Kamis, 23 Februari 2017

Sekolah Kedinasan Nggak Enak, Mitos atau Fakta?


Baru-baru ini teman-temanku lagi dihebohkan dengan sebuah postingan dari Hipwee. Postingan itu bercerita tentang nggak enaknya sekolah di kedinasan, entah penulisnya udah pernah merasakan sekolah di sana atau cuman hasil riset aja. Yang pastinya, beberapa poin yang dibeberkan oleh penulis itu debat-able. Postingan lengkapnya bisa dibaca di sini.

Yang bikin eye-catching, header foto utama yang diambil sama penulisnya itu adalah foto wajah-wajah yang familiar. Yup, penulisnya ngambil foto senior kampusku! Makanya jadi berasa artikelnya itu emang bener-bener nyindir kampusku, serta kampus kedinasan lain tentunya.

Emang, sih, ada beberapa kali pemberitaan miring soal sekolah kedinasan di media massa. Tapi, kan, nggak semua sekolah kedinasan seperti itu. Jadi, biar meluruskan poin-poin yang sudah dibeberkan oleh penulis, aku pengen membeberkan lagi poin tersebut. Dan ini tentunya berdasarkan pengalamanku sendiri yang notabene seorang taruni dari sekolah kedinasan.

Kata penulisnya, poin-poin ini merupakan FAKTA dari ketidakenakan di sekolah kedinasan:

1. Sekolah kedinasan biasanya menerapkan sistem berbasis semi militer, kamu yang punya karakter keras dan sulit diatur apa kabar?

Biasanya sekolah kedinasan punya sistem semi militer untuk membentuk kedisiplinan para mahasiswanya. Memang nggak semua, tapi setidaknya atmosfer inilah yang akan kamu rasakan saat bersekolah di sana nanti. Otomatis kamu dituntut untuk bisa taat peraturan, disiplin waktu, bahkan kewajiban berseragam. Banyak mahasiswa yang mengeluh dan memilih keluar karena ketidaksesuaiannya dengan peraturan-peraturan ketat yang kurang memberikan kebebasan berekspresi. Wah, kamu yang berkarakter keras dan punya jiwa kebebasan tinggi, apa kabar?

Sekolah kedinasan berbasis semi militer, ini FAKTA. Tapi nggak semua sekolah, lho, pakai sistem semi militer. Ada juga yang nggak pakai sistem ini, seperti Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung. Untuk sistem semi militer sendiri emang harus siap-siap dengan peraturan ketat serta disiplin yang tinggi. Contohnya, nggak ada jatah bolos kalau kuliah. Kan, biasanya kuliah biasa bisa bolos maksimal 3 hari. Nah, ini nggak bisa. Kalau nggak hadir kuliah harus izin. Izinnya itu pakai surat keterangan yang resmi (misal: kalau sakit harus minta surat dokter). Kalau nggak ada keterangan, siap-siap aja dapat poin.

Kalau berkarakter keras dan susah diatur? Well, kalau bisa menyesuaikan diri, sih, sebenarnya oke aja masuk kedinasan. Aku aja orangnya susah diatur bisa enjoy, kok. :)


2. Jadi orang pintar saja nggak cukup untuk bisa masuk dan lulus di sekolah kedinasan. Kamu harus ‘pinter banget’!

Umumnya, sekolah kedinasan memasang batas minimal tertentu untuk indeks prestasi mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa yang nggak bisa melebihi batas minimal tersebut akan mendapatkan kebijakan tertentu, mulai dari nggak naik tingkat termasuk juga risiko dikeluarkan dari pendidikan. Selamat, kamu harus rajin belajar biar lulus ya, nak!

Sekolah kedinasan memasang batas minimal untuk IP, ini FAKTA. Di STMKG, IP minimal untuk naik tingkat itu adalah 2,75. Kalau kurang dari itu bisa terancam DO. Tapi tenang aja, di kampusku ada remedial-nya, kok. Hohoho. Tapi, ya, jangan berharap remed juga, sih!

