Kamis, 29 Desember 2016

Melewatkan Dua Hari Raya Besar di Bitung


Akhir-akhir ini dunia maya disibukkan dengan debat soal agama. Mulai dari isu penistaan sampai merembet ke pahlawan wanita di lembaran rupiah terbaru yang diprotes karena nggak pakai jilbab. Sempat adem gara-gara Om Telolet Om. Tapi pas Natal balik lagi ke berita soal agama. Capek sebenarnya liat timeline adu argumen mulu dan nggak ada yang mau ngalah. Tapi apalah dayaku yang nggak bisa hidup tanpa internet.

Untung diademin sama Cha Eunwoo...



Daripada liat orang debat di internet, mending aku kasih cerita yang adem aja, deh. Hehe. Semoga emang bikin adem, ya. Ini adalah pengalaman pribadi, based on true story, mengenai bagaimana keadaanku melewatkan dua hari raya besar di Bitung, Sulawesi Utara. FYI, sebagian besar penduduk di Sulut ini beragama Kristen jadi bisa dibilang aku menjadi minoritas secara agama.  

Hari raya Idul Fitri dan Natal aku lewatkan di Bitung. Kalau mau dibilang pengalaman ini istimewa atau nggak, ya istimewa-istimewa nggak sih. Soalnya pas yang lain libur aku tetep masuk dinas HUAHAHAHA. *nasib pegawai shift*

Waktu Idul Fitri, ketika teman-teman bisa mudik ke kampung halaman dan silaturahmi dengan keluarga, akunya nggak. Bahkan, malam lebaran aku lewatkan di kantor bersama temanku, alias kebagian dinas malam. Jadi, hari pertama lebaran diisi dengan rasa kantuk karena habis dinas malam.

Kalau suasana malam lebaran sendiri sepi banget. Pokoknya nggak serame kalau aku di kampung halaman. Petasan nggak ada blas. Kalau ini aku seneng sih, soalnya lebih tenang haha. Takbiran ada, kok. Bahkan angkot yang biasa nyetel musik disko juga nyetel takbiran. Tapi diremix...

Untuk silaturahmi lebaran sendiri, kami diajak pegawai senior kantor yang muslim untuk bertamu ke rumah saudaranya tepat setelah selesai dinas malam. Lumayan bisa nyomot kue dan makan. Tak hanya bertamu, kami juga nerima tamu, kok, walaupun bener-bener zero preparation. Teman yang PKL di Manado sampai datang buat bersilaturahmi dan bawain soda satu kotak. Hehehe.  

Ada beberapa hal unik waktu lebaran di Bitung. Dan lumayan bikin culture shock juga, sih. Beberapa di antaranya:

  • Di sini minuman bersoda dan kue mentega itu adalah hidangan wajib pas hari raya. Makanya kalau dekat hari raya, kedua makanan itu pasti jadi primadona di warung-warung. Bahkan ada yang buka warung dadakan di pinggir jalan.
  • Acara silaturahmi ternyata nggak cuman diadakan waktu hari H lebaran aja. Seminggu setelah lebaran juga biasanya masih ada yang ngadain open house. Biasanya ini diadakan setelah melakukan puasa 6 di bulan Syawal. Jadi istilahnya kayak ngerayain Syawal gitu. CMIIW. Kemaren ada Pak Satpam ngadain open house juga pas hari itu. Dan itu pas aku lagi puasa ganti. Oke.
  • Trus biasanya orang sini kalau nerima tamu waktu lebaran itu pasti nyiapin sofa atau tempat duduk. Apalah aku yang biasa lesehan gini. Jadi pas open house kecil-kecilan di rumah sampai dikomen. Duh, belum ngebaur berarti aku ini mah T.T
  • Suasana pas lebaran sepi banget. Karena penjual makan banyak yang Muslim, warung makan banyak yang tutup. Banyak yang mudik. Biasanya ke Gorontalo, Makassar, dan Jawa. *kalau ini mah di mana-mana ada kali ya hahaha*


Alhamdulillah di sini lebaran aman-aman aja. Kami masih bisa sholat ied dengan tenang. Bupati dan wakil bupati yang nonmuslim bahkan menyempatkan diri buat hadir waktu sholat ied, walaupun cuman duduk aja.

Sayangnya, aku nggak sempat foto-foto narsis waktu hari H lebaran kemaren. Nggak mood gara-gara muka udah kucel banget abis dinas malam haha.

