Dari Malang ke Solo: Dari Peserta ke Pemakalah


Anak-anak esteemkeji are very passionate. Kalo ada call for paper yang berhubungan dengan bidang ilmu kebumian ataupun fisika, pasti bakalan diserbu sama taruna-taruninya. Mereka berbondong-bondong bikin penelitian untuk dipublikasikan dalam bentuk jurnal ilmiah atau paper yang mana nantinya penelitian ini akan dipresentasikan. Reward-nya berupa angka kredit, publikasi, relasi, pengalaman, dan pastinya..... jalan-jalan!

Aku termasuk yang telat banget buat nyemplung ke dunia ini. Yah, sebenarnya nggak nyemplung-nyemplung banget. Cuman ikutan tren aja. Soalnya kayaknya nggak asik gitu kalo kuliah cuman di kampus aja. Sekali-sekali pengen, lah, nulis paper juga.

Awalnya minder buat memulai. Soalnya aku nggak tau apa-apa soal nulis atau meneliti. Untunglah ada ibu peri bernama Hanifa yang nawarin aku buat mendeskripsikan kondisi atmosfer saat siklon tropis Cempaka dan Dahlia. Nah, di situlah akhirnya pertama kali aku mulai nulis paper! Tulisan ini kami kirimkan ke Basic Science International Conference 2018 yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya (UB). Dalam menulis ini, kami dibantu oleh Pak Fadlan. Alhamdulillah lolos review dan dipresentasikan di UB, Malang, pada tanggal 6-7 Maret 2018.

Sebenarnya yang presentasi cuma satu aja, yaitu si Hani. Tapi, aku pengen ikut-ikutan juga dengan mendaftar sebagai peserta. Selain karena pengen liat seminar itu kayak gimana, aku juga pengen banget ke Malang. Yap, aku emang nggak pernah ke Malang sebelumnya. Aku juga dengar kabar kalo di Malang, tepatnya di Batu Secret Zoo, ada alpaca! Untungnya tanggal seminar bertepatan dengan libur semester sehingga setelah seminar bisa dipuas-puasin juga buat jalan.

Demi Alpaca dan Cireng Isi

Perjalanan seminar pertamaku dimulai dengan naik kereta ekonomi dari Jakarta ke Malang (yang aku nyesel banget naiknya) bersama Peni dan Yoshua. Selama kami di Malang, kami menginap di rumahnya Hani (makasih Hani dan keluarga!). Hari pertama di Malang diwarnai dengan insiden alergiku yang kambuh diakibatkan makan pecel yang ada kandungan petisnya. Padahal harganya murah dan makannya emang enak, heuheu. Untung alergiku udah mereda pas sorenya sehingga kami bisa jalan-jalan ke Alun-alun Kota Batu.

Menurutku, Alun-alun Kota Batu ini merupakan salah satu alun-alun terbaik yang pernah aku datangi. Sepanjang perjalanan mengelilingi tempat ini, aku nggak nemu ada orang yang ngerokok. Soalnya smoking area udah disediakan di tempat ini. Di sini juga ada pengeras suara yang selalu mengingatkan pengunjungnya soal ketersediaan area merokok serta memperingatkan buat nggak buang sampah sembarangan. Salut!

Kota Batu dari bianglala Alun-Alun
Malam itu juga kami melakukan unexpected trip. Ini karena anak-anak cowok tiba-tiba ngajakin buat main ke Paralayang. Kami pun dijemput dari alun-alun dan menuju Paralayang. Sungguh, ternyata tempat ini begitu cantik dilihat pada malam hari. Kita bisa melihat Kota Malang pada malam hari dari ketinggian.

Bless my eyes!
Seminar baru dimulai keesokan harinya. Tepatnya hari Selasa, 6 Maret 2018. Paper kami dapat jadwal presentasi hari itu. Sebelum presentasi paralel, ada conference dulu. Yang presentasi itu para expert di bidangnya masing-masing. Apakah aku ngerti? Nggak. Selain ilmunya tinggi, presentasinya juga dalam Bahasa Inggris. Namanya juga internasyenel. Jadi, aku cuman bisa terbengong-bengong.

Presentasi paralel baru dimulai setelah Zuhur. Para pemakalah dibagi ke beberapa ruangan. Dalam ruangan itu ada moderator dan peserta. Di sanalah aku menyaksikan beberapa presentasi dari berbagai disiplin ilmu. Aku kira yang jadi pemakalah itu bakalan mahasiswa semua. Ternyata ada juga dosen yang udah profesor atau doktor yang jadi pemakalah. Kebetulan juga beberapa ada di ruangan itu. Untungnya si Hani habis presentasi nggak ditanyain apa-apa, hehehe.

Mission cleared!
Seminarnya segitu aja. Sisanya? Jalan-jalan! Beberapa tempat di Batu dan Malang yang sempat aku datangi adalah Eco Green Park, Batu Secret Zoo, Batu Town Square, dan Kampung Warna. Sebenarnya pengen ke Batu Night Spectacular. Ngajak si Yoshua juga. Tapi nggak jadi karena Yoshua mager akibat hujan yang turun dari awan stratus. Alesannya, sih.

Perjalananku ke Malang ini termasuk menyenangkan karena di sini aku akhirnya bisa ketemu alpaca! Meskipun alpaca-nya ngga se-pluffy yang aku lihat di foto-foto. Waktu kami datang ke Batu Secret Zoo juga dalam keadaan habis hujan, jadi alpaca-nya kehujanan dan bulunya jadi basah.

