Jumat, 24 Maret 2017

Yang Aku Dapatkan dari PKL


Judulnya ini kayak mau bikin laporan, ya. HAHAHA. Nggak gengs, ini curhat.

Kami baru saja melihat pengumuman yang seger banget kayak es cendol di siang bolong. Setelah setahun menjalankan masa PKL, akhirnya kami akan melanjutkan kembali pendidikan di kampus sampai nanti lulus D4. Nggak kerasa, ya. Kayaknya baru kemaren aku syok banget gara-gara dapat pemanggilan PKL mendadak, yang bikin aku melalui perjalanan Kalimantan-Jawa-Sulawesi dalam waktu tiga hari. Dan sebentar lagi bakalan say goodbye sama zona nyaman.

Tapi kalau dipikir-pikir, tempat penempatanku (a.k.a Bitung) adalah jawaban dari doa-doaku. Dengan adanya kontrak “bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh wilayah NKRI”, aku emang udah siap-siap dengan kemungkinan terburuk. Aku nggak punya request tempat yang spesifik. Aku bersedia ditempatkan di mana saja, ASAL WIFI-NYA LANCAR! Dan, yeah, aku puas banget ditempatkan di Bitung! :)

Kalau untuk tujuan formal, PKL ini adalah ajang untuk mempraktikan materi yang sudah aku dapatkan di kampus. Tapi cuman materi pengamatan aja. Fisika dan Matematika, yang dalam kurikulum yang aku jalani bakalan muncul terus selama enam semester, nggak kepake sama sekali, kecuali buat ngajarin anak tetangga dalam persiapan tes SBMPTN. Heol.  Namun selain dalam hal akademis, sebenarnya ada hal penting lain yang aku dapatkan selama di sini.

Life Lesson.


Lesson 1: Kerja Itu Gini, Ya!

Jangan kira PKL yang aku jalani itu cuman kerja-kerjaan aja. PKL yang aku jalani ini bener-bener kayak kerja selayaknya ortu yang cari nafkah buat anak-anaknya. Jadi aku akhirnya bisa merasakan beginilah capeknya cari duit atau apa saja permasalahan yang didapat ketika kerja. Ternyata masalah-masalah yang pernah didapat di kampus itu nggak ada apa-apanya dibanding di dunia kerja. Padahal aku masih belum punya tanggungan, lho. Gimana kalo punya.


Lesson 2: Open Your Mind. Wider.

Ini adalah pertama kalinya aku berada di Pulau Sulawesi. Selama ini aku hanya mendapatkan gambaran tentang pulau ini dari teman-temanku yang berasal di Sulawesi. Sekarang aku dapat merasakannya sendiri. Saking kayanya Indonesia dengan budaya, aku menemukan banyak banget perbedaan antara masyarakat Kota Bitung dengan kota-kota lain yang pernah aku singgahi. Jujur, selain karena Kino, this kind of knowledge also makes my heart flutters. I’m such a lucky bastard karena punya kesempatan buat mempelajari budaya lain di Indonesia, dengan gratis pula.

Yap, meskipun aku dibilang kuper gara-gara nggak sering keluar rumah.

Tapi inilah sebenarnya tantangan yang aku hadapi. Cobaan buatku untuk bisa lebih memahami orang lain dengan sudut pandang yang mereka miliki. Aku mungkin terlalu terbiasa dengan lingkungan yang open-minded ketika aku SMA sampai kuliah di Ilkom. Aku bertemu dengan orang-orang yang bisa menerima berbagai macam pemikiran. Orang-orang yang cover both sides, berwawasan luas, dan memiliki sudut pandang yang unik ketika melihat suatu peristiwa. Tapi aku jarang banget menemui orang-orang kayak mereka akhir-akhir ini. 

Aku capek banget ketika ke-introvert-anku dibilang menyimpang. Atau ketika aku sering banget dapat paksaan buat bersosialisasi lebih sering dari yang biasa aku lakukan. Atau ketika aku dituntut harus bisa ini-itu (dalam konteks kebiasaan masyarakat lokal) dalam waktu singkat hanya karena orang-orang terdahulu lebih bisa “berbaur” daripada aku. Atau ketika orang-orang protes terhadap mood-swing-ku. Rasanya pengen bilang, “Kalian tau apa, sih, soal aku?”

Tapi akhirnya aku berusaha untuk menerima kalau perilaku tadi merupakan bagaimana mereka mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran mereka. Mereka memiliki sudut pandang sendiri, yang terbentuk dari pengalaman yang mereka dapatkan. Pengalamanku dan mereka pastinya berbeda. Dan jika aku menemukan orang dengan perspektif yang berseberangan, aku harus bersyukur. Kenapa? Karena mereka membuatku memperkaya perspektifku.


Lesson 3: Aku Nggak Pantas Mengeluh

Ngeluh? Sering banget sebenarnya. Hahaha. Tapi aku berusaha buat tetap bersyukur dengan apa yang udah aku dapatkan. Banyak teman lain yang ngiri dengan penempatanku. Bukan hanya yang PKL, mungkin orang-orang di luar sana juga banyak yang pengen berada di posisiku. Jadi, nikmat Tuhan yang mana yang kau dustakan?

