Apakah Aku Harus Berhenti Menyukai Kpop?


Selagi masih mengumpulkan kekuatan untuk menyelesaikan skripsi, aku ingin melepas stres dengan curhat lagi. Padahal baru dua hari yang lalu berkontemplasi di sini. Kalau yang kemaren itu aku curhatnya masih seputar kehidupanku secara umum. Kali ini, aku ingin membahas isu yang sensitif. Isu ini sering banget berseliweran di sosmed. Orang-orang yang terlibat dengan hal ini sering mendapat stereotip negatif. Berbagai kalangan, baik dari kalangan orang-orang yang ngaku keren dan classy sampai kalangan gerakan ayo berhijrah, beramai-ramai mengecam para penyuka hal ini. 

Apalagi kalo bukan Kpop, atau Korea secara umum.

Diskriminasi terhadap penyuka Korea ini keliatan banget di Twitter. Misalkan kalo ada isu sosial, trus ada akun dengan ava personel boyben Korea ikutan komen, pasti komennya dikecam. Kenapa? Bukan karena argumennya tidak valid atau gimana, tapi hanya karena ava-nya Korea! Soalnya stereotip kalo penyuka Korea itu masih abg-abg labil penganut oppa is mine itu masih melekat. Kayak, ngapain, sih, dengerin pendapat abg ini? Padahal ibu-ibu wanita karier juga banyak yang pake ava Korea. Tapi karena stereotip itu sudah melekat, jadilah ava Korea yang disalahin. 

Sebagai orang yang memasang ava Korea, aku merasa jadi abg lagi. 

Nggak cuman kalangan masyarakat umum, akun-akun dakwah juga beramai-ramai menyindir para penyuka Korea. Dibilang terlalu fanatik, lah. Oppa-oppa juga nggak bakalan, kok, ngasih syafaat nanti di yaumul akhir. Sampai-sampai ada yang bikin konten, "Jangan nikahi wanita yang menyukai Korea! Ekspektasinya terhadap suaminya tinggi! Mereka maunya sama lelaki yang cakepnya kayak oppa! Bla bla bla..." 

Ya, ya, fans Korea memang manusya yang berlumur dosa. 

Puncaknya itu ketika ada orang yang bilang gini ke aku: 

Can you please grow up and stop fangirling

Kegiatan ngefans sama oppa-oppa ini dianggap sebagai kegiatan yang childish. Sebagai orang yang umurnya menuju seperempat abad, rasanya tidak cocok lagi gitu kalo aku masih histeris liat oppa-oppa. Menurut dia.

Jadi, dengan alasan-alasan tadi, apakah aku harus berhenti menyukai Korea?

Justru makin ke sini aku makin menemukan alasan kenapa aku harus tetap jadi fangirl


Namun, sebelum aku membeberkan alasan-alasan tersebut, aku pengen agak sambat dulu, sih, sama berbagai kalangan yang getol banget mojokin para penyuka Korea. Why must be us? Kenapa yang suka Korea itu rasanya langsung jatuh ke kasta terendah? Kok yang suka western, suka bola, suka tokoh superhero, suka ngegame, atau suka-suka lainnya nggak dinyinyirin segininya? Padahal masing-masing penyuka sesuatu pasti ada sisi fanatiknya juga. Oh, mungkin karena lebih keliatan di sosmed kali, ya. 

Tapi sering banget aku diginiin: orang-orang lebih kagum ketika tau kalo Audi penyuka bola daripada ketika tau kalo Audi penyuka Korea. Padahal, apa yang bisa aku banggakan dari menyukai bola selain saat mendapatkan tanda tangannya Robin van Persie? Baik bola ataupun Korea itu, kan, sama-sama hal yang banyak disukai orang. Ya, harusnya aku suka ini atau itu, ya, biasa aja, dong. Nggak usah terlalu dibesar-besarkan atau dijatuhkan. 

So, kenapa memutuskan untuk tetap jadi fangirl Kpop? 

Yang pastinya aku akan menjawab pertanyaan ini berdasarkan pengalamanku. Hal yang paling krusial tentunya ketika Kpop berhasil membantuku dealing with my stress. Tepatnya waktu awal-awal aku suka Seventeen. Bayangin, dulu nggak ada aku kepikiran buat ketemu psikolog atau gimana. Saat itu juga aku benar-benar merasa sendirian. Tiba-tiba aku dipertemukan dengan Seventeen. And they helped me smile again with their own way.


