10 Ilustrasi tentang INFJ yang Relatable Banget!


Berhubung ujian udah selesai dan waktu nganggur lumayan banyak, aku memutuskan buat melakukan self-discovery. Ini merupakan kegiatan yang aku lakukan untuk mengenal diri lebih dalam lagi. Sering, ya, kita ngerasa kalo kita tahu banget sama diri kita. Padahal masih banyak hal yang sebenarnya belum kita temukan. Nah, di masa-masa inilah aku pengen menggali lagi. 

Kegiatan self-discovery ini aku lakukan dengan mengandalkan Pinterest. Di sini aku ketik kata kunci 'self discovery' dan nanti akan disodorkan ide-ide soal kegiatan, pertanyaan, serta writing prompt yang bisa aku praktikan. Selain itu aku juga melakukan beberapa tes kepribadian di internet. Salah satunya adalah Myers-Briggs Type Indicator (MBTI). 

MBTI adalah tes psikotes yang dirancang untuk mengukur preferensi psikologis seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan (Wikipedia). Ada 16 kemungkinan hasil yang bisa didapatkan setelah melakukan tes ini. Tes ini dilakukan untuk mengetahui dimensi pemusatan perhatian (Introvert/Extrovert), dimensi memahami informasi (Sensing/Intuition), dimensi menarik kesimpulan dan keputusan (Thinking/Feeling), dan dimensi pola hidup (Judging/Perceiving). Kalo mau ngetes, bisa langsung ketik 'mbti test' di Google. Tapi kalo aku sendiri lebih senang buka di https://www.16personalities.com/ karena penjelasannya lumayan lengkap. 

Setelah aku melakukan beberapa tes MBTI, ada satu hasil yang hampir selalu sering aku dapatkan: INFJ. 


Tes MBTI ini lumayan berjasa buatku karena gara-gara tes ini akhirnya aku bisa menerima keadaanku. Sejak masih kecil, aku punya beberapa problem di kehidupan sosialku. Seperti nggak bisa beradaptasi dengan cepat, nggak punya common interest kayak kebanyakan orang, bahkan sering banget orang-orang punya persepsi buruk mengenai kepribadianku sehingga aku ngerasa harus menyamakan kepribadianku kayak orang lain. Ketika melakukan tes MBTI dan mendapatkan INFJ, aku langsung terhenyak pada satu kalimat dalam penjelasan INFJ: the rarest personality type. Pantesan! 

Aku langsung membaca banyak artikel mengenai INFJ. Surprisingly isi artikelnya relatable banget sama yang aku alami. Itu lumayan bikin aku lega karena ternyata nggak cuman aku yang menghadapi masalah kayak tadi. Hahaha. 

Sebenarnya kepribadian INFJ itu kayak gimana, sih? 

Aku nemu beberapa ilustrasi dari Pinterest yang relatable sama INFJ. Berdasarkan pengalamanku juga, ya. Berikut ilustrasinya:


1. Bilang, nggak, ya.....


Ini biasanya terjadi waktu ada kumpul-kumpul. Pengen gitu kayak temen-temen lain yang bisa ceplas-ceplos dengan lancar. Aku biasanya nunggu momen dulu. Tapi sebelumnya, ya, aku mikir-mikir dulu. Kira-kira ada yang merhatiin, nggak, ya? Jokes-ku ntar garing, nggak, ya? Perlu, nggak, aku ngomongin ini? Dan banyak pikiran lainnya.

Selain waktu kumpul-kumpul, ini juga berlaku ketika aku lagi bicara empat mata. Biasanya, sih, kalo lagi curhat. Yang pengen aku bilang ke teman curhatku ini biasanya melalui proses filter. Ada beberapa kali ketika aku berusaha melonggarkan filternya. Trus aku nyesel. 


2. Two in one


Aku pas baca ini sampai bersorak dalam hati saking bisa relate-nya. Trus ngebatin soal gimana beberapa temanku pernah ngomong kalo aku itu unpredictable. Maybe because I constantly change from one personality to another. Tapi bukan DID, ya! 

Misalnya, ada kalanya aku pengen sendirian. Nggak pengen ada siapapun yang ganggu waktuku. Tapi nanti bisa aja aku tiba-tiba pengen ditemenin. 


3. Me time is the best time!


Biarpun kadang-kadang pengen ditemenin, tetap saja, sih, me time itu yang paling ngebikin fresh. Di sini kadang orang nggak bisa ngerti. Kok Audi senang sendirian, sih? Ya, gitu. Maybe because I can be the real me when I'm alone? Lagipula menurutku banyak kegiatan yang bisa bikin aku senang ketika aku lagi sendirian. Seperti baca buku, nonton drama, doing random workout, ataupun duduk-duduk di kedai kopi sambil berkontemplasi.