Di sini aku terngiang pesan Joshua, “No matter what job you do, there’s always gonna be hard times. So you just have to work hard in what you do and you get to enjoy it later on.


Lesson 4: Review My Life

PKL itu sebenarnya lebih banyak waktu luangnya daripada pas kuliah. Aku di sini kerja shift dengan pola empat hari dinas dan sehari libur. Satu hari dinas cuma 6 jam. Jadi, dalam lima hari, aku hanya kerja 24 jam. Selebihnya... well. Bengong, hahaha.

Tapi kadang waktu tersebut aku isi dengan mikirin soal apa yang sudah aku lakukan selama ini. Apakah selama ini aku sudah melakukan hal yang berguna atau buang-buang waktu saja. Lalu aku juga memikirkan lagi soal siapa aja yang kira-kira pernah tersakiti dengan perilakuku, apakah aku bakalan sempat buat minta maaf pada mereka. Aku juga memikirkan apa aja yang membentukku menjadi seperti sekarang ini. Kadang juga kesel ketika memikirkan betapa childish-nya kelakuanku di masa lalu. Yah, pokoknya banyak banget yang aku review. Nggak bisa diungkapkan semuanya di sini, hehe.


Lesson 5: Marriage Thought

Udah mikirin nikah? Hahaha. Yes. Gara-gara lingkungan juga. Bayangin aja, sehari-hari sering banget keluar kata-kata gini:

“Ntar kalo cari suami...”

“Kalau nanti suami kamu gini...”

“Milih suami itu yang gini gini gini...”

Dan biasanya aku cuman bisa bilang, “Hehehe, gitu ya. Hehehe iya” dan tanggapan canggung lainnya. Wajar, sih, sering ngomongin nikah. Selain karena udah di usia wajar, nikah ini juga menentukan relokasi. WAHAHAHA /ditimpuk sendal/

Tapi sebenarnya semakin mikirin nikah, aku semakin ngerasa apa banget. Is that a life goal? Apakah setiap orang yang hidup harus melewati tahap ini? Padahal yang dicari dari nikah itu apa, sih? Itu tergantung dari pribadi masing-masing, sih, ya. Namun jika katanya itu bikin bahagia, kayaknya aku fangirling-an juga bahagia, deh. Kenapa aku nggak nikah sama si oppa aja wkwk. Kidding.

Aku nggak pengen ngomongin nikah dari sisi agama, soalnya ilmuku masih cetek banget. Biarlah nanti ada yang mendakwahi aku soal ini. Aku, sih, ngerasa kalau sebenarnya nggak nikah juga nggak apa. Percuma aja nikah kalau nanti malah tambah gloomy.  Banyak yang pengen nikah karena ngebayangin enaknya. Padahal nggak enaknya juga banyak, deh. Salah satunya soal keuangan. Kalau udah berkeluarga, ya, harus pinter ngatur keuangan, lah, kalau nggak mau melarat. Nggak bisa gitu kalau aku tiba-tiba random pengen me time trus nongkrong aja minum americano di Starbuck. Atau jangan-jangan nanti aku nggak bisa lagi beli album Seventeen karena uangnya dipakai buat kebutuhan hidup. Itu baru keuangan. Belum nanti urusan rumah tangga atau komunikasi dengan keluarga besar. Yah, gitu lah. Trus gimana kalau ternyata dapat suami yang kolot, yang merasa paling dominan dan nggak ngebolehin aku buat ini-itu. Duh.

“Kamu cuman mikirin nggak enaknya, sih.”

Oke. Tapi bagaimanapun menikah itu suatu keputusan yang milihnya itu nggak segampang milih menu restoran. Ada komitmen yang dibangun. Hubungan itu pun melibatkan banyak pihak. Melibatkan diri juga secara pribadi. Rela, nggak, kamu hidup sampai tua dengan orang yang sama? Rela, nggak, kamu membagi hal yang biasanya cuma kamu aja yang tau sama orang itu? Pokoknya sebenarnya aku kagum sama orang yang sudah menikah. Karena mereka dapat merelakan egonya. Sementara aku dipenuhi sama ego. Aku masih ingin berbuat ini-itu dan nggak mau membagi waktuku dengan siapa-siapa.

Tapi jika nanti tiba-tiba kalian melihat ada undangan nikah yang tersebar atas namaku dan orang lain entah siapa, well, he might be one of my ego.


Intinya, PKL ini bikin aku banyak berkaca pada kehidupan yang sudah aku jalani. Dengan pengalaman ini, aku berharap aku bisa lebih bijaksana dalam setiap keputusan yang aku ambil. Aku ingin berubah ke arah yang lebih baik, bergaul dengan orang-orang yang beraura positif, dan mewujudkan impian yang belum aku capai.


Live to the fullest! 

1 komentar:

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.