Minggu, 06 Agustus 2017

Ketika Semua Mudah Diharamkan

Aku nulis ini sehari sebelum UAS. Anggap aja dalam rangka merayakan UAS.  
#pentingbanget

Akhir-akhir ini aku sering ngeliat postingan kontroversial orang-orang di sosial media. Biasanya aku jarang ngasih komentar, sih, kalo udah menyangkut kayak gitu. Mending ngomentarin mukanya Im Youngmin yang semakin shining daripada ikutan berantem bareng netizen. Cuman lama-lama kalo disimpan sendiri, ya, gatel juga pengen nulis.

Ini soal ilmu pengetahuan dan agama.

Oke, sepertinya aku harus nge-disclaimer dulu kalo yang nulis ini ilmunya nggak tinggi-tinggi banget dan kadar keimanannya juga hanya Allah yang tahu. Cuman aku hanya menuliskan apa yang aku tahu aja. Kalau ada yang salah, sok atuh dibetulin. Kalau nggak sependapat, sok atuh melawan argumennya tanpa menjatuhkan yang lain.

Jadi, karena warga Indonesia sudah mulai banyak yang bisa akses internet, sosial media pun bertaburan banyak opini. Sebagai negara demokrasi, opini itu sah-sah aja, kok. Emang hak bagi semua warganya. Tetapi kalau opininya sudah—aku anggap—lebih menyeru pada hal yang nggak bagus, aku juga kadang sebel sendiri. Sebenarnya aku berusaha pengen berada di posisi orang yang menyuarakan opini nggak enak itu. Berusaha berpikir positif dulu seperti, “Mungkin maksudnya baik, cuman nggak enak aja bahasanya” atau “Mungkin dia cuman nggak tau gimana rasanya kayak gitu” dsb.

 Dan kalau aku sudah nulis ini, batas kesabaranku udah lewat.

Sumbernya itu karena akhir-akhir ini aku ngeliat banyak klaim haram. Apa-apa haram. Vaksin haram. Operasi caesar haram. Jadi dokter hewan haram. Kuliah di ITB haram. Pokoknya ujung-ujungnya haram aja. Nggak tau, deh, dalil dari mana (yang tahu boleh ketikan dalilnya di kolom komentar). Intinya, semua yang bersumber dari Barat itu haram. Bahkan ada yang bilang kalo belajar bahasa Inggris itu haram karena itu bahasa orang kafir.

Nggak cukup dengan perihal haram ini. Beberapa yang punya pendapat kayak gini biasanya nggak terima orang yang abu-abu. Pokoknya kalo sependapat sama mereka, kamu Muslim yang baik dan beriman. Kalau nggak, kamu termasuk kaum yang munafik. Hiks. :’)

I feel bad about myself suddenly. Karena kalau pakai standar mereka, aku disebut orang munafik. Soalnya aku nggak ngerasa kalo vaksin, operasi caesar, jadi dokter hewan, kuliah di ITB, dan belajar Bahasa Inggris itu haram. Selama semua itu memberi manfaat bagi umat manusia, why not?

Vaksin misalnya. Pemerintah Arab Saudi aja menganjurkan jamaah buat pakai vaksin meningitis. Operasi caesar juga. Aku masih nggak habis pikir kenapa ini jadi haram. Apakah karena ini teknologi dari Barat atau mengubah ciptaan Allah atau gimana? Kan ini juga buat keselamatan ibu yang melahirkan, ya. Dokter hewan juga, nih, astaga. Kalau nggak ada dokter hewan, gimana coba kalau tiba-tiba ada flu burung atau penyakit hewan lain yang berakibat sama manusia? Dibiarin aja? Biar nggak ngelawan takdir gitu ya. Pokoknya kalo di-breakdown satu-satu alasan keharamannya jadi makin terdengar konyol menurutku.

Tapi, jujur, aku masih pengen berusaha memahami mereka. Yang aku tangkep, mereka itu pengen bener-bener jadi Muslim yang kaffah. Muslim yang mengikuti lifestyle Rasulullah. Rasulullah, kan, nggak pake produk Barat, ya. Jadi mereka langsung menghubungkan semua itu dan menarik kesimpulan kalau jika Rasulullah nggak melakukan itu, maka itu nggak boleh alias haram.