Itu sekilas mengenai lebaran di Bitung. Bagaimana dengan Natal?


Tentunya ada vibe yang berbeda ketika melewatkan Natal di tempat yang mayoritas orangnya merayakan Natal. Kalau tanggal 25 Desember biasanya aku hanya merasakan suasana Natal di TV aja, dengan adanya iklan-iklan yang mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru ataupun adanya film spesial Natal. Kalau di sini, aku seperti terjun langsung dan ikut ngebaur dengan suasana Natalnya. No offense.

Suasana Natal itu udah terasa sejak awal November. Beberapa tempat perbelanjaan udah menyediakan pernak-pernik hiasan Natal serta minuman bersoda. Bahkan beberapa tempat umum udah berhias. Seperti hotel Gran Central Manado yang aku datangi waktu Sekolah Lapang Iklim tanggal 22 November kemaren.


Tapi yang agak bikin aku complain itu petasannya. Jauh-jauh hari sebelum Natal dan Tahun Baru, petasan sudah menjamur banget di pasaran. Dan tentunya udah bisa dimainkan. Kadang suka tiba-tiba bikin kaget dengar suaranya. Tapi, ya, gimana lagi. Kalau di sini memang mungkin sudah tradisinya. Lagian udah diingetin, kok, kalau Natal dan Tahun Baru bakalan sering dengar petasan. Jadi siap-siap aja.

Hiasan di Kantor Walikota Bitung

Hiasan lampu di jalan

Makin dekat tanggal Natal, suasananya makin berasa. Aku bahkan pernah bilang kalau kota ini jadi ibarat pohon Natal, berhias banget. Soalnya hampir di sepanjang jalan ada hiasan lampu kerlap-kerlip. Yang dihiasin itu mulai dari rumah, tempat ibadah, kantor, tembok, sampai pohon-pohon. Sayang banget kalau nggak difoto. Hehehe. Angkot juga tidak mau ketinggalan. Kalau pas lebaran muternya lagu takbiran, pas dekat Natal yang diputar adalah lagu-lagu Natal.

Itadakimasssss!

Tradisinya hampir mirip lebaran. Cuman nuansa party-nya lebih keliatan. Di sini juga ada acara silaturahmi. Kebetulan tetangga ada yang merayakan Natal juga. Jadi kami juga ikutan bersilaturahmi ke orang yang merayakan Natal. Baru bisa silaturahmi sore harinya, sih. Siangnya dihabiskan buat tidur. Soalnya malemnya dinas. HAHAHA.

Kurang greget apa coba dua hari raya dilewatkan dengan dinas malam.

Secara keseluruhan, dua hari raya yang aku lewatkan di tempat baru ini nggak istimewa banget. Udah mah nggak ketemu keluarga, trus juga dapat shift malam. Jadi mau mengistimewakan kayak gimana coba saking terlalu istimewanya? :))

Tapi yang terpenting adalah suasana aman dan damai yang terasa. Kalau di sosmed biasa nemu orang debat, setidaknya di dunia nyata aku masih banyak ngeliat orang-orang yang beda agama saling berinteraksi dengan baik. Kalau kita lagi lebaran, mereka yang silaturahmi. Dan kalau mereka Natal, gantian kita yang berkunjung. Gitu aja, sih.

Harapannya, semoga ketenangan waktu hari raya di sini bisa menular ke sosmed.


8 komentar:

  1. Aku belum pernah mengalami itu Audia, karena sampai saat ini selalu berada dalam lingkungan mayoritas muslim. Senang ya, ketika menjadi minoritas kita tetap dihargai dan merasa aman. Harusnya kita juga gitu memmbuat teman yang minoritas juga merasa aman an nyaman ketika bersama kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju bgt mbak, kadang ngerasa guilty juga karena di sini diperlakukan baik sedangkan di sana ada yg sering kena diskriminasi :(

      Hapus
  2. Tulisannya beneran buat adem mba :)

    Setuju banget, aku percaya masih banyak orang-orang di dunia nyata kita yang saling menghargai seperti cerita di atas.

    Btw salam kenal ya. Sekalian mampir yuk www.indianajos.com

    BalasHapus
  3. semoga toleransi tetap terjaga ya,,,aadem bacanya

    BalasHapus
  4. Senangnya hidup kayak gini. Ini pengalaman yang berharga sekalinya, Audia. Mudah-mudahan lain kali bisa merayakan lebaran bareng keluarga di Bitung sana ya. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, berharga banget hehe :)

      Hapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.