Sampai saat ini pun masih berlaku. Aku ingat banget ketika aku masih belum bisa accept my reality bahwa aku harus KKN (Baca juga: KKN: Hikmah di Balik Batalnya Umroh). Sehari sebelum berangkat KKN, The B (fandomnya The Boyz) ngadain acara di sebuah cafe di Bekasi untuk merayakan ulang tahunnya Kevin Moon. Aku bela-belain datang sendiri dari Bintaro untuk ikutan acara itu demi melupakan rasa sedihku. Di sana aku disambut dengan ramah oleh orang-orang yang sama-sama ngefans sama The Boyz. Acaranya sekadar makan, bagi-bagi freebies, dan main game, tapi hal itu udah cukup bikin mood-ku lebih baik. 



Aku juga merasa lebih muda gara-gara fangirling. Ini masih ngomongin event ultahnya Kevin. Jadi, di sana aku satu meja dengan teman-teman baru. Maka, berkenalanlah kami semua. Ketika ditanya tahun kelahiran, aku yang kelahiran 9-something ini agak malu, sih. Dan tau nggak mereka kelahiran berapa? 2004! Masih belum lulus SMP! Penyelenggara acara yang dituakan aja kelahiran 99. Wkwk. But, as long as we talk about the same stuffs, age doesn't matter anymore. 

Sama ketika waktu aku ketemu sama Mbak Endah waktu di Malang (Halo mbaaak!). Pertemuan ini pernah aku ceritain di sini. Mbak ini udah kerja dan umurnya juga lebih tua dua tahun dari aku. Sebelum ketemu, kami cuman saling tau lewat Twitter. Biasanya aku kalo ketemu orang baru itu masih malu-malu dan awkward. Eh, sama mbak ini, obrolan itu lancaaaar banget! Bahkan temanku yang liat kami di sana itu ngeliatnya kami kayak teman lama yang udah lama nggak ketemu. Yap, ini gara-gara kami nyambung pas ngomongin Korea. 

Waktu datang ke konser bareng Mbak Endah. Fotonya diambil dari blognya Mba Endah di sini.
Berkumpul bersama sesama fangirl Korea itu ada rasa secure-nya tersendiri. Hal ini aku rasakan ketika dua kali datang ke konser, yaitu Diamond Edge dan Ideal Cut (Konser Seventeen dua-duanya). Meskipun aku datangnya nggak sendirian, tapi ada masanya ketika kami harus berpisah karena beda section. Meski sempat sendirian, nanti pasti ada aja stranger yang nyamperin atau ngajak ngobrol trus nyambung. Waktu konser juga begitu. Ketika nge-fanchant bareng-bareng, my heart feels warmer. Kebersamaan kayak gitu yang bikin aku pengen nonton konser lagi, hehehe. Oh, ya, dan nggak lupa juga kalo Kpop bikin aku bisa nge-blend sama teman-temanku waktu KKN (Selengkapnya baca di sini).

Teman seperkonseran.
Itu adalah manfaat yang aku dapatkan karena fangirling dari segi sosial. Ada lagi dari segi pengembangan diri. Yang paling jelas, sih, jadi termotivasi buat belajar Bahasa Korea (Baca juga: Cara Cepat Menguasai Huruf Hangul). Beberapa kali oppa-oppa men-trigger aku buat belajar hal baru, seperti Joshua yang mengenalkan aku ke puisi akrostik (baca di sini) ataupun Kevin yang bikin aku termotivasi belajar masak (baca di sini). Terlepas dari gimana mereka di balik layar, hal-hal yang ditampakkan oleh idol Korea itu emang baik, lebih karena tuntutan imej, sih. Terutama soal gimana hardworking-nya mereka dari jadi trainee sampai mencapai popularitas, atau gimana mereka meskipun terkenal tapi masih berusaha humble dan berterima kasih kepada para fans. Kan, secara nggak langsung ada hal yang dapat diteladani dari mereka. 

