Kamis, 07 Juli 2016

Intip Ospek di Negara Lain, Yuk!


Halo kamu para mahasiswa baru! Selamat atas keberhasilannya dalam mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, ya! Kini, silakan say goodbye pada atribut ke-siswa-an kamu. Saatnya melangkah ke tahap kehidupan yang baru.

Eit, sebelum memulai perkuliahan, biasanya di universitas ada tradisi, nih. Apa lagi kalau bukan OSPEK alias Orientasi Studi Pengenalan Kampus. Mungkin beda-beda namanya di tiap kampus. Di ITB dikenal dengan OSKM. Di UI namanya OKK. Di UGM namanya PPSMB. Tapi intinya, ya, sama aja dengan pengenalan kampus. Biasanya, pengenalan kampus ini berlangsung beberapa hari. Tahapannya pun macam-macam, dari ospek universitas, fakultas, sampai jurusan.

Tujuan ospek intinya untuk mengenalkan mahasiswa baru dengan kampusnya. Intinya, sih. Kalau 'bumbu-bumbu'-nya, ya, wallahu a'lam. Sampai ada pro-kontranya segala. Aku sendiri udah pernah menjalani beberapa ospek. Masing-masing punya kesannya tersendiri.

Kemudian aku teringat teman-temanku yang nggak menjalani perkuliahannya di Indonesia. Mereka tersebar dari benua Amerika hingga Australia. Apakah mereka mengalami hari-hari ospek yang sama sepertiku? Atau mereka punya cerita ospeknya sendiri?


Yuk, kita simak cerita ospek mereka!

Muhammad Naufal Avianda 
Monash University, Australia


Kita mulai perjalanan kita dari negara tetangga, Australia. Negeri kanguru ini dikenal sebagai negara yang multikultural karena 90% penduduknya adalah bukan penduduk asli alias pendatang. Itulah mengapa orientation day yang diadakan di Australia memfokuskan tujuannya untuk membuka wawasan para mahasiswanya dalam mengenal orang dari berbagai latar belakang. Seperti yang diceritakan oleh Naufal, mahasiswa Monash University jurusan Marketing dan Economics

Dalam orientation day yang berlangsung kurang lebih 2-3 hari, Naufal dkk diberi informasi tentang kegiatan perkuliahan, tugas kuliah, peraturan kampus, sampai organisasi di kampus yang akan mereka tempati. Tak hanya informasi kampus, mereka juga memainkan game di mana murid lokal dan internasional dapat berbaur dalam satu kelompok untuk menyelesaikan sebuah masalah bersama-sama. 

"Pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ospek di Aussie itu, kita jadi bisa saling menghargai perbedaan orang-orang dari berbagai latar belakang, soft skill lebih terasah, serta melatih kita untuk menghilangkan prejudice terhadap orang yang nggak kita kenal. Kita jadi sadar justru perdebaan atau keberagaman bukan halangan untuk menyelesaikan suatu masalah." kata Naufal. 

Sedangkan mengenai pressure yang seringkali ada dalam ospek di Indonesia, Naufal tidak menemuinya selama orientation day di Monash University. 

"Ospek yang sifatnya seperti itu kayaknya mustahil untuk diimplementasikan di Aussie, mengingat hukumnya aja kuat tentang kekerasan dalam segala bentuk, apalagi di lingkungan akademis. Kalau mau dilihat secara umum pun orang Aussie tau cara menempatkan diri. Jadi kalau di instansi pendidikan, ya, kegiatannya pun harus mendidik." tegasnya. 


Galih Nurcahyo Pangeran Jati
Asahikawa National College of Technology, Jepang




Monbukagakusho merupakan beasiswa penuh dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang untuk mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke Jepang. Galih salah satu yang berhasil mendapatkannya. Saat ini dia sedang mendalami Teknik Kimia di Asahikawa National College of Technology.


Ketika ditanya tentang ospek, dia hanya jawab, "Yah, paling cuman perkenalan gitu. Lagian aku langsung kelas 3. Yang perkenalan paling anak kelas 1." FYI, sekolahnya Galih ini merupakan sekolah kejuruan yang biasa disebut KOSEN. Penjelasan mengenai jenjang pendidikan di Jepang dapat dibaca di sini.

Menurut cerita Galih, kegiatan perkenalan yang dilalui hanya sekadar berkeliling untuk mengenal kota serta sekolahnya. Sedangkan acara dengan kakak kelas hanya sekadar berkumpul di ruang olahraga sambil memperkenalkan diri dengan meneriakan nama mereka. Galih tidak ikut kalau perkenalan sekolah. Tetapi dia 'kena' ketika perkenalan di asrama. "Sistemnya, anak baru naik meja satu persatu, trus perkenalkan nama, asal sekolah, jurusan, dan klub yang ingin dituju." katanya. Walaupun begitu, perkenalan ini dia akui dapat melatih kemampuan bicaranya serta membuatnya mengenal teman baru.