Kampung Warna, sampai payungnya pun warna-warna

Foto bareng burung merak di Eco Green Park
Paca-ya, saranghae!
Selama di Malang juga aku ngidam cireng isi. Aku cari di pasar malam dekat Alun-alun nggak dapat. Akhirnya, adeknya Hani yang masih SMP berbaik hati buat beliin cireng isi di kantin sekolahnya. Duh :')

Cireng cinta
Daaaan aku juga nggak nyangka kalo akhirnya aku ketemu sama mutual di Twitter! Awalnya aku ngeposting foto pemandangan di Paralayang. Trus, temanku ini langsung peka kalo aku lagi di Malang. Akhirnya kami pun merencanakan pertemuan di cafe dekat Alun-alun Batu. Mbaknya ini rela jauh-jauh dari Malang ke Batu buat ketemu aku. I'm so touched :') Selama pertemuan, kami banyak ngomongin hal mulai dari kokoreaan sampai quarter life crisis. Makasih udah mau ketemu, ya, Mbak Endah! ^^

uwu
Hampir Nggak Pulang

Di penghujung 2018, aku mendapatkan kesempatan buat mengikuti seminar lagi. Kali ini berkat ibu peri bernama Anistia yang dengan gigihnya mengirimkan tugas paper mata kuliah Hidrologi, yang diampu oleh Bu Hasti, ke beberapa event sampai akhirnya ternyata berjodoh dengan Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya (SNFA) 2018 yang diadakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Kali ini aku nggak nonton aja karena aku yang disuruh presentasi! Nggak disuruh juga sih, ditawarin sama Isti lebih tepatnya, trus akunya mau.

Berhubung ini pertama kalinya aku presentasi, aku ngerasa gugup banget. Aku sempatkan dulu latihan depan Isti H-1 sebelum berangkat. Aku juga sempat latihan dulu malamnya setelah jalan-jalan ke Solo Grand Mall. Bahkan pas seminar sudah berlangsung, ketika pembicara utama memaparkan materinya, aku cuap-cuap pelan memperlancar bicaraku buat presentasi paralel nanti. Saking gugupnya.

Tapi, rasa gugup ini aku atasi dengan membandingkan nasibku sama Isti yang pernah presentasi di hall, pake Bahasa Inggris, dan depan expert. Sedangkan aku masih mending: pengalaman pertama presentasinya di ruangan, ditemani mbak moderator, dan isinya anak-anak esteemkeji semua. Berasa presentasi pas kuliah aja, sih. Alhamdulillah presentasi ini berjalan dengan lancar!

Sebagian dari kami yang ikut meramaikan
Ke Solo ngga afdol kalo nggak jalan-jalan. Aku dan Peni backpackeran dari Selat Solo Mbak Lies, Kebun Binatang Jurug, hingga ke Solo Grand Mall buat makan dan nonton cover dance. Kami juga ngincer Serabi Notosuman yang terkenal dan direkomendasikan oleh banyak orang. Tapi karena kereta kami sore di hari seminar, kami pun nggak sempat buat beli. Kok kami pake kereta sore? Soalnya kami pengen sebisa mungkin nyampe Jakarta hari Minggu pagi karena hari Senin ada ujian. Selain itu juga kami hampir kehabisan tiket kereta. Jadi, kami dapatnya kereta Senja Utama Solo kelas eksekutif sore itu, yang sebenarnya aku syukuri, sih. Hehe.

Yah, mungkin serabinya lain kali aja deh, ya.

Stasiun Solo Balapan

Langsung sarapan di Warung Selat setelah sampai di Solo

Kebun Binatang Jurug
Selain ngga dapat serabi, kami juga hampiiiiiir banget ketinggalan kereta akibat nggak tau peron. Kereta kami nunggu di Peron 6. Di Stasiun Solobalapan, kan, terdapat lima peron pas masuknya. Nah, kami kira Peron 5 itu adalah Peron 6. Jadi kami berdua duduk santai di samping Peron 5, yang masih kosong. Beberapa detik sebelum kereta berangkat, aku dengar pengumuman seperti ini: "Kereta Senja Utama Solo diizinkan berangkat. Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan!"

Barulah aku panik. "Pen, kok kereta kita mau berangkat???"

Peni ikutan panik.

Akhirnya kami bergegas buat bertanya sama petugas kereta. Kami langsung ditunjukkan ke Peron 6. Langsung kami berlari buat masuk ke kereta. Nggak nyampe beberapa detik, kereta pun berangkat. I can't be this luckier! Nggak kebayang gimana jadinya kalo kami bener-bener ketinggalan kereta. Pelajaran juga, sih, biar nggak sok tau, hehe.

Alhamdulillah masih bisa naik kereta
Jadi, apakah aku akan ikut seminar lagi? Liat nanti, ya.

Btw ini aku jadinya cerita seminar apa jalan-jalan, ya?


Dari Malang ke Solo: Dari Peserta ke Pemakalah Dari Malang ke Solo: Dari Peserta ke Pemakalah Reviewed by Audia Azani on Desember 18, 2018 Rating: 5

2 komentar:

  1. huhu aku juga terima kasih banyak dulu hujan-hujan ditungguin, mana aku nggandol anaknya gabisa ngasih rekomendasi tempat ketemuan xD btw keren banget presentasinya udah di hadapan para ahli wow mahasiswa kupu-kupu cant relate!

    BalasHapus
    Balasan
    1. gapapa mbaa, jadi pengalaman berkesan wkwk

      Hapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Diberdayakan oleh Blogger.