Bener, nggak? Gitu, kan? Coba kasih alasan lain kalau emang bukan.

Masalahnya gini. Kita, kan, konon berada di zaman fitnah. Zaman ketika Islam dan umat Muslim semakin dipojokan. Kita pengen banget, kan, ngembaliin zaman kejayaan Islam?

“Makanya kita harus mendirikan negara khilafah!”

Ehm. Wait.

Pada saat wacana kekhilafahan ini belum segencar sekarang, aku termasuk pembaca setia buku-buku Ustad Felix Siauw. Termasuk yang mengenai khilafah. Awalnya aku tertarik buat baca trus juga terbawa. Maksudnya setuju sama yang diutarakan Ustad Felix. Ehiya bener juga, ya. Islam emang berjaya banget pada waktu zaman kekhilafahan. Kayaknya harus diterapin lagi, nih! Tapi pas ngikutin lagi, lama-lama aku ngerasa nggak sreg sama sesuatu....

Ya itu tadi, pengharaman unsur-unsur Barat.

Padahal berjayanya khilafah itu bukan semata-mata karena bentuknya kekhilafahan, namun karena apa yang ngebentuknya. Dalam buku Philosophy in Minutes, Islam pada masa “Golden Age”-nya mengenalkan bahwa agama dan pemikiran rasional itu dapat berdampingan satu sama lain. Kita juga tahu bahwa Islam di masa kejayaannya memiliki banyak ilmuwan terkenal seperti Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rush (Averroes). Yang bikin bangga, ilmuwan Islam dulu itu polymath. Artinya mereka itu ngga ahli di satu bidang saja alias jago di berbagai bidang. Ibnu Rush aja selain jago fisika juga jago hukum dan filsafat. Dan asal tau aja, pemikiran ilmuwan-ilmuwan Muslim ini banyak terpengaruh dari pemikiran Plato dan Aristotle yang berasal dari Barat. Tapi mereka nggak semerta-merta ngeharamin pemikiran dua filsuf ini, lho. Justru mereka malah mengadaptasi pemikiran ini dan menyandingkannya dengan teologi Islam.

You got the point, right?

Jadi, Islam dulu bisa berjaya karena keterbukaannya akan ilmu pengetahuan. Para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri (Wikipedia). Inilah pentingnya bagi kita untuk terus belajar, ketimbang haram-haraman.

Akhirat emang penting. Tapi dunia juga sama pentingnya. Kan sering, nih, kita dianalogikan seperti sedang melakukan perjalanan menuju tujuan akhir ke akhirat. Nah, kalo selama perjalanan kita nggak tau harus jalan lewat mana, berapa biaya selama perjalanan, gimana cara antisipasi kalo mobilnya mogok, atau lain halnya gara-gara cuman mikirin ‘yang penting pulang’, ya gimana mau sampai dengan selamat ke tujuan?

Udah, ah. Mau UAS dulu.



3 komentar:

  1. duuuh suka quotes terakhirmu. aku sepakat, dan aku bukan Felixian ahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Quotes terakhir? yg "Mau UAS dulu" itu ya mbak? heheheh
      aku juga ngga kok mbak, bacanya for research purpose aja :D

      Hapus
  2. Aku kaget waktu baca "Bahkan ada yang bilang kalo belajar bahasa Inggris itu haram karena itu bahasa orang kafir." Seorang cendekiawan-sejarawan mualaf yang bernama Martin Lings menulis biografi Nabi Muhammad dalam bahasa Inggris. Buku tersebut terpilih jadi buku biografi Nabi terbaik yang berbahasa Inggris di konferensi Sirah Nasional di Islamabad tahun 1983. Buku tersebut juga udah dipublikasikan dalam berbagai bahasa seperti Prancis, Italia, Belanda, Arab, dan Jerman. Selain buku biografi Nabi, Martin Lings juga menulis banyak jurnal tentang Islam dalam bahasa Inggris. Kalau bahasa Inggris katanya diharamkan untuk dipelajari, bagaimana jadinya? :((

    BalasHapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.