Nur Annisa Fitri
Hacettepe University, Turki



Sekarang kita beralih ke negara Turki. Banyak teman SMA-ku yang melanjutkan studi ke negara yang terletak di Benua Asia dan Eropa ini. Salah satunya adalah Nisa, mahasiswi Hacettepe University jurusan Matematika. Ketika aku bertanya mengenai ada tidaknya orientasi di kampusnya, dia jawab, "Oh, ada. Sekadar pengenalan gitu. Tapi aku nggak ikut gara-gara telat balik dari Indonesia."


Pengenalannya pun sekadar berkeliling kampus untuk memperkenalkan bangunan-bangunan yang ada di kampus serta mengikuti ceramah dosen mengenai sejarah kampus. Manfaat yang bisa didapat dari kegiatan ini menurutnya adalah tau lebih dalam tentang kampus yang dia masuki serta mengenal teman-teman baru.

"Kalau aku nggak salah ingat pengenalan kampus ini dianggap mata kuliah. Ada kredi-nya (mungkin sejenis SKS kalau di Indonesia) walaupun cuman satu. Tugas pun nggak ada. Bahkan dibebaskan boleh ikut atau nggak." tuturnya.



Regina Putri Mulyati 
Venlo (Fontys University), Jerman



Waktunya ke negera Jerman! Negera yang beribukota di Berlin ini menjadi salah satu tujuan favorit untuk melanjutkan studi. Seperti yang dilakukan oleh Egin.

Mengenai orientasi kampus, mahasiswi jurusan International Marketing ini menceritakan kalau kegiatan yang dia jalani sebatas perkenalan saja. Hari perkenalan ini biasanya berlangsung selama tiga hari di awal-awal masuk perkuliahan.

"Kalo di kampus aku, student-nya dibawa jalan-jalan keliling kampus dan sekitar kampus. Dikasih tau juga letak lokasi langganan student kayak perpustakaan, bioskop, cafe, dll. Tergantung dari kampusnya juga, sih. Dan nggak semua kampus juga punya orientasi. Ada yang langsung belajar." jelasnya.

Tak hanya mengenalkan kampus. Egin pun cerita kalau mereka juga diajak keliling Venlo, kota tempat kampusnya berada. "Jadi, orientasi aku usahakan buat datang biar bisa lebih kenal dengan kampus, kota, dan teman-teman baru!"


Seperti itulah kira-kira ospek di negara lain. Yang pastinya, kebijakan satu kampus dengan kampus lain pasti ada bedanya. Setidaknya apa yang teman-teman kita ceritakan ini bisa memberikan gambaran. Terutama juga buat kalian yang ingin melanjutkan studi ke negara atau universitas yang sama dengan mereka. Semoga hal positif yang mereka dapatkan ketika menjalani orientasi juga bisa dirasakan di negara kita, ya!


14 komentar:

  1. sudah saatnya nih kampus di indo berbenah diri buat menghapus pembullyan sama maba.. perlu nyontoh negara-negara diatas..

    BalasHapus
  2. Ospeknya keren ya, bener2 perkenalan tanpa perploncoan
    TFS Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa dari awal emang udah dibentuk sih kalo bentuknya emang pendidikan ya harus mendidik.
      Yup sama-sama mbak ^^

      Hapus
  3. Wah sangat beda jauh sekali ya dengan kampus diluar negeri, sepertinya beberapa kampus diatas harus dijadikan contoh nih buat para senat yang ada di indonesia (semoga saja senat di seluruh indonesia membaca ini).

    BalasHapus
  4. wahh..saya menunggu banyak kampus di Indo yang masih menggunakan sistem plonco sadar dan berbenah diri..artikelnya menginspirasi mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiiin semoga ospek di Indo bakalan bersih tanpa terkecuali ya mbak. :)
      terima kasih atas kunjungannya ^^

      Hapus
  5. Ospek lebih ke soft skill dan pengenalan ya mba.. emang udaj ga zaman ospek kekanak2an.. btway artikelnya keren, idenya keren, teman mba audy juga keren... suka.. muah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, di sana mah namanya perkenalan ya perkenalan aja :))
      thankyou mbak. muah juga :)

      Hapus
  6. Jadi kamu diplonco Aud? Hahaha toss

    BalasHapus
  7. Nyaa... akhirnya aq dpt link yg aktual ttg ospek di LN. Aq baru saja menulis ttg nostalgia Ospekq jaman dulu loh. Kebetulan kmrn nyari2 info ttg ospek LN sbg perbandingan blm nemu yg aktual.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah kebetulan banget, hehe. semoga infonya dapat membantu ya mbak (y)

      Hapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...