Ehm, terus nggak enaknya punya batas minimal IP itu apa, ya? Nggak bisa jalan sering-sering gitu, ya, karena keseringan belajar? Atau jadi nggak punya excuse biar dapat IP rendah? Justru karena ada batas minimal ini kita bisa lebih terpacu buat belajar. Bukannya bikin tambah rajin, ya? Gitu, sih.


3. Jika berhasil lulus nantinya, kamu diwajibkan untuk langsung bekerja dalam kurun waktu tertentu dan terikat kontrak. Terjamin sih, tapi kamu terikat (lagi)

Sekolah kedinasan yang punya ikatan dinas dengan instansi tertentu, akan memberikan jaminan berupa pekerjaan yang langsung diberikan usai mahasiswa lulus dari studinya. Mahasiswa ini diwajibkan oleh pengelola untuk bekerja dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati antara pihak pengelola dengan mahasiswa. Inilah yang dinamakan dengan ikatan dinas.

Jika kamu ternyata menolak untuk langsung bekerja, maka uang kuliah gratis harus dikembalikan sesuai dengan lamanya kamu menempuh studi. Itu berarti, kamu yang punya mimpi untuk bisa lanjut ke S2, S3 atau mengejar beasiswa ke luar negeri misalnya, harus rela melepas semua impianmu itu.

Sekolah kedinasan dengan instansi tertentu memberi jaminan berupa pekerjaan setelah lulus, ini FAKTA. Termasuk STMKG yang merupakan sekolahnya BMKG. Ketika dinyatakan lulus ke STMKG, aku dan teman-teman lain memang langsung disodori kontrak. Seperti "bersedia ditempatkan di unit kerja BMKG seluruh wilayah NKRI" seperti yang aku lakukan sekarang. Tapi emang ini sudah konsekuensi. Kalau mau masuk kedinasan, ya, harus mau menerima konsekuensinya gimana.

Ditempatkan di seluruh NKRI emang horor, ya? Hehe. Justru malah banyak cerita yang bisa didapat ketika ditempatkan di daerah. Malah jadi membuka wawasan kita mengenai keberagaman di Indonesia. Cerita lengkapnya terangkum dalam buku #2014OnDuty yang baru saja diterbitkan secara indie. Kalau penasaran, sok diorder bukunya ;) *ngiklan dikit*

Trus bagian yang rela melepas impian S2, S3, atau mengejar beasiswa itu harus dilepas, emm, dilepas gimana, ya? Seniorku malah banyak yang kuliah S2, kok. Bahkan ada yang dapat beasiswa LPDP dan kuliah ke luar negeri. FYI, Pusdiklat BMKG bahkan punya program beasiswa buat pegawai BMKG. Kalau nggak percaya bisa lihat ke sini. Dan ini juga udah diatur sama Perka BMKG.


4. Pilihan kariernya pun itu-itu saja, kamu nggak bisa lagi mewujudkan cita-citamu sebagai astronot atau sutradara. Pokoknya harus nurut, ya…

Kekurangan selanjutnya adalah kamu nggak bisa memilih karier di luar jenis sekolah kedinasan yang kamu pilih. Pilihan karier yang sempit ini memaksamu untuk bekerja di lahan itu saja, lahan yang berhubungan dengan jenis sekolah kedinasannya. Jika ada yang nggak bekerja sesuai ketentuan, maka harus mengembalikan uang kuliah gratis yang sudah dijalani. Yah, padahal kamu ingin jadi astronot, atau sutradara, atau seniman. Wah, kamu salah masuk sekolah!

Nggak bisa memilih karier di luar jenis sekolah kedinasan, ini FAKTA. Yah, namanya juga sudah terikat kontrak. Jadi kalau lulus, ya, kerjanya di instansi itu aja.

