Hal yang Aku Rindukan dari Perjalanan ke Thailand

Wat Arun*

Sudah sekitar tiga bulan nggak keluar rumah, kecuali buat beli keperluan sehari-hari atau ke ATM. Nggak pernah lagi akhir-akhir ini yang namanya nyari event Korea tiap weekend atau nongkrong random ke suatu tempat. Pandemi ini memang sudah membatasi gerak sebagian besar orang, kecuali yang terpaksa keluar atau yang ngeyelan. Hal tersebut membuatku merindukan jalan-jalan. 

Terakhir kali aku jalan jauuuh banget adalah pada bulan Agustus-September 2019, yakni ke Negeri Gajah Putih alias Thailand. Berawal dari ajakan iseng temanku karena dia pengen banget ke luar negeri sekaligus pengen self reward karena telah berhasil melewati mata kuliah Proposal Skripsi, akhirnya iseng-iseng ini diwujudkan dengan ke luar negeri beneran. Kami memilih Thailand karena negara ini emang salah satu destinasi wisata populer di dunia serta nggak memerlukan visa untuk ke sana. Selain itu, untuk belanja dan segala macemnya juga murah. 

Ada tiga kota yang kami kunjungi, yaitu Bangkok, Huahin, dan Pattaya. Total hari perjalanan kami adalah 9 Hari 9 Malam, dimulai dari tanggal 27 Agustus 2019 (hafal tanggalnya karena bertepatan dengan debut X1 :')) hingga pulang tanggal 4 September 2019. Di tiga kota tersebut kami mengunjungi beberapa tempat, mulai dari tempat foto instagramable ala-ala Eropa, situs budaya, tempat belanja, hingga tempat menonton pertunjukan. 

Melalui tulisan ini, aku yang rindu jalan-jalan cuma ingin mengenang apa aja yang berkesan buatku selama perjalanan di Thailand. 

1. Interaksi dengan warga lokal

Pertama kali menginjakan kaki di Thailand, yang kami rasakan paling dominan adalah bingung. Bingung karena nggak bisa baca aksara Thailand. Bingung juga gimana cara ngomong atau tanya-tanya sama warga lokal. Namun, lama-lama jadi biasa dan meninggalkan kesan tersendiri. 

Ada satu-dua hari yang disediakan oleh penyedia travel untuk acara bebas. Acara ini kami isi dengan jalan-jalan ke tempat yang tidak masuk dalam itinerary. Gimana caranya? Dengan pesan Grab! Aplikasi Grab di sini untungnya bisa dipakai meskipun nggak bisa dibayar pake Ovo. Nah, supir Grab yang kami temui ini banyak macamnya. Ada yang bisa bahasa Inggris, ada yang nggak ngerti sama sekali. Jadi kadang cuman sekadar ngucap "sawatdeeka" doang, tapi ada supir yang niat ngajak ngobrol sampai ngaktifin translator.  

Interaksi juga sering terjadi ketika belanja. Karena aku dan temanku pakai jilbab, para penjual suka otomatis bisa Bahasa Indonesia. Biasanya bilang "Ayo dilihat dulu" "Di sini murah-murah" "Aku cinta Indonesia" bahkan di beberapa tempat ada yang menyediakan pembayaran rupiah. Cuman menurutku lebih baik pakai Baht aja karena rada lebih mahal kalo pake rupiah. 

Tempat belanja oleh-oleh di salah satu toko di Asiatique.

2. Jalan kaki dari Santorini Park ke Swiss Sheep Farm

Ini terjadi ketika kami ke Huahin. Di Huahin sendiri ada beberapa tempat ala-ala Eropa yang biasanya jadi spot foto-foto. Yang kami kunjungi di antaranya Santorini Park, Swiss Sheep Farm, dan The Venezia. Sebenarnya ini ngga tepat di kota Huahin, sih, tapi agak harus berkendara jauh ke daerah Cha Am. Yah, ibaratnya kayak Bandung-Lembang, lah. Kami berkunjung ke tiga tempat itu dalam satu hari. Santorini Park dengan Swiss Sheep Farm lumayan berdekatan. Berbeda dengan The Venezia yang rada jauh sendiri (tapi lebih dekat kalau ke Huahin). Jadi kami memilih ke Santorini Park dan Swiss Sheep Farm, baru nanti naik mobil lagi ke The Venezia. 

Nah, dari Santorini Park ke Swiss Sheep Farm kayaknya deket banget kalo dilihat dari Google Map. Jadi kami memutuskan buat jalan kaki aja. Tapi kenyataannya JAUH BANGET! Kami harus jalan kaki sepanjang 2 kilometer. Ngos-ngosan parah. Apalagi itu siang-siang. Sering banget kami disamperin sama ojek Thailand yang nawarin tumpangan. Tapi kami tolak sambil senyum, hehe. Untung di tengah jalan ada KFC. Kami memutuskan buat singgah sebentar untuk nyemil ceria, ke toilet, sama pasang koyo cabe. Setelah energi terkumpul baru jalan lagi. 