Itulah Bunda pentingnya punya imej baik bagi para public figure

Dari segi musiknya, Kpop is very very very versatile! Ini pandanganku sebagai orang yang awam musik, ya. Biasanya, musik pop suatu negara itu cenderung mengikuti tren yang berkembang, baik gaya musiknya maupun konsepnya. Kpop gitu juga, sih. Namun, musik yang ditawarkan Kpop itu lebih fresh. Kpop itu nggak cuman pop aja, tapi juga bisa mengadaptasi musik funky, EDM, rock, reggae, hingga latin menjadi lebih pop sehingga pendengarnya pun dimanjakan dengan musik yang beraneka ragam. Dari segi performance juga nggak diragukan lagi. Meskipun nyanyi sambil nge-dance sudah ada dari dulu, Kpop-lah yang paling terlihat menonjolkan performance-nya. Menjaga suara tetap stabil sambil nge-dance itu tidak mudah, Ferguso! 

Untuk sisi negatifnya, mungkin boros, hehe. Jenis-jenis pengeluaran apa yang sering menguras kantong fangirl udah pernah aku jabarkan di sini. Terkadang aku sendiri nggak nyadar kalo udah berapa banyak duit yang habis untuk beli printilan-printilan kiyot. Namun, lama-lama semakin disadarkan kalo kebutuhan hidup lebih mendesak. Apalagi setelah harga tiket pesawat domestik meroket gila-gilaan. 

Selain itu, fansnya Kpop emang terkenal halu. Termasuk Audi, sih. Hehe. Banyak orang yang beranggapan kalo penyuka Korea itu pasti tipe-tipe cowoknya itu yang mirip oppa-oppanya. Pasti standar cowoknya jadi ketinggian. Namun, apakah kenyataannya seperti itu?

Aku tegaskan, ya. NGGAK. 

Yang ganteng akan kalah sama yang bikin nyaman. Serius. Peringatan ini juga berlaku buat dirimu para fangirl yang bermimpi besar mau jadi istrinya oppa. Meskipun sekarang kalian masih punya impian begitu, liat aja nanti kalo ketemu sama yang bikin nyaman. ;)

Kpop itu memang salah satu sarana buat escape from reality. Namun, jangan terlalu terlena dengan escape-nya. Realita tetap harus dihadapi. Seperti yang dibilang oleh The8, salah satu member Seventeen. Dia merupakan salah satu idol anti-halu. Dia nggak suka kalo fansnya menganggap dia itu segalanya. Dia menegaskan kalo posisinya itu sebagai entertainer, cuman sekadar menghibur dan memberi dampak positif ke fans.

Percakapan The8 dengan salah seorang fans.
Video di bawah ini juga semakin menegaskan kalo The8 mengatakan bahwa idol-fans itu ada batasannya. 

Intinya, menyukai Kpop itu menyenangkan. Selama aku masih suka, ya aku bakalan tetap suka. Toh, nggak ngerugiin orang juga. Kalo aku kebanyakan spam di sosmed, tombol mute sudah tersedia, kok. Yang bermanfaat diambil, yang tidak bermanfaat sebisa mungkin dihindari. Penyuka Kpop itu sama, kok, kayak yang suka bola, suka superhero, suka anime, dan suka-suka lainnya. Sama-sama suka sesuatu. Jadi nggak perlu disensiin banget. Itu aja, sih.

Apakah Aku Harus Berhenti Menyukai Kpop? Apakah Aku Harus Berhenti Menyukai Kpop? Reviewed by Audi on April 20, 2019 Rating: 5

3 komentar:

  1. HALOOO POSTINGAN INI MENYUARAKAN ISI HATIKU SEKALI >.< sebel kenapa dijudge pingin punya cowok kayak oppa HAHAHAHAHA gini-gini ya masih sadar diri lah hadeh ada-ada aja yang ngatain xD

    ah aku jadi inget ada yang ngetwit begini: minghao keeps drawing a line between seventeen and carats and then there's seungcheol always ready to erase it, xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaaak sebel juga dapat stereotip macam2 padahal kita semua manusya byasaaa :'))

      Hapus
  2. Ini tuh bener bgt kak, aku sebagai kaun fangirl yang udah masuk umur 20an relate banget sama postingan kaka ini huhu.Reason why aku tetap jadi fangirl karena aku pikir ada banyak banget benefit positif yang aku dapat. Meski udah tuir, aku tetap gabisa berhenti jadi fangirl kak. Serah deh kata orang, soalnya suka korea buat aku si sbg tempat buat istirahat dari masalah kehidupan, salah satu solusi penghilang strees ^^

    BalasHapus

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Diberdayakan oleh Blogger.