4. ....aslinya stalker


Ini sering terjadi ketika aku interested in someone. Aku bisa stalk sosmednya dia ataupun nge-googling namanya. Trus dari stalk sosmed itu aku bisa tau detail seperti dia alumni sekolah mana aja, saudaranya berapa, ortunya siapa (sampai pekerjaan dan jabatannya), orang-orang di inner circle-nya siapa, hobinya apa, lagu favoritnya apa, trus kadang menghubung-hubungkan satu postingan dengan postingan lain sehingga sampai nemuin dia itu lagi naksir siapa, lagi berjuang buat apa, dan yaaah pokoknya aku bisa dapat banyak banget informasi tentang orang itu dari internet. Jadi pas ketemu sama orangnya dan dia cerita soal hal yang udah aku ketahui, aku cuman senyum-senyum aja. Because I've known everything about you! Tapi mending aku simpen aja. Takut dianya kaget, wkwk.

Bagi yang ngerasa lagi dilirik sama Audi, bisa mulai mengamankan informasinya di internet, ya. 


5. Me when texting someone


Aku bukan orang yang suka memulai chat kecuali kalo emang penting. Tapi ada kalanya aku perlu teman ngobrol melalui chat. Nah, kalo mau memulai duluan, banyak yang aku pertimbangkan. Salah satunya, ya, takut ngeganggu orangnya. Cuman kalo udah akrab, mah, gas aja. Wkwk.

Trus terkadang juga pengen ngasih sinyal telepati sama orang yang pengen aku ajak chatting. Semoga dia bisa nangkap trus ngechat aku duluan. Gitu.


6. O V E R T H I N K I N G


Ini, nih, yang sering jadi hal yang aku pikirin sehingga kepikiran mulu dan akhirnya terlalu dipikirin. Sampai terkadang nggak bisa aku handle. Trus aku juga sering kepikiran hal-hal yang udah lalu sampai kebawa baper lagi. Begitu juga kalo mikirin masa depanku. Yah, intinya banyak mikir, lah. 


7. Well, I have a trust issue...


Aku ngeliat setiap orang memiliki selubungnya masing-masing. Semakin tipis selubungnya, semakin nyaman aku berada di dekatnya, dan semakin dekatlah dia dengan diriku yang sebenarnya. Yap, aku lumayan pemilih dengan siapa aku pengen berbagi. Aku nggak pengen ngebagi sesuatu yang menurutku privat kepada orang yang salah. 


8. Plis, jangan dadakan!


Kalo ada suatu acara atau kegiatan, aku biasanya sebisa mungkin siap akan situasinya. Aku harus tau suasananya gimana, orang yang datang siapa aja, atau apa aja yang akan terjadi pada saat itu. Nah, kalo tiba-tiba dalam satu hari yang bisa aku habiskan dengan me time tiba-tiba ada yang nyuruh kumpul atau apa, aku bisa langsung cemas. Soalnya aku ngga nyiapin apa-apa. Di sinilah kadang aku ngumpulin beberapa excuse. Nggak ada yang bakal terima alasan, "Aku lagi pengen sendiri." ketika aku bilang kalo aku nggak bisa datang pada acara itu. Hiks. 


9. Nikah? Hmm.....


Semakin aku mendalami karakterku, aku makin punya pertimbangan buat jadi single. Terutama mengenai trust issue tadi. Gimana kalo nanti orang yang sama aku itu bukan orang yang toleran? Bukan orang yang open-minded, yang terbuka pikirannya bahwa manusia itu banyak macamnya dan punya background masing-masing. Gimana kalo ternyata kita punya prioritas yang berbeda dan nggak bisa berakomodasi satu sama lain? Well, people who approached me in the past mostly are that kind of people. Karena itulah mungkin aku ngerasa my so-called soulmate kayaknya jauh banget ditarohnya sama Allah. 


10. "Kamu kenapa?" | "........"


In case ada yang nanya keadaanku dan nggak bisa aku jawab. Mungkin jawabannya ada di atas. (Bahkan aku juga nggak hapal istilahnya.....).


So, kurang lebih begitulah yang selama ini aku rasakan ketika menjadi seorang INFJ. Aku nggak berharap kamu bisa relate banget, tapi setidaknya tau aja, deh. Hehe. 

Jadi, gimana hasil tes MBTI kamu? Sok atuh komen aja~



10 Ilustrasi tentang INFJ yang Relatable Banget! 10 Ilustrasi tentang INFJ yang Relatable Banget! Reviewed by Audia Azani on Februari 18, 2018 Rating: 5

8 komentar:

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Diberdayakan oleh Blogger.