Nggak enaknya apa, ya? Justru aku ngerasa lebih fokus di sini. Aku sudah tau kalau kerjaku bakalan di sini dan yang aku kerjakan adalah ini atau ini. Tinggal mengembangkan aja. Misalkan di BMKG, nih. Kan kalau di stasiun kerjaan utamanya jadi observer atau prakirawan. Kalau mau menjelajahi bidang lain bisa kerja di Tata Usaha. Kalau di BMKG Pusat, pilihan pekerjaannya itu malah semakin beragam. Nggak cuman observer-prakirawan-TU aja. Kalau yang senang research bisa ke Puslitbang. Kalau ada yang senang komputer bisa ke Jaringan Komunikasi. Yang senang ngajar bisa jadi dosen. Dan macam-macam, deh, pokoknya.

Kalau mau jadi astronot atau sutradara, YA JELAS SALAH SEKOLAH -_-


5. Memang sih, kamu akan jadi sosok yang disiplin dan tegas. Tapi hatimu bakal haus perhatian, lalu kosong, lalu beku…

Menjadi seorang mahasiswa di sekolah kedinasan punya banyak tuntutan, terutama mengejar akademis dan kualitas diri yang mumpuni. Banyaknya kegiatan yang dijalani membuatmu lupa akan kebutuhan sosial. Sosial di sini maksudnya adalah mendapatkan perhatian dari orang-orang tersayang. Ya benar, soal otak dan fisik kamu nomor satu, tapi hati? Kamu yang sangat ekspresif dan menghargai kebutuhan bersosial nggak akan cocok dengan situasi ini.

Em, I don't get this point actually. Kegiatan yang dijalani bikin lupa kehidupan sosial? Waduh, justru aku yang introvert ini jadi lebih dituntut buat banyak bersosialisasi, lho. Diajarin biar peka dengan teman sekitar, saling sapa kalau ketemu di jalan, dan kenal dengan orang sekitar kita. Ini sedikit banyak berpengaruh sama perubahan sikapku. Aku kalau di kelas biasanya pendiam dan nggak diperhatiin, tapi pas di sini aku jadi lebih bisa membuka pergaulanku. Walaupun prosesnya lama.

Trus kalau kuliah biasa, kebanyakan masuk bareng tapi lulusnya nggak bareng. Kalau udah dekat semester akhir, masing-masing mahasiswa juga jadi punya kesibukan sendiri-sendiri. Jarang ketemu sama teman yang biasa nongkrong bareng pas masih maba. Ini bukan asumsi, ya. Aku diceritain sendiri sama temanku. Tapi di sini, kalau masuk bareng, lulusnya juga bareng! Soalnya mata kuliah sudah diatur sedemikian rupa sehingga taruna/i harus bisa memenuhi SKS dalam waktu yang sudah ditentukan. Kalau apa-apa barengan, kan, bisa dibilang quantity time sama temen itu bakal lebih banyak. Iya, nggak?

Kesimpulanku, poin ini cuman MITOS.


6. Sekolah kedinasan mendidik manusia yang akan melakukan banyak hal secara monoton. Kalau jiwamu adalah pemikir kreatif dan peneliti kritis, selamat, kamu harus buang itu jauh-jauh

Sekolah kedinasan akan membuatmu berada di lingkungan yang serba patuh aturan. Selepasnya pun kamu harus bekerja dengan ritme yang itu-itu saja. Minim sekali lahan untuk mengembangan kreatifitasmu. Kamu yang sewaktu SMA menjadi murid pandai dan kritis harus menyerahkan semua itu ketika kamu masuk ke sekolah kedinasan.

Sekolah kedinasan mendidik manusia melakukan banyak hal secara monoton, hmm, monoton apa, nih? Maksudnya aturannya gitu? Mungkin maksudnya aturannya tegas gitu, ya. Ada beberapa aturan yang masih bisa dibantah kalau di luar kampus tapi jadi absolut kalau udah di kampus. Itu emang ada. 

Tapi membuang jauh pemikir kreatif dan peneliti kritis? Atuhlah. Justru kampusku ini perlu banget orang-orang yang berpikir kreatif dan meneliti secara kritis. Bayangin aja kalau kerja di BMKG tapi nggak kritis. Misalkan pengamatan di bandara, trus cuma mengamati keadaan awan sekilas aja dan langsung ngasih kesimpulan kalau cuacanya baik-baik aja. Tapi tau-tau ada awan Cb dan nggak dilaporkan. Pas jam dia pengamatan ternyata ada pesawat mau landing. Trus karena Cb nggak dilaporin, pesawatnya nggak aware trus kena turbulensi dan tergelincir. Hayo, loh. 


