film yang bikin penasaran. Contohnya The Great Gatsby.

    Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks udah sharing. salam kenal juga ya :)

      Hapus
  4. Aku mah ga pernah expect kalau mau ntn film yg dari buku..hehe...biar g kcewAa

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengen gini sih, tapi kadang tergoda juga buat punya ekspektasi hehe

      Hapus
  5. Gue pernah punya keresahab seperti ini nih. Bagus tema tulisan kali ini. Yanh jadi pertanyaan kalau film action jadi novel isinya bakal cuma "ciat...ciat... Akhhh..." doang ga sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwk kalo mau menovelkan action penulisnya harus pandai mendeskripsikan actionnya

      Hapus
    2. Iya salah satu rekomendasi dari gue Film 3 (Aliff, Lam, Mim) karya Anggy Umbara yang diadaptasi ke novel oleh Primadona Angela terbitan Gramedia.

      Hapus
    3. Oh, itu aku udah pernah nonton filmnya! ntar deh nyari bukunya. Thanks ya!

      Hapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...