Jumat, 22 September 2017

Doubt

Baru menerima hasil IP-ku. Terus kecewa. Mungkin karena yang aku dapatkan itu jauuuh banget dari target. Kayaknya, nih, kayaknya, aku udah belajar lebih giat dari kemaren. Aku sering nanya. Aku berusaha lebih aktif di kelas. Tapi kayaknya itu nggak cukup. Aku awalnya berusaha menerima. Sampai kemudian ada beberapa teman nanya IP. Trus kayak ngebanding-bandingin sama IP-ku. 

IP mereka jauh lebih tinggi. 
And they didn't look that hardworking. 
O, iya. Jangan nilai orang dari luar. Siapa tau belajarnya mungkin diam-diam tengah malam pas aku udah tepar. 

Tapi itu cukup ngebikin mental breakdown. Aku tiba-tiba meragukan kemampuanku sendiri. Aku ngerasa nggak pinter. Kayak I was born for being nothing. Tiba-tiba aku ragu buat ngelanjutin masa depanku. Ibarat lagi jalan, di depan ada kabut tebal. Pilihanku cuman dua: balik lagi atau berhenti. Nggak pengen rasanya nerobos lewat kabut itu. Males. Capek. 

Di sisi lain, aku kenal sama teman-teman yang menginspirasi. Mereka seperti udah punya rencana yang terarah buat masa depan mereka. Spesifik. Dan langkah-langkah yang mereka capai buat mewujudkannya sangat terlihat. Seperti ada teman yang pernah bilang, "Aku pengen punya jabatan segini di usia segini" dan dia lagi sibuk nyicil kredit. Ada yang punya perencanaan finansial dan dia udah investasi sana-sini. Lalu aku ngebandingin sama diriku sendiri. Kok, aku kerdil banget ya? 

Mungkin itulah kenapa aku kemudian memilih buat living in the present. Abaikan masa depan. Aku hidup di masa sekarang. I spend money for my temporary happiness. Beli makan enak. Nonton ke bioskop. Jalan-jalan. Nabung? Nggak peduli. Nabung aja aku nggak peduli. Apalagi mempersiapkan diri buat jadi perempuan yang istri-able. 

Intinya, aku ragu-ragu dengan diriku sendiri. 

Aku pernah berada pada situasi yang sama ketika SMA. Mungkin itulah saat di mana aku bener-bener down. Aku nggak percaya siapa-siapa. Aku nggak percaya ada yang bisa mengerti dengan situasiku. Aku merasa orang-orang meninggalkanku. Aku ngerasa orang banyak yang nge-judge aku salah sementara aku ngerasa paling benar. Itulah mungkin yang bikin aku membangkang. 

Apakah ini akan terulang lagi?

Kemudian aku ingat hadiah ulang tahunku yang ke-22. Sederhana. Hanya kertas karton dengan tempelan kertas origami yang membentuk hati. Tapi yang membuat itu istimewa adalah pesan-pesan yang ada dalam origami itu. Si pengirim hadiah niat menanyai teman-teman satu persatu mengenai satu kata yang mendeskripsikanku. 

Aku kaget dan terharu. Banyak kata-kata positif yang diberikan teman-teman padaku, bahkan yang nggak pernah aku bayangin sekalipun. Aku sampai ragu, mereka beneran ngeliat aku kayak gini, ya? Masa, sih? Dan karena itu kata-kata positif, aku nggak mau berprasangka buruk lagi. Udah, percayai aja. Kalopun nggak ngerasa, siapa tau jadi doa. :)

Yang punya ide soal hadiah ini beserta orang-orang yang ikut berpartisipasi, semoga baca ya. Hehe.

Lalu aku ingat masa-masa prajabatan. Pada suatu kelas, kami disuruh untuk menyebutkan nama orang yang menginspirasi. 

Aku menyebutkan namanya, orang yang pernah memuji namaku.

Teman-temanku dan fasilitator menatapku heran. Dia bukan artis atau orang terkenal. Dia juga nggak punya hubungan apa-apa denganku. Tapi kenapa aku nyebutin namanya?

"Dia adalah orang yang tahu apa yang ingin dia lakukan."

Sesederhana itu.

Beberapa tahun silam, kami memang pernah berada dalam sebuah situasi yang mengharuskan kami untuk bersama. Beberapa kali kami saling bertukar cerita. Hanya cerita pada umumnya. Beberapa percakapan banyak yang aku lupakan. Tapi ada satu pertanyaannya yang aku ingat banget, "Passion-mu apa?"

Aku lupa jawab apa. Antara ragu atau nggak jawab apa-apa. Dia juga bilang kalo dia ragu. Tapi aku tau apa yang dia suka. Semua orang tau. Dia akhirnya berhasil dengan passion-nya itu. Setidaknya di mataku. Dan itulah yang aku ceritakan ketika prajab. Kelas riuh karena cerita ini. 

Lalu apa hubungannya dia dengan mental breakdown yang lagi aku alami?

He makes me feel alive.

Okay, am I too much?

Gimana, ya? Seeing him doing what he likes, despite the obstacles, makes my heart flutters. Even I only can see it from the distance. But I know he's doing right. Do I look like a proud mom? Or a proud friend? I'm not sure. I'm no one for him, but I always wish him the best. Ngeliat dia bersanding sama passion-nya itu therapeutic. A happiness that I can't describe. I want to protect him from any negativity, even I don't know how.  

Sometimes I feel upset when I remember a very little time we have spent. Kemudian aku sadar bahwa waktu-waktu tersebut memberi dampak yang berharga saat ini. Ketika aku merasa ragu dengan diriku sendiri, aku ingat masa-masa ketika kami sama-sama ragu. Dan dia udah jauh. Masa aku nggak bisa nyusul? Dan secara nggak langsung, dia juga ngasih contoh gimana dia bisa stand out tanpa ngikutin jejak yang sama dengan orang lain. 

Dari semua itu, aku sadar. Keragu-raguanku ini muncul karena aku terlalu membandingkan diriku dengan orang lain. Aku punya keunikan yang nggak aku sadari. Dan emang perlu bantuan orang lain buat menyadarkanku. Terima kasih buat orang-orang yang menginspirasi! 

Jika kamu juga sedang ragu dan perlu teman cerita, semoga aku bisa ngebantu, ya. 

******
Epilog

"Audi, nonton, yuk."
"Nonton apa? Nonton bola?"
"Nggaaak, nonton di bioskop."
"Okee. Ada film apa emang?"
"Nggak tau. Pokoknya nanti nonton aja, ya."
"Oke."

Percakapan ini hanya jadi wacana sampai sekarang. 

4 komentar:

  1. Hiks saya banget, baca pengumuman dengan pede dan ternyata ....#hiks #hiks

    Dan yg paling enak emang cari pembenaran ������

    #sementara ����

    BalasHapus
  2. Kalau ada yg ngajak nonton tapi bilang "nonton aja" jelas gak jadinya :D

    Oiya jangan sedih. IP naik turun yg penting hasil sendiri. Semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk iyaa akhirnya cuman wacana.

      Okee terima kasih :")

      Hapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...