Nah, itu tadi enam poin yang diklaim penulis artikel kalau itu merupakan FAKTA ketidakenakan sekolah di kedinasan. Tapi setelah aku telusuri lagi, ketidakenakan itu bukan FAKTA, bukan juga MITOS, melainkan OPINI penulisnya sendiri yang dibangun berdasarkan fakta dan mitos yang sudah dia kumpulkan dari berbagai sumber. 

Aku membahas artikel ini karena aku merasa keberatan. Pertama, kampusku disinggung. Kedua, dia bilang kalau ketidakenakan itu disebut FAKTA. Padahal kata sifat itu bersifat relatif. Tergantung subjeknya. Okelah kalau penulis emang ingin mengutarakan opininya kalau sekolah kedinasan itu nggak enak. Tapi, ya, nggak usah diklaim sebagai FAKTA juga kali, ya. Karena yakin, deh, enak-nggak enak itu tergantung orang yang mengalaminya juga. Justru hal-hal yang diklaim sebagai FAKTA tadi malah banyak yang bisa dibantah di sini. Tuhkan.


P.S
Tolong dikoreksi jika ada kesalahan. 
Dan kalau ada yang mau memperkuat argumenku boleh banget! :)


[UPDATE]

Setelah tulisan blog ini muncul, ternyata ada beberapa teman yang langsung kasih feedback melalui chat. Mereka menambahkan beberapa poin dalam tulisan ini:


Fauzan 

Untuk poin nomor 4, yang aku contohkan hanya perpindahan daerah ke pusat. Si Ojan ngingetin kalau sekarang udah zamannya ASN (Aparatur Sipil Negara) bukan PNS (Pegawai Negeri Sipil) lagi. Jadi, ASN itu tidak terikat dalam satu instansi. Bisa saja berpindah instansi. Contohnya dari BMKG kita bisa pindah ke LAPAN, LIPI, BNPB, atau instansi lainnya jika kompeten. Hal ini sudah diatur oleh Undang-Undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.



Kholis

Karena aku kebingungan di poin nomor 6 (tentang hal yang monoton), Kholis mengutarakan pendapatnya. Kata dia, monoton itu bisa jadi dimaksudnya soal rutinitas ketika jadi pegawai. Soalnya pegawai negeri itu kayaknya kerjaannya gitu-gitu aja. Makanya kegiatannya jadi terlihat monoton. 


Terima kasih atas feedback-nya! :)

14 komentar:

  1. Setuju banget qaqaa. Izin share yaaa ^^

    BalasHapus
  2. Setuju. Suamiku sekolah kedinasan. Sejauh ini baik2 saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ga kenapa2 kok ๐Ÿ‘

      Hapus
  3. Saya juga dulu pas kelas 3 SMA pengen banget lanjut di sekolah kedinasan, tapi apa daya, gak bisa lolos. Ummm, emang gak jado-jago amat sih. Salah satu motivasinya biar kalau udah lulus langsung dapet kerja. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe emang sih kedinasan kerjaannya terjamin

      Hapus
  4. Cerdas banget tanggapannya
    Menurut saya penulisnya itu gak pernah merasakan sekolah di kedinasan jadi cuma asal nulis pendapatnya sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks nenda (y)
      Iya bisa kita asumsikan gitu hehe

      Hapus
  5. kembali semua pada pilihan ya, semua bagus kalau kita juga mau bersungguh2 dan berjuang untuk mencapai sesuatu

    BalasHapus
  6. wah,,,terjawab semua nih. berat banget ya dari seleksi masuk aja udah susah, makanya aku dulu g daftar skeolah kedinasan wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya seleksi masuknya emang ga cukup cuma satu tahap mbak ๐Ÿ˜…

      Hapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...