Love Yourself First

Usia 25 tahun masih galau cinta-cintaan?

Why not? XD 

Tapi mungkin galaunya agak naik level dikit, ya. Kalo misalkan waktu sekolah itu galaunya cuman gara-gara ngga dinotis sama gebetan, sekarang galaunya itu udah lebih ke memikirkan apakah kita siap untuk menjalani hubungan romantis dengan komitmen berkelanjutan apa ngga. Yap, udah sekitar satu tahun terakhir ini adaaaaa aja tiap bulan teman-teman seusiaku mengirim undangan pernikahan, ngga temen SMP, temen SMA, bahkan akhir-akhir ini "musim"-nya sudah nyampe di temen-temen kuliahku. Setelah menandatangani surat pernyataan tidak menikah di awal pendidikan, pas lulus akhirnya keinginan itu sudah boleh diwujudkan. Yang sudah siap dan sudah punya calon pun satu persatu melepas masa lajangnya.

Apakah aku tertekan? Selama ngga ada yang maksa, sih, ngga ya. Tapi sejujurnya aku yang mote solo ini (yang ngga tau artinya googling aja, yak!) ingin mengetahui bagaimana rasanya being taken care of. Mungkin karena selama ini aku udah terbiasa merantau sendirian ke kampung orang, trus aku ngerasa bisa hidup mandiri dan nggak terlalu memerlukan siapa-siapa, sampai akhirnya tiba saatnya aku ingin ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang punya pasangan, yaitu tadi: dikasih perhatian. 

So, do I declare myself that I'm lonely? 

Sebenarnya, sih, nggak. Tapi perasaan ini tiba-tiba muncul ketika ada orang yang pengen banget aku curi perhatiannya tapi dianya cuek, padahal kurang perhatian apa coba teman-temanku. Rasa kesepian ini harusnya mudah aja diatasi, yaitu dengan fokus pada perhatian teman-temanku aja. Emang dasar manusia fokusnya ke yang jeleknya aja, ya. 

Asal mula minta diperhatiin itu dari adanya ketertarikan, kemudian the feeling is growing stronger, lalu lama kelamaan jadi berharap lebih. Yes, welcome to the cycle of expectation! Tapi, ya, di sini aku juga nyadar kalau aku harus memperlakukan seseorang sesuai dengan bagaimana aku ingin diperlakukan. 

Pakar cinta dan Pancasila, Aly Ilyas, pernah bilang dalam suatu pertemuan iseng-iseng di Google Meet bahwa cinta itu seperti nyebar hoax: nggak mikir. Pokoknya kalo emang udah cinta sama seseorang, apa aja musti dilakukan. Pokoknya give, give, and give! 

Pernyataan ini didukung sama Hani. Aku pernah menanyakan how worth I am ketika aku ngasih sesuatu kepada seseorang, padahal orangnya belum tentu peduli sama aku. Lalu dia menghiburku seperti ini, "Selama kamu bahagia liat dia bahagia, itu udah cukup. Ngasih itu ikhlas, ngga berharap apa-apa." 

Aku tiba-tiba teringat dengan dua quotes drama yang bertentangan:

Because this is My First Life

Itaewon Class

Pendapat Aly dan Hani tadi mendukung quote yang kedua, yaitu mengenai cinta sebagai perkara mengikhlaskan. Ikhlas memberi. Ikhlas juga kalo ternyata dia tidak punya perasaan yang sama, tapi yang penting bisa melihat dia bahagia. Namun, hal tersebut berbeda dengan quote yang pertama, bahwa jika sudah jatuh cinta dengan seseorang, maka harus ada timbal baliknya juga. Nggak bisa terus-terusan jadi yang ngasih, ngasih, dan ngasih. Harus ada yang nanggepin juga. 

Aku pernah curhat ke salah satu orang paling logis yang aku kenal, Hafiz, mengenai perilaku untuk menanggapi ketertarikan dari sudut pandang cowok. Aku bilang kalo aku pengen banget diperhatiin sama someone specific, kalo bisa ada kejelasan dalam hubungannya. Kemudian aku dicecar dengan pertanyaan seperti ini, "Kalau misalnya dengan tanpa status kamu sudah dikasih perhatian, lalu apa pentingnya status?" 

Aku agak bingung sebenarnya ketika mendapat pertanyaan ini. Berminggu-minggu kemudian, barulah aku mendapatkan pencerahan setelah telponan dengan Anistia. We talked about many things, termasuk perkara ini. Dia juga sependapat sama Aly dan Hani mengenai perilaku orang jatuh cinta yang pokoknya banyak memberi tanpa berharap. Kemudian, entah tercerahkan dari mana, aku bilang begini, "Love itu emang give, tapi kalo udah masuk relationship harus ada give and take." Sampai akhirnya diskusi ini mengarah pada satu hal: love yourself first.

Kalo udah jatuh cinta itu emang susah mengedepankan logika. Makanya sampai ada orang yang rela berada dalam toxic relationship karena saking terlalu sayang dengan pasangannya. Emang bener kalo cinta itu memberi, tapi harus diseleksi juga apakah orang tersebut pantas untuk menerimanya. Ini terdengar egois, tetapi lebih mending daripada menzolimi diri sendiri dengan orang yang menguras emosi dan perasaan. 

Apa pentingnya status? For making sure that we've got the equal give and take. Status ini ngga harus literally pacaran, ya, tetapi juga mengenai apakah hubungan ini bisa dilanjutkan apa nggak. Rugi nggak, sih, misalkan kamu sudah membuat dia spesial tetapi ternyata dianya biasa aja dan memperlakukan orang lain sama dengan kamu? You may disagree karena ini murni preference-ku dalam menentukan boundary, karena ketika dalam perjalanan memperjuangkan seseorang sering banget aku mempertanyakan harga diriku dan merasa insecure, maka mungkin aku sedang zholim dengan diriku sendiri. 

Finally, I decide to stop

Mungkin benar kata orang kalo relationship itu bukan untuk semua orang. Kadang aku terheran-heran ketika melihat orang-orang dengan mudahnya berganti pacar sedangkan hidupku kok gini-gini aja. Cuman mungkin aku diajarkan (lagi) kalo yang pertama-tama harus aku beresin adalah diriku sendiri. Gimana, sih, caranya untuk meningkatkan value pada diri sendiri? Gimana caranya buat jadi emotionally independent? Gimana caranya untuk sibuk dan tidak memikirkan semua ini? 

Maybe I need to hear this:


Jadi, love yourself is not that selfish. Ketika sudah mencintai diri sendiri, mencintai orang lain akan lebih terasa mudah. You can freely give everything to someone you love without questioning your self-worth. The end. 


Love Yourself First Love Yourself First Reviewed by Audi on Juni 29, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Thanks for coming! ^^
Komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu untuk menghindari komentar spam.

Diberdayakan oleh Blogger.