Yang Aku Rasakan Selama Self-Quarantine

Dibandingkan hujan, aku lebih tidak suka mendung. Ketika hujan terdapat tetesan air yang menjadi gambaran bagaimana alam mengekspresikan dirinya. Mendung ya hanya mendung. Gelap, tapi bukan karena malam. Seakan ada yang disembunyikan. Dan aku seringkali merasa cemas ketika cuaca sedang mendung. 

Pagi ini aku bersyukur karena hujan deras. Oh ya, mungkin tidak semua yang memiliki privilege untuk mensyukuri hujan seperti aku. Setidaknya aku bisa dengan bebas melantunkan "Sunday morning rain is falling~", sedangkan yang di sana harap-harap cemas apakah ada air yang masuk ke rumahnya lagi, entah dari atas atau bawah. Aku hanya bisa berdoa semoga hujan kali ini benar-benar menjadi rahmat untuk semua orang, tidak hanya aku. 

Hari ini tepat seminggu aku mengurung diri di kostan. Jangan keluar, ada virus berbahaya. Kamu tidak tahu apakah kamu akan terkena virusnya atau justru kamu sudah terkena virus tapi kamu belum menyadarinya. Teman-temanku pulang menjumpai keluarga yang dikasihi. Sedangkan aku terlalu takut untuk keluar rumah. Bahkan takut untuk memesan makanan melalui ojek online (syukurlah hal ini kemudian sudah aku lawan dengan memesan mekdi dua hari yang lalu. Aku lebih rindu makan mekdi). Yang aku takutkan juga adalah jika aku tidak sadar bahwa aku dapat menjadi si pembawa virus itu, sedangkan aku tidak punya cukup space yang aman jika berada di rumah. Ketika aku bertanya bagaimana keadaan kampung halamanku, Abah jawab, "Seperti biasa." Dan aku tidak ingin mengacaukan kebiasaan itu. 

Setiap harinya pasien positif bertambah. Yang meninggal dunia juga bertambah. Jumlah yang meninggal lebih banyak dari jumlah yang sembuh. Peralatan medis tidak mumpuni. Vaksin belum ada. Ada juga beberapa kalangan masyarakat yang tidak patuh terhadap imbauan presiden. Bagaimana aku bisa tenang untuk kembali ke rumah? Lebih baik aku mengorbankan waktu mudik dibandingkan harus mengorbankan nyawa orang lain di seberang sana. Itulah yang kemudian membuatku memutuskan untuk bertahan di kostan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. 

Pada awalnya aku mengira bahwa ini akan mudah karena aku memiliki banyak kegiatan yang dapat aku lakukan saat mengurung diri. Ada kalanya aku merindukan waktu ketika nongkrong di kedai kopi favorit, ikut gathering fandom, ataupun pergi ke suatu tempat tanpa tahu harus ngapain. Lama kelamaan aku juga merindukan interaksi dengan teman-temanku. Beberapa aku ajak ngobrol bahkan video call, sesuatu yang jarang aku lakukan sebelumnya. 

Kebiasaan overthinking-ku muncul lagi saat orang-orang serentak mengambil jarak dariku. Aku sebenarnya yakin bahwa mereka tidak bermaksud seperti itu. Mereka semua memiliki hidupnya masing-masing. Aku saja yang saat itu belum bisa memaklumi. Mengapa mereka tidak suka berlama-lama denganku? Mengapa tidak ada yang mengerti bahwa aku memerlukan kehadiran mereka? 

Apakah ini balasan karena selama ini aku selalu take my relationship with people for granted

Kenapa aku tidak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri?

Sebenarnya sudah ada yang memperingatkanku mengenai overthinking-ku ini ketika aku memutuskan untuk self-quarantine. Aku tahu bahwa pikiran-pikiran ini pasti akan datang. Maka, seperti hujan, aku ingin mengekspresikan apa yang aku rasakan melalui tulisan ini. Aku tidak ingin menjadi mendung. 
Yang Aku Rasakan Selama Self-Quarantine Yang Aku Rasakan Selama Self-Quarantine Reviewed by Audi on Maret 22, 2020 Rating: 5

1 komentar:

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Diberdayakan oleh Blogger.