Penampakan jalan di Google Map

3. Ngasih makan alpaca

Penampakan House of Alpaca di Swiss Sheep Farm.

Salah satu tujuan mengapa aku pengen banget ke Swiss Sheep Farm adalah karena pengeeen banget ketemu alpaca! Sebenarnya aku udah pernah liat alpaca di Jatim Park 3, tetapi saat itu alpaca-nya habis kehujanan, jadi nggak keliatan pluffy-nya. Akhirnya memutuskan buat ke Swiss Sheep Farm karena konon katanya di sini juga disediakan tempat meet and greet bersama alpaca. 

Yeay!

Yap, ternyata memang ada. Tepatnya di House of Alpaca. Tempat ini ngga termasuk sama biaya masuk Swiss Sheep Farm, jadi harus bayar lagi sebesar 80 baht. Namun lumayan puas banget bisa liat alpaca yang beneran pluffy di sini. Pengunjung juga dikasih kesempatan buat ngasih makan. Keluar-keluar bau kambing. Tapi tenang aja, ada tempat cuci tangannya, kok! 

4. Liat sunrise

Ini bisa dilakukan di Huahin. Kota ini letaknya di Thailand bagian selatan. Pantainya menghadap Timur. Kebetulan penginapan kami dekat banget sama pantai Huahin, cuman perlu 10 menit jalan kaki. Sebelumnya, kami mengecek dulu jam berapa matahari terbit di daerah sana. Kami bangun sekitar jam 5 pagi dan langsung ke luar dengan baju khas mahasiswa yang nyari nasi uduk di sekitar kosan pagi-pagi. Lumayan, sih, hitung-hitung menghirup udara pagi di Huahin yang menurutku cukup sepi kotanya. Tidak lupa kami bawa kamera untuk menangkap momen.

Ketika udah sampai, ternyata mendung saudara-saudara! Jadi kami harus menyimpan kekecewaan karena tidak berhasil melihat sunrise. Akhirnya kami cuman foto-foto random, stretching, dan balik lagi ke penginapan.    

Gagal deh sunrise-nya*

5. Muter-muter di 7-Eleven 

Di Indonesia, gerai 7-Eleven tutup karena kalah saing sama brand lokal. Beda dengan di Thailand. Sejujurnya aku cukup senang dengan 7-Eleven karena sering menyediakan makanan beku, di mana ini jarang banget tersedia di Indomaret ataupun Alfamart di sekitar tempatku ngekos. Makanya ketika nemuin 7-Eleven lagi di Thailand berasa waw gitu. Rasanya pengen seharian nongkrong gitu biarpun ngga tau mau beli apa. Paling berani beli susu, roti, sama spagetti yang ada tulisan halalnya. 

Salah satu jajanan yang berani aku beli di 7-Eleven.

6. Naik BTS

Bukan BTS Kpop, ya! Melainkan BTS Skytrain atau Bangkok Mass Transit System. Kami hanya dua kali naik ini, yaitu perjalanan pulang pergi Mo Chit - Siam. Tinggal beli tiket seharga 44 baht. Keretanya pun kurang lebih kayak MRT di Singapura. Perjalanannya sekitar 25 menit. Cuman sehari itu doang kami berkesempatan buat naik BTS, selebihnya kami ke mana-mana naik van bareng guide + supirnya. Kalo ada kesempatan lagi jadi pengen menjelajahi Bangkok dengan transportasi ini. 

Begini kira-kira bentuk kartu buat naik BTS.

7. Menjelajahi MBK

Kurang rasanya ke Thailand kalo ngga belanja. MBK adalah salah satu tempat pusat perbelanjaan terbesar di Thailand. Di sini kalo disamain sama Indonesia kayak Mangga Dua Square, lah. Barang-barang branded ada, sih. Tapi ada juga barang-barang lokalnya gitu. Di sini kami belanja dibatasin cuman 2 jam! Bayangin bisa liat apa aja selama 2 jam di mall gede. Ini bahkan kami minta injury time dulu sama guide buat nyari tempat sholat. Pokoknya ngga puas, deh, karena cuman dikasih waktu dikit wkwk. Kalo ke mall, ya, minimal 5 jam lah ya biarpun cuman muter-muter ngga beli apa-apa. 

Ohya, di sini kami juga diingetin buat hati-hati sama barang bawaan. Ternyata tempatnya cukup rawan juga. Alhamdulillah kami aman-aman aja, kok. 

MBK dari luar (tripsavvy.com)

8. Menonton berbagai pertunjukan 

Pertunjukan adalah salah satu atraksi yang menarik jika berkunjung ke Thailand. Pengalaman kami nonton pertunjukan dimulai dari tempat yang namanya Nong Nooch Village yang terletak di Provinsi Chonburi, Thailand. Di sini kami menonton pertunjukan budaya serta pertunjukan gajah. Aku paling amaze sama pertunjukan gajah karena di sini gajahnya bisa melakukan banyak hal yang biasanya dilakukan manusia seperti bermain bola, melukis, bahkan mijet. Lukisan yang dilukis sama gajah di situ langsung dijual. Kalo kehabisan juga masih ada kaos-kaos lain yang dijual. 

Yang mengejutkan adalah ketika kami masuk ke Pattaya. Kami diajak untuk menonton The Colosseum Show yang mana ternyata yang tampil adalah para banci Thailand. Pertunjukannya sangat dinamis karena menampilkan kabaret, mulai dari yang tradisional Thailand, Asia Timur, Asia Tenggara, dan juga Barat. Pemainnya juga ngga segan-segan buat jalan ke kursi penonton. Dan pas aku lihat juga Masya Allah mulus banget mukanya (sebagai pemilik wajah bruntusan, aku ngiri). Setelah show berakhir juga kita dapat kesempatan untuk foto dengan para pemainnya. Tapi harus bayar. 

Pertunjukan The Colosseum yang berhasil dipotret*

9. Beli jajanan Thailand

Ortu berkali-kali mengingatkan buat hati-hati kalo beli makan di Thailand. Ini kami terapkan banget, salah satunya dengan ngecek label halal kalo lagi milih makanan di 7-Eleven. Kami juga hati-hati banget pas lagi ke pasar malam. Paling berani cuman beli kebab yang dijual sama ibu-ibu berjilbab asal Malaysia. 

Namun, di hari terakhir sebelum ke bandara, akhirnya kami memberanikan diri untuk membeli salah satu jajanan Thailand, yaitu Banana Roti! Jadi ini sederhananya kayak pancake khas Thailand gitu. Tapi aku pas liat cara pembuatannya rada-rada mirip martabak asin. Jajanan ini dijual pake sejenis gerobak dan kebetulan nongkrong depan hotel tempat kami menginap. Guide kami juga bilangnya ngga apa-apa gitu makanannya. Jadi, bismillah lah. Alhamdulillah enak. Mayan jadi bekal buat pulang ke Indonesia, hehehe. 

Maaf fotonya tidak aestetik, tapi beginilah kira-kira bentuk Banana Roti.

10. Berburu freebies! 

Kapan punya waktu berburu freebies

Sebenarnya kami ke Thailand juga sekalian mau ketemu sama teman-teman kami dari AB6IX yang ngadain fanmeeting tanggal 31 Agustus 2019 di IMPACT Arena, Muang Thong Thani, yang tempatnya sekitar 1 jam dari Bangkok. Seperti halnya event Korea lain, selalu ada interaksi antar fans terlebih dahulu sebelum ketemu artisnya. 

Kami sampai ke tempatnya sekitar jam 9 dan di situ mulai agak rame. Sebelumnya kami foto-foto dulu sama wall of fame dan banner. Kemudian, barulah kami ngambil tiket dan keliling-keliling nyari freebies. Di mana ada orang berkerumun, di situlah kami akan ikut antre. 

Tiket fanmeeting.

Yang bikin rada lucu, sih, language barrier. Sering banget kami kayak diajak ngobrol sama orang trus kami bilang "Sorry, speak English, please." dan orangnya langsung mundur wkwk. Ketika sama orang yang ngebagiin freebies juga sering ada miskomunikasi. 

Kalo mau ambil freebies, kan, yang nyediain suka ngasih syarat gitu. Entah like, retweet, follow di Twitter kah, atau persyaratan lain kayak nunjukin foto member AB6IX. Nah, pernah kami pas mau ambil suatu freebies, syarat yang diajukan sama sama yang ngasih adalah menunjukan merch salah satu member, yaitu Im Youngmin. Kebetulan aku punya kipas dan slogan Youngmin. Pas kami nanya "What should we do?", mbaknya itu cuman nunjuk-nunjuk sloganku trus kami bingung, mbaknya ketawa karena frustrasi, akhirnya ada yang bisa menjembatani kami dan bilang kalo cukup nunjukin slogan aja. Wkwkwk, okedeh. 

Overall, pengalaman nyari freebies di Thailand itu menyenangkan banget. Temanku aja bilang kalo dia sebenarnya gengsi buat ambil freebies waktu ada konser di Indonesia, tapi di sini ada yang kumpul langsung kita samperin. Soalnya untuk pembagian freebies-nya lumayan tertib. Ngga langsung berkerumun dan ngerepotin gitu. Jadi yang ngebagi senang, yang dibagiin juga senang. Mana freebies-nya lucu-lucu lagi, hehe.


Itulah hal-hal yang bikin aku kangen sama Thailand. Masih banyak pastinya hal-hal yang belum aku jangkau di Thailand. Tapi karena adanya pandemi, keinginan ini emang musti diredam dulu. Akhirnya rasa rindunya aku tulis di sini aja, deh. Mungkin bisa jadi referensi buat kalian yang punya rencana ke Thailand setelah semua ini berakhir. 

Stay healthy!


*) taken by Frety 

Hal yang Aku Rindukan dari Perjalanan ke Thailand Hal yang Aku Rindukan dari Perjalanan ke Thailand Reviewed by Audi on Juni 21, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Diberdayakan oleh Blogger.